Ada yang rindu? Kolom komentarnya sepi soalnya
______________"Bereskan semua barang Shanaya." Perintah Shaka tepat setelah makan siang.
"Papa?" Shanaya memandang ayahnya dengan sorot memelas. Tampak jelas gadis kecil itu enggan berpisah dengan ayahnya. Dugaan Ratih, keengganan gadis kecil itu pasti ada sangkut pautnya dengan cubitan yang dia terima.
"Mama sudah pulang, dan Naya harus kembali sekolah." Ucap ayahnya yang membuat gadis kecil itu tampak berkaca-kaca.
"Naya gak mau pulang. Naya gak mau sekolah. Naya mau sama Papa aja." Ucap gadis kecil itu masih tampak sedih.
"Naya mau jadi anak pintar?" Tanya Shaka yang membuat Ratih berusaha untuk tidak menghela napas tak kentara.
Kenapa 'Menjadi anak pintar' selalu menjadi andalan orang-orang dewasa saat anak merasa enggan untuk sekolah? Kenapa mereka tidak pernah bertanya kenapa anak itu tidak mau sekolah? Anak yang tidak mau pergi ke sekolah bukan berarti dia bodoh atau malas kan? Bisa jadi ada pemicu, ada alasan kenapa mereka enggan untuk pergi. Entah itu karena suasana sekolah yang anak anggap tak menyenangkan atau karena teman sekelas dan gurunya yang mungkin bersikap tidak wajar pada mereka.
Ratih tidak bisa dibilang pintar, tapi juga bukan murid yang bodoh. Dan dia pergi ke sekolah bukan untuk menjadi pintar, melainkan untuk menghindari masalah di dalam rumah. Untuk bisa bermain dan berbincang dengan orang lain. Meskipun tetap pada jam istirahat dia memilih untuk menyendiri tapi setidaknya selama beberapa saat dia bisa menghirup udara bebas selain pekerjaan rumah tangga di rumahnya dan omelan-omelan ibunya.
Dan bisa jadi Shanaya adalah kebalikan dirinya. Enggan bersekolah karena ada masalah di sekolahnya sementara di rumah kondisinya nyaman dan baik-baik saja.
Tapi Ratih hanya memikirkan semua itu dalam kepalanya saja. Dia tidak mau ikut campur urusan Shanaya dan Shaka karena itu bukan ranahnya.
Ratih membereskan semua barang milik Shanaya ke dalam koper besar yang beberapa hari lalu dibawa gadis itu sementara Shanaya sendiri duduk di atas tempat tidur, memeluk lututnya dengan wajah cemberut.
"Kenapa Nona tidak mau pulang?" Tanya Ratih dengan lirih seraya melipat pakaian Shanaya dengan sangat hati-hati.
Gadis itu tidak memberikan jawaban.
"Nona gak punya temen di sekolah?" Tanya Ratih mencoba pendekatan yang lain. Entah kenapa dia masih saja terusik dengan keadaan Shanaya.
"Ada." Jawab Shanaya cepat. "Namanya Hanna. Dia baik, cantik juga." Ucap Shanaya dengan senyum di wajahnya. "Bundanya Hanna juga baik. Suka nganterin Hanna ke sekolah. Suka ngasih aku makanan yang dia bawa." Lanjut gadis itu antusias.
"Hanna pernah main ke rumah Nona? Atau Nona pernah main ke rumah Hanna?"
"Naya mau main ke rumah Hanna. Bunda Hanna juga sering ajakin Naya main ke rumahnya. Tapi Mbak Neti gak bolehin Naya pergi kemana-mana. Naya harus ikut Mbak Neti pergi sama Pak Isal." Ucap Naya dengan wajah cemberut.
"Siapa itu Pak Isal?" Tanya Ratih ingin tahu.
"Pak Isal, yang anterin Naya ke sekolah."
"Supir Nona?" Tanya Ratih lagi dan Shanaya menganggukkan kepala. "Memangnya Mbak Neti ngajakin Nona kemana?"
"Gak tau. Mbak Neti bilang itu rumahnya Mbak Neti. Tapi rumahnya ganti-ganti terus." Ucap Shanaya kesal. Ratih mengernyitkan dahi. Meskipun tidak ingin berpikiran kotor, tapi pikiran Ratih mengarah pada hal-hal yang tidak senonoh.
Ratih tidak mempermasalahkan apa yang dilakukan dua orang dewasa itu, tapi dia menyayangkan tindakan mereka yang membawa serta Shanaya dalam kegiatannya.
Jika memang dugaan Ratih benar kalau Neti dan Isal ini ada main di belakang, lebih baik jika wanita bernama Neti itu menitipkan Shanaya pada temannya yang bernama Hanna itu dan menjemputnya kembali setelah urusan nafsu mereka selesai.
"Apa yang Nona lakukan saat Mbak Neti membawa Nona pergi?" Tanya Ratih ingin tahu.
"Nonton TV. Makan." Jawab Shanaya lirih.
"Apa Mama tahu?" Shanaya menggelengkan kepala.
"Mama pulang ke rumah kalau malam. Kadang Mama pulang waktu Naya udah tidur dan waktu Naya ke sekolah Mama yang masih tidur." Jawab gadis itu lesu.
Ratih menarik napas panjang. Pikirnya kehidupan merana hanya dimiliki orang-orang miskin seperti dirinya. Siapa yang menyangka kalau banyak uang pun tidak menjamin hidupnya bahagia.
"Kakak.." Rengek Shanaya yang kini duduk di hadapan Ratih yang tengah menurunkan buku bacaan Shanaya dari rak. "Naya gak mau pulang. Naya mau sama Papa sama kak Ratih aja." Bisik gadis itu lirih dengan airmata yang mulai menggenang.
Ratih tak bisa melakukan apapun, dia juga tidak bisa menjanjikan apapun. Dia hanya bisa duduk di atas lantai, melipat kaki dan merentangkan tangannya. Memeluk Shanaya dalam pangkuannya dan mengusap lengannya. Berharap gadis itu bisa menjalani masa depan lebih baik dari dirinya.
Minimal, Shanaya memiliki orangtua yang kaya raya yang akan mendukung apapun keinginannya tanpa banyak bertanya meskipun tidak ada cinta atau kasih sayang dari orangtuanya.
Beda halnya dengan dirinya. Sudah miskin, tak mendapat cinta pula. Miris tapi Ratih tak mau mengasihani dirinya sendiri karena dia yakin masa depan masih bisa ia perbaiki.
***
"Ratih.." ucapan Lasma terhenti saat melihat Shanaya yang tertidur di atas pangkuan Ratih.
"Iya?" Ratih mendongakkan kepala. Berusaha bangkit dengan hati-hati dari duduknya untuk membawa Shanaya tidur di atas tempat tidurnya. Kakinya sedikit kesemutan dan Ratih hampir kehilangan keseimbangan. Ia tidak tahu sudah berapa lama dia duduk dalam posisi yang sama dengan memangku tubuh Shanaya yang mungkin beratnya bisa mencapai lima belas hingga dua puluh kilogram.
"Tuan Shaka memintamu untuk berkemas juga. Kita semua akan kembali ke kota." Ucap wanita itu setelah Ratih berhasil membaringkan tubuh Shanaya di tempat tidur. Sebagai jawaban dari informasi yang Lasma berikan, Ratih hanya menganggukkan kepalanya pelan. "Kamu gak bertanya kita akan kembali kemana?" Tanya Lasma ingin tahu.
"Apa itu akan membuat perbedaan?" Ratih balik bertanya. Lasma menunjukkan senyumnya.
"Kurasa kau sudah mulai beradaptasi dengan kondisimu saat ini." Komentar wanita itu yang hanya Ratih tanggapi dengan datar.
"Hanya ini yang bisa kulakukan untuk membuat diriku baik-baik saja dan tetap waras." Ucap Ratih kembali menuju rak buku dan melanjutkan kegiatannya membereskan barang Shanaya.
Ya. Ratih tidak peduli kemana dia akan dibawa atau dimana dia akan tinggal. Selama dirinya tidak dibuang dipinggir jalan dan tidak terlunta-lunta dalam keadaan telanjang, baginya tidak masalah.
Lapar mungkin dia masih bisa menahannya. Tanpa perlu mengemis dia bisa saja bekerja entah bagaimanapun caranya. Tapi terlunta-lunta tanpa pakaian? Ratih tak bisa membayangkannya.
Memang tidak ada pelacur yang terhormat. Semahal apapun pakaiannya atau secantik apapun tampilannya, sekali penjual diri maka tetap menjadi penjual diri. Tapi minimal, meskipun kini dia menjadi pelacur untuk Shaka, dia ingin tetap bisa menutupi dirinya dari aib. Minimal dia tidak menjadi bahan tertawaan atau bahan belas kasihan orang lain.
__________________
Jangan lupa ⭐ nya ya

KAMU SEDANG MEMBACA
Entangled In Your Charms
RomanceRatih yang putus asa meminta bantuan teman lamanya untuk mencarikannya pekerjaan. Dia ingin pekerjaan dengan gaji yang besar meskipun itu membuatnya harus bekerja keluar negeri sebagai seorang pelayan. Namun siapa yang menyangka kalau tanpa sepenge...