CHAPTER 2 - 3rd FLOOR

69 7 4
                                        

Villa peninggalan sang kakek tersebut sebenarnya ada 3 lantai, namun lantai 3 itu sudah tidak terpakai dan hanya dijadikan ruang serba guna saja, untuk menyimpan semua barang koleksi peninggalan sang kakek.

Entah kenapa Jungwon merasa penasaran untuk naik ke lantai 3 daripada menjelajahi tempat lainnya. Tangannya mulai membuka pintu itu, diikuti Sunoo dan Niki yang ada di belakangnya. Baru saja mereka membuka pintu, debu halus sudah masuk ke hidung Sunoo, membuatnya gatal dan bersin.

Mereka bertiga berpencar ke arah yang berbeda, menyusuri setiap sudut ruangan yang luas itu. Namun keadaan ruangan tersebut sangat gelap, tanpa adanya penerangan membuat mereka harus meraba-raba. Jungwon berhasil menemukan saklar di ujung ruangan dekat sebuah rak. Dan menekan salah satu saklar di ruangan itu. Namun tidak bekerja.

Akhirnya dia berinisiatif untuk membuat penerangan menggunakan cahaya api. Jungwon sangat paham bahwa di villa ini memiliki fasilitas yang terbatas, termasuk listrik dan perabotan elektronik lainnya.

Lagipula Villa ini sudah lama tidak dirawat. Jadi wajar saja bila kabel saklarnya tidak bekerja. Tangannya menarik tempat lilin yang menempel di tembok karena berniat untuk menyalakan lilin.

KRIEETT...

Mereka terkejut, karena tiba-tiba kaca besar yang ada di ruangan itu bergeser. Dapat mereka lihat ada sebuah ruangan di balik kaca itu. Mereka bertiga saling menatap.

"Kita masuk?", tanya Niki.

"Haruskah? Ruangan itu terlihat menakutkan.", tolak Sunoo yang berjalan mendekat ke arah Jungwon.

"Tapi aku penasaran.", Jungwon hanya menghela nafas melihat Niki yang mulai merengek. Keingintahuan Niki terhadap sesuatu itu sangat kuat dan sulit untuk mengubah prinsip itu.

"Baiklah, ayo kita masuk.", Jungwon berjalan mendahului.

"Jungwon! Tunggu jangan tinggalkan aku!", Sunoo sedikit berlari mengejar kembarannya itu. Dengan Niki yang melompat senang dan ikut masuk ke dalam.

Ternyata ruangan itu tidak terlalu berdebu dan seperti ruang kerja pada umumnya. Dimana ada sebuah meja, kursi dan lemari besar yang berisikan banyak buku. Hanya saja, banyak benda aneh yang tersimpan di balik lemari kaca. Entah apa kegunaannya, mereka juga tidak paham.

"Aku menemukan peta!", Niki yang berkeliling mengitari meja tiba-tiba menemukan sebuah peta usang.

"Aku juga menemukan peti kecil.", sedangkan Jungwon menemukan sebuah peti kecil yang terkunci saat membuka rak meja.

"Apakah peta ini adalah jalan untuk menemukan kunci peti itu?", Sunoo menyimpulkan setelah melihat isi peta yang Niki temukan.

"Bisa jadi. Kalau begitu, kita ikuti saja peta ini.", kata Niki sangat antusias. Ini seperti berpetulang mencari harta karun.

"Jangan gila, Niki. Ini sudah malam. Jika kau ingin baku hantam dengan Kak Heeseung dan Kak Jay, aku persilahkan. Lagipula, memangnya kau paham dengan letak peta ini?", Niki hanya menggaruk pipinya yang tidak gatal setelah mendengar penuturan Jungwon.

Pemuda itu tidak cukup gila untuk keluar dari villa ini tanpa ijin dari kakak-kakaknya. Ditambah hari sudah malam dan mereka baru satu hari di sini. Sama sekali tidak mengenal betul tempat ini.

"Huh? Bukannya ini peta villa ini ya?"

"Kak Sunoo tau dari mana?", tanya Niki.

"Jika dilihat gambarnya, bukankah ini villanya? Lalu ini di bagian selatan ada greenhouse, ada taman belakang dan sisi baratnya ada kolam renang? Perhatikan baik-baik, bukankah ini seperti denah villa ini? Tata letaknya sama.", jelas Sunoo.

THE SEVEN SONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang