Bonjour, Paris!

1.6K 131 15
                                        


Sorry for typos!

****

Seperti janji mereka, cinta itu ga hanya sekedar ucapan belaka. Mingyu jadi apapun yang Wonwoo butuhkan ketika mereka ada di masa persiapan untuk perginya Wonwoo ke Prancis. Dukungan moral sampe tenaga ga pernah absen untuk Wonwoo dari mulai site visit ke Paris yang ditemani langsung sama Mingyu meskipun cowok itu udah menghabiskan waktu ke luar kota karena urusan pekerjaan. Ketika Wonwoo ngerasa down karena pengajuan portofolio, budget, dan preferensi ke pihak sana itu bikin gugup, Mingyu ada di sisinya ngasih dukungan moral.

Ga usah ditanya soal berkas-berkas biar Wonwoo bisa netap di sana selama kurang lebih setahun yang bikin dia tambah gugup kalo semisal ga lancar. Juga, tentu tentang kesiapan mereka berdua untuk pisah sementara yang berat banget ketika hari makin maju ke tanggal yang ditentukan.

Tapi mereka berdua salah. Semua itu ga ada apa-apanya ketika Wonwoo udah ada di Paris. Komunikasi yang mereka bicarain itu susah buat terus dilakuin. Wonwoo super sibuk, dan Mingyu juga ga kalah sibuk di Indonesia. Perbedaan waktu juga jadi faktor besar. Ga jarang salah satu mereka ngeliat yang satunya tidur di video call. Seokmin yang udah khatam sama yang namanya LDR juga ikut apresiasi karena mereka bisa survive sampe saat ini.

Wonwoo orangnya mau membuktikan ke Mingyu soal dirinya yang 'kuat' pisah sama suaminya itu. Ga ada drama nangis di telepon secara tiba-tiba yang pernah terjadi sebelumnya, ga ada rengekan agar Mingyu pergi ke Paris detik itu juga, ya walaupun tetep aja ga mengurangi rasa rindu yang terpancar di matanya. Ngga ada drama, tapi Wonwoo beneran jatuh sakit dan dia ga bisa kontrol itu.

Awalnya Mingyu ga tau karena emang itu intensinya Wonwoo, biar Mingyu ga khawatir berlebihan apalagi dengan pekerjaannya di Indonesia yang juga bejibun. Cuma ya entah feeling mereka udah kuat satu sama lain atau gimana. Mingyu yang niatnya bikin surprise ke Wonwoo, malah dia yang kaget karena sesampainya di Paris dia nemu kabar kalo Wonwoo lagi ada di rumah sakit. Habis. Satu kata untuk Wonwoo saat itu.

"Aku tuh suami kamu atau bukan sih, Wonwoo?" tanya Mingyu pada saat itu. Wonwoo, nama depannya yang dipanggil. Wonwoo yang saat itu udah mulai baikan jadi pengen sakit lagi karena ngerasa takut. "Udah ngerasa ga butuh aku lagi? Sampe-sampe ga ngabarin aku kalo kamu masuk rumah sakit?"

"Butuh, Gyu, banget. Jangan gitu ih ngomongnya!" Wonwoo sampe sedikit mencicit dan memelas pada suaminya.

"Aku marah karena aku takut. Ngerasa ga becus jadi suami kamu. Takut kamu tuh kenapa-napa. Gimana kalo sakitnya parah? Tetep ga akan ngomong? Takut aku bawa pulang? Jangan-jangan selama ini kamu bilang kamu sehat tuh nyatanya bohong juga? Kalo bakal kaya gini terus, kamu ikut pulang sama aku besok." Mingyu bicara dengan nada tanpa bantahan.

Nadanya tegas dan hampir membentak, cuma kayanya emang ditahan sama suaminya karena dia lagi sakit. Wonwoo deja vu dengan kejadian di bulan madu pertama mereka ke Italia, ketika Mingyu memarahinya sebab dia hilang tanpa jejak. Konteksnya beda, tapi suasananya sayangnya sama. Wonwoo ga bisa dibentak, tapi dia cukup bisa berpikir jernih soal ini. Walaupun dia ngerasa bersalah yang teramat karena memposisikan Mingyu di perasaan yang suaminya itu sebutin.

Dia mengaku salah, menenangkan suaminya, mengaku salah lagi, menyesali apa yang udah dia lakukan, dan membujuknya lewat kata-kata. Di sana rampung dengan cukup cepat masalah mereka soal Wonwoo yang berbohong secara ga langsung soal keadaannya di negeri orang. Maka Mingyu kembali ke mode lembutnya, diusapnya rambut itu, dikecupnya setiap inci wajah Wonwoo, bahkan minta maaf karena marahin dia yang lagi sakit. 

"Maafin aku, maaf, beneran maaf. Maksudnya bukan pengen kamu jadi ngerasa kaya gitu, Mingyu!" Di ranjang pasien saat itu Wonwoo mencoba menggapai tangan Mingyu yang acuh tak acuh kepadanya namun di matanya terpancarkan rasa khawatir dan sedikit amarah.

sweet nothing; minwon story pt.2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang