Selamat Membaca
Hector menarik tubuh Yuna kedalam pelukannya, pria matang itu menepuk pelan punggung Yuna seolah-olah tengah menenangkan Yuna yang bersedih malam ini.
"Biasanya, kamu yang membiarkan ku menangis Yuna." gumam Hector, pria itu tertawa kecil seakan tahu bahwa Yuna tidak menangis, gadis itu hanya tengah meluapkan rasa lelahnya.
Setelah beberapa menit berlalu, Yuna mendorong tubuh Hector yang tengah duduk di sebelahnya dengan lembut, sudut bibir Yuna terangkat.
"Maaf telah membeberkan semua perasaan mu kepada anak dan cucu mu," kata Yuna dengan suara lirih serta serak.
Hector berpangku kaki, kini pria itu menatap Yuna dari profil sampingnya yang terlihat mempesona serta memikat Hector hingga sejauh ini. "Harusnya aku yang menjelaskan semua, namun ternyata aku hanya seorang pria tua yang pengecut." Hector menimpali perkataan Yuna dengan menghela nafas panjang.
Yuna menolehkan wajahnya menatap Hector dengan tatapan mata yang tidak dapat Hector baca atau artikan, bibir Pink pucat dan pecah-pecah itu tampak lebih bengkak dari pada biasanya yang Hector lihat.
"King mencium mu?" Ibu jari Hector mengusap bibir bawah Yuna dengan lembut sembari tersenyum kecil.
Alih-alih menjawab, Yuna menyenderkan kepalanya pada bahu kiri Hector.
"Apakah ada kabar terbaru dari kasus Laurent?" tanya Yuna sembari memainkan jari tangan yang berada di pangkuannya.
Hector mengecup pucuk kepala Yuna sebelum menjawab, "Terlalu licin, terimakasih sudah mau bertanya." Hector merangkul Yuna sembari mengusap bahu Yuna.
"Kamu tidak ingin kembali ke rumah mu?" tanya Hector kepada Yuna, tak heran jika Hector menyelidiki semua tentang Yuna, bahkan Hector tahu alasan mengapa gadis yang tengah menyenderkan kepala di bahunya saat ini memilih menjadi selingkuhannya.
"Aku butuh waktu, ku harap kamu dapat mengerti, Hector." jawab Yuna dengan nada lirih.
Nafasnya kian teratur, hal itu membuat Hector kembali mengusap kepala Yuna dengan penuh kasih sayang.
"Apapun alasannya, aku akan tetap membuat mu menjadi milik ku." di tengah dinginnya malam, Hector mengklaim bahwa Yuna adalah miliknya, satu-satunya hanya pria itu yang boleh berdiri sejajar dengan Yuna.
Mansion — setibanya George di mansion, pria itu berjalan dengan tergesa-gesa ke dalam kamarnya meninggalkan Lapoéz yang tengah berusaha menyusul dirinya.
Prang!
Guci antik seharga ratusan juta menjadi sasaran pelampiasan George, "Kamu tak seharusnya merasa bersalah sialan! Bajingan!" gumam George yang ditujukan untuk Hector, kedua bahunya bergetar akibat tertawa, namun sedetik kemudian pria itu menangis.
Lapoéz memilih untuk menunggu di ruang keluarga, wanita itu membiarkan sang suami melepaskan amarahnya.
George menatap potret keluarganya yang tergantung pada tembok kamarnya, disana sosok Laurent yang anggun dan lembut tersenyum dengan menggenggam telapak tangan Hector.
Dulu mereka adalah keluarga yang sempurna, penuh kasih sayang dan penuh cinta. Namun, George tahu, pria itu sangat tahu bahwa Hector tidak pernah mencintai Laurent.
Pria tua itu hanya berpura-pura mencintai Laurent, tidak ada pandangan memuja, tidak ada sorot cinta dan obsesi di kedua manik mata Hector.
Sangat! Sangat berbeda ketika Hector memandang Yuna, gadis kecil itu ternyata berhasil meluluhkan hati Hector tanpa Yuna sadari.
Karena sebab itulah pergerakan George terbatas, pria itu tidak bisa menyentuh Yuna ketika rasa bencinya telah menggerogoti hatinya.
"Sampah!" prang! George melempar potret keluarganya dengan cangkir hingga kacanya retak serta cangkir itu pecah berkeping-keping di atas marmer yang dingin.
Lapoéz menolehkan kepalanya menatap jam dinding, ternyata sudah sangat malam, kedua manik matanya meredup dan tanpa sadar wanita itu tertidur di sofa ruang keluarga.
Apakah semuanya akan kembali seperti semula?
Kamar rawat — Gayatrih yang tengah tertidur memimpikan suatu hal tentang kehidupan pertamanya.
"Ibu, aku dapat nilai tinggi di kelas." anak kecil yang manis itu berusaha memecah fokus sang ibu dari pekerjaannya, namun sepertinya ibunya itu lebih mementingkan pekerjaan dibanding hasil memuaskan Gayatrih.
Derap langkah membuat Gayatrih menolehkan kepalanya menatap sosok pria paruh baya yang tengah melangkahkan kakinya menuruni tangga.
"Ayah, lihat nilai Ratih." ujar Ratih dengan penuh semangat, senyumannya mengembang berharap di puji oleh sang ayah.
Marteen, pria itu melirik sekilas hasil anak sulungnya. Lalu berdecih sinis, "Itu hanya pelajaran seni budaya, apa yang kamu banggakan dari pelajaran tidak penting itu?" hardik Marteen sembari mengambil kertas jawaban Ratih, tanpa belas kasih, Marteen mengoyak kertas itu hingga menjadi sobekan kecil.
Netra Ratih berkaca-kaca, genangan air mata muncul ketika rasa sakit sebab tidak di hargai menyusup ke dalam hatinya, bagaimana bisa kedua orang tuanya tidak berbangga dengan hasil Ratih? Padahal ia telah berusaha, berusaha untuk menjadi seperti Nawang Wulan, adiknya.
Nalan yang cantik, lembut dan selalu di banggakan oleh kedua orang tuanya. Ratih ingin, barang sekali saja ia ingin merasakan hangatnya sebuah pelukan.
Ia ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi anak yang selalu dibanggakan oleh kedua orang tuanya.
'Semua anak bisa dibanggakan oleh kedua orang tuanya, tapi mengapa khusus aku tidak?'
-Gayatrih-
IG: knndly__
KAMU SEDANG MEMBACA
Bertransmigrasi Menjadi Selingkuhan Kakek Kaya [End] (Only On wattpad)
Fantasía[Status: End] Kehidupan ku tidak pernah sesial ini, sudah berpindah dimensi, berpindah raga serta memerankan seorang wanita berumur 20 tahun yang memilih menjadi selingkuhan sang kakek kaya. Aku sungguh ingin menangis frustasi, apalagi dengan godaan...
![Bertransmigrasi Menjadi Selingkuhan Kakek Kaya [End] (Only On wattpad)](https://img.wattpad.com/cover/378495886-64-k490938.jpg)