Ratih cukup terkejut karena Shaka keluar dari kamarnya dalam keadaan sudah berpakaian rapi. Pria itu tampak tampan dan segar dengan mengenakan celana panjang bahan berwarna khaki dan sweater berwarna putih. Di mata Ratih, pria itu terlihat sangat tampan dengan rambutnya yang hitam legam, alisnya yang lebat dan hitam. Matanya yang menyorot tajam berhias bulu mata yang panjang dan lentik. Hidungnya juga mancung dengan bibir berwarna merah muda yang bagian atasnya lebih tipis dibandingkan bawahnya.
Ratih terkejut dengan pikirannya sendiri. Kenapa dia tiba-tiba memperhatikan wajah Shaka dengan begitu seksama? Apa ini disebabkan ciuman paksa yang dilakukan pria itu padanya tempo lalu?
Entah kenapa, Ratih juga merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Saat ia melihat rahang pria itu yang berbulu, dia kembali mengingat teksturnya yang agak kasar di wajahnya kala itu. Dan tangan pria itu, tangan itu...
Ratih seketika menggelengkan kepala. Ia mendadak gugup, takut tapi juga merasakan hal aneh di sekujur tubuhnya yang tidak bisa ia jelaskan apa.
Berbeda dengan Ratih yang dilanda gugup, takut dan juga bingung, pria itu terlihat biasa saja dan bahkan mengabaikan Ratih seolah diantara mereka tidak pernah terjadi apa-apa.
Memangnya apa yang Ratih mau? Permintaan maaf? Jelas hal seperti itu tidak akan didapatkan oleh gadis miskin seperti dirinya. Sekalipun dia tidak melakukan kesalahan, tetap harus dia yang meminta maaf. Itulah aturan tak tertulis antara si kaya dan si miskin.
"Tuan Shaka mau sarapan pagi di halaman belakang." Ucap Naraga memberitahu. Ratih hanya mengangguk dan berjalan ke dapur untuk membawakan makanan untuk tuannya.
Halaman belakang yang merupakan tempat dimana tragedi malam itu bermula membuat Ratih terpaksa menelan ludahnya dengan susah payah. Ia meletakkan makanan tepat di depan Shaka dan mengucapkan letak benda-benda yang ada di atas meja seraya mengingatkan dirinya sendiri untuk tetap waspada dan tanggap jika Tuannya itu membutuhkan sesuatu. Setelah menyelesaikan tugasnya, ia kembali berdiri dan mengambil jarak dari Shaka.
"Hari ini putri Tuan Shaka akan datang." Naraga menginformasikan dalam suara lirih di sampingnya.
Terkejut? Ya, tentu saja Ratih terkejut mendengar kalau tuannya itu punya seorang putri. Sedikit sekali informasi yang Ratih tahu tentang pria itu. Bahkan ia tidak tahu status pernikahan Tuannya. Tapi tentu saja, terlepas keadaannya yang buta, di usianya yang sudah matang sudah tentu Shaka sudah menikah.
Lantas, apakah itu berarti istri majikannya juga akan datang hari ini? Tapi pertanyaan itu hanya terbersit dalam hatinya karena dia takut dianggap tak sopan jika bertanya langsung pada tuannya ataupun pada Naraga.
"Selama dia ada disini, kamu harus menjaganya dengan baik." Naraga kembali bicara dan membuyarkan lamunan Ratih.
"Jika sampai dia lecet sedikit saja, aku tidak akan segan menghukummu." Itu adalah ancaman yang keluar dari mulut Shaka sendiri yang membuat Ratih kembali kesulitan menelan ludahnya.
"Sa-saya akan menjaga Nona dengan baik, Tuan." Jawab Ratih yang meskipun dengan sungguh-sungguh dia ucapkan tetap saja membuatnya terbata.
"Dan jangan gagap di hadapannya. Aku tidak mau putriku mengalami kesulitan bicara seperti dirimu." Ucap Shaka lagi yang membuat Ratih kembali meringis, menatap Naraga dengan tatapan 'tolong aku'nya yang sama sekali tak dianggap oleh Naraga.
"Iya Tuan." Jawab Ratih, sebisa mungkin tidak banyak mengeluarkan kata.
Setelah selesai sarapan pagi, Shaka mengurung dirinya di sebuah ruangan yang Ratih tahu merupakan ruang kerjanya. Sementara itu, Ratih diminta untuk membereskan kamar lain yang nantinya akan digunakan oleh putri majikannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Entangled In Your Charms
RomansaRatih yang putus asa meminta bantuan teman lamanya untuk mencarikannya pekerjaan. Dia ingin pekerjaan dengan gaji yang besar meskipun itu membuatnya harus bekerja keluar negeri sebagai seorang pelayan. Namun siapa yang menyangka kalau tanpa sepenge...