CHAPTER 1 - MOVED

121 8 0
                                        

Sebuah mobil baru saja tiba di depan sebuah vila tua yang sangat besar. Bangunan yang sudah berdiri puluhan tahun itu masih terlihat tetap kokoh dan indah. Hanya saja terlihat sedikit kusam dan menyeramkan karena tidak terawatt sejak 3 tahun ditinggalkan.

"Akhirnya kita sampai. Ayo, anak-anak turun dan jangan lupa bawa barang-barang kalian.", ucap sang kepala keluarga.

"Ibu yakin kita akan tinggal di sini?", tanya seorang pemuda yang tengah melahap es krim mintchoconya.

"Iya, Sunoo. Ibu dan ayah juga kebetulan ada urusan di sekitar sini."

"Tapi vila ini terlihat menyeramkan, bu. Aku takut.", Sunoo menatap ibunya.

"Tsk, jangan manja. Aku saja yang lebih muda darimu tidak takut. Dasar kakak penakut!", ejek Niki yang merupakan adik bungsunya.

"Sekali lagi kau mengataiku, akau kusumpal mulutmu dengan es krim mintchocoku!", terjadilah aksi kejar mengejar antara Sunoo dan Niki. Ibunya yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.

"Sunoo, Niki! Jangan berlari!", peringat Heesung sang kakak tertua.

"Memiliki adik yang tidak tahu diri itu memang menyebalkan. Bukannya membantu membawa barang, malah langsung bermain kejar-kejaran. Mana tidak mengajak pula.", seorang pemuda dengan kulit putih dan tahi lalat di dekat matanya itu tengah mendumel.

"Daripada kau terus mendumel tidak jelas, bantu aku membawa ini ke lantai 2, Sunghoon.", sahut Jay yang kini tanganya penuh dengan barang bawaan. Padahal itu adalah barang Sunoo dan Niki.

"Biar kubantu, kak.", tawar Jake yang ada di belakangnya.

"Terima kasih, Jake.", Jay kemudian menyerahkan sebagian barangnya kepada Jake.

"Ngomong-ngomong di mana Jungwon?", Heesung menghampiri ketiga adiknya yang masih ada di ruang tamu.

"Sepertinya dia masih tertidur di mobil.", jawab Sunghoon kemudian menyusul Jay dan Jake ke lantai 2. Sedangkan Heesung berjalan ke luar untuk memeriksa adiknya itu. Dan benar saja, ternyata Jungwon masih menutup matanya di dalam mobil sambil memeluk boneka kucing permberiannya tahun lalu.

"Jungwon. Ayo bangun, tidur saja di kamar.", Heesung mengguncang pelan tubuh adiknya itu.

"Hm? Kak Heesung? Udah sampai?", tanya Jungwon sambil merenggangkan tubuhnya.

"Iya, ayo masuk. Di sini dingin."

"Bentar, kak. Ngumpulin nyawa dulu."

"Yaudah, sini kakak gendong aja. Ayo, naik ke punggung kakak.", Heesung berjongkok di depan Jungwon. Tanpa menolak Jungwon langsung menjatuhkan tubuhnya ke punggung lebar Heesung.

.

.

.

Setelah seharian kemarin mereka sekeluarga bebersih dan menata semua barang bawaan mereka. Kini mereka tengah bersantai di ruang keluarga. Dengan perapian di sudut ruangan sebagai penghangat udara.

"Ayah dan ibu ada urusan apa memangnya?", tanya Sunoo sambil memakan ciki di tangannya.

"Euh... kami berdua ingin mengunjungi teman lama saja di sini. Sekaligus ayahmu ada sedikit pekerjaan di sini. Mungkin nanti sore kami akan berangkat.", jawab sang ibu.

"Ayah, kenapa kakek membeli vila terpencil di sektar hutan seperti ini?", jujur saja Jake penasaran sejak mobil mereka memasuki kawasan hutan.

"Hanya ingin saja. Lagipula udaranya sangat sejuk di sini, dan juga sangat tenang. Kakekmu sangat menyukai suasana seperti ini."

Helaan nafas yang keluar dari mulut Niki membuat mereka menoleh pada si bungsu.

"Kau kenapa?", Sunghoon menaikkan sebelah alisnya menatap Niki yang tengah berguling-guling di atas karpet bulu seperti sosis panggang berada dalam oven.

"Bosan! Di sini tidak ada sinyal, atau elektronik apapun selain TV!", Niki berdecak kesal. Sebenarnya dia bukan pecandu game. Hanya saja, dia bosan karena tidak bisa melakukan apapun sekarang. Biasanya Niki akan pergi ke rumah temannya dan bermain di sana. Entah itu berolahraga, mempelajari gerakan dance baru, atau apapun selama itu bergerak. Dia tidak akan bosan. Niki memang anak yang over hiperaktif tidak bisa diam.

Sedangkan sekarang, dia harus terjebak dalam kebosanan ini selama sebulan penuh. Jika bertanya mengapa tidak mengajak kakak-kakaknya, jawabannya sudah pasti mereka menolak. Karena semua kakaknya tidak terlalu suka banyak gerak. Selama bisa menyimpan tenaga, kenapa harus mengeluarkan tenaga?

Heesung mengurungkan niatnya untuk berkomentar Ketika mendengar suara ketukan pintu dari luar. Ayah dan ibu saling menatap satu sama lain.

"Tetangga mana yang mau bertamu di vila tengah hutan seperti ini?", Jay menatap heran ke arah pintu.

"Biar ayah yang buka."

Sudah 10 menit sejak ayahnya membuka pintu tapi tidak kujung kembali. Membuat Jay heran, saat hendak menyusul, sang ibu melarangnya. Dan Jay kembali duduk.

"Ibu saja yang menyusul ayahmu. Mungkin ini ada kaitannya dengan urusan kantor ayahmu.".

Kedua orang tuanya Kembali setelah 20 menit berlalu. Anehnya setelah selesai menyambut tamu, ayah dan ibu langsung naik ke lantai 2 dengan tergesa-gesa. Tidak lama kemudian mereka turun dengan pakaian yang sudah rapi.

"Heesung, ayah dan ibu ada urusan yang sangat mendesak. Kami akan Kembali dalam 3 hari. Tolong jaga adik-adikmu.", pesan sang ayah. Kemudian dia memeluk anaknya satu-persatu.

"Kalian harus saling menjaga satu sama lain selama kami tidak ada. Mengerti?"

"Iya, bu. Berhati-hatilah kalian berdua.", kata Heesung sambil melambaikan tangannya.

"Mereka terlihat aneh, atau hanya perasaanku saja?", tanya Sunghoon pada Jake yang asyik bermain ponselnya.

"Perasaanmu saja."

.

.

.

Semua kakaknya sibuk dengan urusannya masing-masing. Walaupun mereka berkumpul di ruang tamu sambil menunggu makan malam. Entah sudah berapa kali Niki menghela nafas karena bosan. Heesung sibuk dengan laptopnya. Kakak tertuanya itu tengah sibuk menyelesaikan tugas kampusnya. Walaupun libur, tugas dari dosen tetap saja tidak libur. Itu kata Heesung.

Jay sibuk dengan bahan makanan di dapur, karena tugas masak-memasak ada di tangannya selagi ibunya pergi. Kakak ketiganya, Jake sibuk dengan buku yang ditangannya. Ternyata di vila ini terdapat perpustakaan kecil di lantai 1 dekat garasi. Sunghoon sibuk dengan acara menontonnya. Kakaknya itu kini sibuk menonton olahraga skiting.

Sedangakn kakak kembarnya, Sunoo dan Jungwon juga Niki kini mengalami kebosanan yang amat sangat. Karena bingung harus melakukan apa, selagi menunggu masakan Jay selesai.

"Ke kamar aja deh, Kak Jake. Nanti kalau Kak Jay sudah selesai masak tolong panggilin ya.", minta Niki. Jake hanya berdehem sebagai jawaban.

"Ikut!", Sunoo beranjak mengikuti adiknya itu. Melihat kakak kembarnya naik, Jungwon pun ikut naik.

Mereka bertiga berkumpul di kamar Niki dan hanya berguling si kasur besar itu. Sama halnya dengan kakak kembarnya itu, mereka berdua hanya tidur telentang sambil menatap plafon kamar Niki. Dengan Jungwon yang memeluk boneka puma milik Niki.

"Huft... Di sini sangat membosankan!", kata Niki dengan kaki dan tangan yang meninju udara.

"Bagaimana jika kita berkeliling saja untuk melihat-lihat.", usul Jungwon.

"ide yang bagus. Ayo,kak!", Niki segera menarik kedua tangan kakak kembarnya itu bangkit darikasurnya.

🦌🦅🐕🐧🦊🐈‍⬛🐥
To be continue....

THE SEVEN SONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang