Awas typo bertebaran!
****
Setelah mengetahui hal tersebut, atmosfer di antara mereka berubah jadi campur aduk antara rapuh dan ketidaknyamanan. Namun pada akhirnya mereka meraskan ikatan yang mendalam dari sebelumnya. Bagi Mingyu, dia terkejut bukan main ketika tau tentang kehamilan Wonwoo yang kemudian berubah jadi emosi yang meluap antara haru, bahagia, dan...sedih.
Ada sedikit khawatir, ada sedikit rasa protektif, dan ga bisa dipungkiri bahwa dia juga sedikit merasa sakit hati karena dirasa Wonwoo tidak percaya padanya untuk ngasih tau dia kabar ini lebih cepat. Wonwoo bisa liat semua ekspresi itu di mata Mingyu yang kini orangnya lagi menidurkan kepalanya di pangkuan Wonwoo, dengan tangan melingkar sekitar pinggang, dan wajahnya bertemu dengan perutnya Wonwoo.
"Beneran tanya serius, kenapa ga ngasih tau?" tanya Mingyu pelan. Wonwoo meringis karena dia jarang mendengar nada Mingyu yang kaya gini. "Aku bisa ada di sini sama kamu kalo kamu ngomong lebih awal."
"Ya itu, Gyu, aku nyari waktu yang pas biar semuanya bisa kamu handle. Kalo aku kasih tau kamu waktu itu, kamu ga akan bisa ngurusin urusan kamu sama kantor yang mana juga jadi tanggung jawab kamu."
"Ugh, you know what? Persetan soal kerja!" erang Mingyu. Dia ga marah, tapi mungkin kesel. Wonwoo ngasih dia tatapan mata yang ga biasa.
"I mean. Kerja ga ada apa-apanya dibanding kamu dan sekarang anak kita. Do you really think anything is more important than that?" tanya Mingyu dan dia sudah bangkit dari posisinya, kini duduk serius menghadap Wonwoo. Itu berhasil bikin Wonwoo ngerjap.
"Ga sesimple itu, Mingyu!" ucap Wonwoo defensif dan nadanya sedikit naik.
"Do you know how hard it's been for me here? Balancing everything? Aku ga mau bikin urusan kamu, kita, tambah kacau ketika di sini juga pikiran aku muter out of control."
"That's exactly why you should have told me, Wonwoo!" jawab Mingyu, dan kentara gimana cowok itu nyoba untuk nahan emosinya dengan nada suara yang lembut tertahan.
"Aku bisa loh ada di sini. Buat kamu. Buat kita. Tapi apa? Seperti biasa, kamu milih buat handle semua ini sendiri."
Wonwoo di sisi lain menunduk. Dengan hormon yang ga bisa dibendung, dengan dia lemah kalo masalahnya udah sampe bikin Mingyu ngucap nama lengkapnya, dan gimana Mingyu ga ngerti sama apa yang dia rasain. Sekarang matanya berkaca-kaca. Dia menghela nafasnya.
"I wasn't ready, okay?" ungkap Wonwoo, suaranya bergetar.
"To have this baby?" tanya Mingyu sangat pelan dan lirih. Wonwoo otomatis dongak dan matanya yang merah itu sekarang menatap mata sayu suaminya.
"No!" tegas Wonwoo. "Aku ga siap ngehadepin reaksi kamu. Aku ga siap dengan kamu yang bakal ajak aku pulang ke Indonesia when I've worked so hard to get here, Mingyu."
Mingyu menghela nafasnya. tapi rahangnya masih tegang ketika dia lagi ngeproses ucapan Wonwoo. "You're right!"
"Aku mau kamu pulang. Emang bener sesuai dugaan kamu, if I had my way, you'd already be on a flight back, where I can take care of you properly."
Wonwoo membeku, perutnya serasa berputar. Dia berekspektasi kalo Mingyu bakal lebih marah dari ini ketika dia ngungkapin itu. Tapi dengan cara suaminya mengucapkan semua itu dengan santai dan mudahnya malah bikin dia lebih ga terima.
"Ga bisa!" ujarnya tegas. "This work, this project, semua penting buat aku. Kamu tau sendiri gimana susah payahnya aku ngerencanain semua ini, kan?"
"And none of that matters more than you or the baby," jawab Mingyu.
KAMU SEDANG MEMBACA
sweet nothing; minwon story pt.2
Fiksi PenggemarThis is just a bunch of sweet and salt of Mingyu and Wonwoo after the story of 'twin fire signs, four blind eyes'. aka. Gimana kehidupan pasangan Hadinata setelah melalui terjang badai dari kehidupan dan masa lalu? **** WARNING! BXB, MPREG, TOOTH-RO...
