2. Pertemuan

4K 376 26
                                        

Setelah mengetahui keadaan Jeffran yang sudah melewati masa kritisnya, keluarga Aksena memilih untuk menunda mengunjungi makan Langit mengingat keadaan Jeffran yang tak baik-baik saja, Jevano memutuskan untuk pulang ke rumah, dirinya ada kelas siang ini dan terpaksa ia pulang mengganti baju dan mengambil motor.

Sedangkan yang lainnya tetap berada di rumah sakit menemani Jeffran yang belum membuka matanya sejak ditemukan tergeletak dikamar.

"Jangan kebut-kebutan ya mas, hati-hati" pesan Dona ketika putra ketiganya itu pamit untuk pergi ke kampus, semenjak kehilangan Langit Dona selalu menjadi was-was.

"Ya ma, mas pamit kalau papa udah sadar kabari mas" jawab Jevano mencium punggung tangan Dona, sebelum benar pergi ia menoleh kearah Jeffran yang tertidur dengan damai, ia tatap lengan kiri ayahnya yang terbalut kain kasa.

Jevano pulang naik taksi, ia hanya diam saja didalam taksi pandangannya kosong kearah jalanan yang sangat ramai, ia tak pernah menyangka jika hidup keluarganya hancur hilang arah, Jevano sakit ketika melihat ayahnya yang selalu nekat untuk mencoba bunuh diri.

Jevano tahu ikhlas itu tak segampang membalikan telapak tangan, contohnya mereka belum mampu untuk ikhlas, padahal jika dihitung dengan waktu hari ini tepat satu tahun mengenang kepergian sang adik, tapi waktu bukan menjadi tolak ukur untuk mereka bisa menerima, bagi mereka kehilangan Langit sama saja seperti jiwa mereka juga ikut terkubur dengan jasad Langit.

Tak terasa taksi yang Jevano tumpang sudah berhenti didepan gerbang yang menjulang tinggi, gerbang rumah milik keluarga Jeffran dan Dona, pak satpam membukakan pintu gerbang ketika melihat salah satu anak majikanya berdiri didepan gerbang, semenjak kepergian Langit, Dona menyewa asisten rumah tangga, satpam dan supir bahkan tukang kebun pun ada, Dona tak sanggup lagi mengurus rumah, biasanya teriakan Langit menggema mengisi rumah besar ini tapi sekarang hanya tangisan dan kesunyian yang mengisi ruang mewah dan megah ini.

Jevano menaikan satu persatu anak tangga, lama Jevano berdiri didepan kamar Langit, kamar itu masih terbuka karena memang mereka pergi terburu-buru dan lupa menutup pintu, darah dikamar Langit belum dibersihkan.

"Kamu lihat dek... Papa sekarang sakit" lirih Jevano menatap foto Langit yang berada didinding kamar.

"Mas kangen sama adek... Ternyata hidup tanpa adek berat" Jevano sudah meneteskan air matanya, ia hanya diam, menikmati kesunyian rumah.

Jevano buru-buru keluar kamar, waktunya untuk pergi ke kampus tinggal setengah jam lagi, sebelum ia memasuki kamar, Jevano melihat bibi  Aras yang baru saja selesai membersihkan ruangan kosong yang ada dilantai tiga, itu ruangan lukis Reynand, kakak kembarnya meminta ruang lukis dipindahkan, remaja itu tak mau lagi memasuki ruangan lukis lamanya, karena ruangan itu mengingatkan dirinya tentang Langit, dan berakhirlah ruangan lukis pindah dilantai 3.

"Bi jangan lupa bersihkan darah papa yang ada dikamar Langit"

"Baik Den Jevano" jawab bibi Aras memasuki kamar Langit.

****
Bintang mulai gelisah duduk dibangku taman, langit sudah berubah warna menjadi warna jingga diujung barat, tapi Sabrina dan Jonathan tak kunjung kembali, Bintang mulai tak tenang, ia tak tahu jalan pulang, ia tak tahu harus ke mana.

Bintang mulai terisak dibangkunya, ia takut sendirian, rasanya Bintang menyesal mengikuti kata Sabrina yang selalu saja membohongi dirinya.

"Tante dimana? Bintang takut" lirihnya dengan tubuh yang bergetar, bagaimana tidak, Bintang tak pernah merasakan situasi seperti ini sebelumnya, selama ini Bintang itu hanya takut dengan Sabrina yang marah dan mengurung dirinya jika ia berbuat salah, Bintang mengingat apa hari ini ia berbuat salah sampai Sabrina meninggalkan dirinya ditaman sendirinya? Bintang ingat jika pagi tadi Sabrina marah karena ia yang tak mau belajar lagi bersama Miss Ana. "Tante jangan tinggalkan Bintang, Bintang janji nggak akan nakal lagi" isaknya yang begitu lirih.

BINTANG AKSENA (End) ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang