Keesokan harinya Niki, Sunoo dan Jungwon sedang berada di greenhouse. Awalnya hanya ada Sunoo di sana, karena pemuda bermata sipit itu sedang menyiram tanaman yang ada di villa sang kakek agar tidak mati. Namun saat Jungwon bangun dan melihat kakaknya ada di sana dia menghampirinya dan ikut membantu Sunoo. Sedangkan Niki hanya ikut saja, karena merasa bosan.
Sebenarnya Niki ingin kembali ke tempat itu, tapi peta yang kemarin terjatuh entah di mana. Kegiatan Jungwon berhenti saat melihat adiknya tengah melamun.
"Hei, Niki. Apa yang kau pikirkan?", tanya Jungwon berjalan ke arah Niki.
Niki pun menceritakan apa yang terjadi kemarin, semuanya tanpa terkecuali. Setelah mendengar cerita Niki, Jungwon melirik ke arah kakak kelimanya untuk memastikan kebenarannya.
"Kenapa kau menatap Kak Sunoo seperti itu? Jangan bilang kau tidak percaya padaku juga, kak?!", tanya Niki tidak terima.
"Apa yang bocah itu katakan benar, Jungwon. Aku ada di sana kemarin. Karena kegilaan dia, hampir saja kami tidak bisa pulang ke sini.", sindir Sunoo sambil melirik tajam ke arah Niki yang kini tengah menunduk dengan mengusap tengkuknya.
"Tapi kak, aku masih sangat penasaran. Dan aku merasa harus menemukan kunci itu untuk membuka peti itu, kak. Kita harus ke sana lagi.", ajak Niki pada Sunoo.
"Ya, dan bertemu babi hutan raksasa itu lagi? Tidak terima kasih, Niki. Aku masih ingin hidup.", kata Sunoo berjalan melalui Niki. Namun dengan segera Niki menahan tangan kakaknya itu.
Sedangkan Jungwon hanya menyimak apa yang dua saudaranya ini bicarakan. Peti? Kunci? Babi hutan? Jungwon jadi ikut penasaran dengan semuanya itu.
Niki terus merengek dan mengajak Sunoo untuk kembali ke sana. Awalnya Sunoo ingin menolak dengan keras, tapi dirinya juga terkejut saat mendengar Jungwon yang juga memaksanya untuk kembali lagi. Ditambah dengan dirinya juga ikut.
"Kau jangan ikut-ikutan, Jungwon! Kau tidak tau seberapa bahayanya tempat itu!", Sunoo mulai frustasi menghadapi kedua adiknya itu.
Memang diantara mereka bertujuh Niki dan Jungwon memiliki rasa penasaran dan jiwa petualang yang tinggi dibandingkan saudaranya yang lain. Sunoo merasa kalah 2 lawan 1. Pada akhirnya dia terpaksa menyetujui untuk kembali ke tempat mengerikan itu.
.
.
.
Berkat otak Sunoo yang cepat mengingat sesuatu, kini mereka sudah sampai di bibir gua.
"Beruntungnya aku memiliki kakak yang cerdas dan memiliki daya ingat yang tinggi sepertimu.", puji Niki pada Sunoo. Yang dipuji pun hanya mendengus kesal. Hanya saat seperti ini saja Niki memujinya, menyebalkan.
Pandangan ketiga pemuda itu menatap ragu ke arah bibir gua yang ada di depan mereka. Mereka bertiga terlihat ragu untuk masuk. Mereka bertiga menatap satu sama lain untuk saling meyakinkan, hingga akhirnya Jungwon yang maju paling depan diikuti kedua saudaranya di belakang.
Setelah mereka keluar dari gua itu mereka cukup terkejut karena hari masih siang tidak seperti kemarin masih malam.
"Eh? Kenapa langitnya cerah? Tidak gelap seperti kemarin?", tanya Niki dengan pandangan yang mengadah ke langit.
"Mungkin karena kita juga masuk ke dalam gua ini di siang hari?", kata Jungwon menggidikan bahunya. Kemudian berjalan ke depan. Jika diperhatikan lebih detail lagi, semua tanaman dan pohon di sini berbentuk aneh. Tidak seperti tanaman di hutan pada umumnya.
Mereka bertiga menyusuri hutan itu cukup jauh. Langkah mereka berhenti di sebuah pohon yang ukurannya lebih besar dibandingkan dengan pohon lainnya. Dan terdapat sebuah rumah pohon di atas sana. Tanpa membuang waktu, Niki menaiki rumah pohon itu melalui tangga kecil yang tersedia di sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE SEVEN SON
AdventureLiburan tahun ini membawa kenangan yang tidak akan pernah terlupakan bagi ketujuh pemuda yang saling berbagi hubungan darah itu. Jujur saja, tidak pernah terpikirkan dalam mimpi. Bahwa mereka bertujuh akan mengalami petualangan ke tempat yang dinama...
