Masih di gedung berbau obat, sudah lebih dari 24 jam namun Nadi masih belum sadar membuat semua orang masih merasa tidak tenang, mereka semua bergantian menjaga Nadi di rumah sakit dan tidak meninggalkan nya barang sebentar saja terutama Dika dia menjadi sangat protektif.
Tidak ada tanda-tanda bahwa papa nya akan muncul seperti yang di infokan oleh Yaksa yang selalu memantau dari jauh, tapi perasaan tidak tenang tidak menghilang dari benak nya.
"Nadi, bangun jangan lama-lama tidurnya. Gua kangen adek gua yang apa-apa manggil abang. Kamu tau ngga sebahagia apa waktu tau kamu mau kuliah di sini juga, terus tinggal di rumah itu juga? Tapi pas datang Abang malah lihat kamu yang berbeda dari yang Abang kenal sebelumnya...." Dika duduk di samping ranjang Nadi sambil menatap wajah tenang yang lebih muda yang masih enggan membuka mata.
-✿-
Sementara dilain tempat...
"Ingat anak itu harus mati! Kalau tidak kamu akan menerima akibatnya" seseorang memberi perintah kepada orang di hadapannya.
"Baik..."
-✿-
Semua berjalan seperti seharusnya kecuali laki-laki yang terbaring di ranjang pesakitan tersebut dengan seseorang yang menunggunya di samping ranjang menatap wajah tenang yang sedang menutup mata, tangannya mengusap kepala Nadi dengan perlahan turun menuju ke alat bantu napasnya.
"Katanya ini belum boleh dilepas kalau belum sadar?"
"Lu mau ngapain?" Seseorang tiba-tiba saja muncul.
"Ga ada, cuma mau ngusap kepala Nadi, karena lu udah di sini gua pergi ya. Oh iya jagain Nadi jangan kecolongan"
"?"
-✿-
Matahari sudah menyembunyikan dirinya, serta bulan sudah menampakkan diri dan di dalam sebuah ruangan terdapat seseorang yang sedang menatap langit-langit ruang rawat. Ruangan nya sunyi, bahkan langkah kaki orang lalu di lorong pun tak terdengar.
Setelah cukup lama menatap langit-langit ia pun mendudukan dirinya perlahan. Karena suara dari atas ranjang Dika pun terbangun dari rehat sejenak nya di sofa ruangan itu.
"Nadi?"
Namun yang di panggil tidak menyahut, masih duduk diam sambil menundukkan kepalanya.
"Kenapa aku masih disini? Nadi mau ikut bunda...." Ucap Nadi lirih namun masih terdengar oleh Dika.
"Kalau kamu ikut bunda, Abang sama siapa?"
Mendengar balasan tersebut Nadi mengarahkan pandangan nya pada sumber suara, menatap kosong namun sendu. Mereka berdua bertatapan sembari Dika mendekat perlahan supaya Nadi tidak panik dengan keberadaannya.
"Berhenti..." Menyadari Dika yang mendekat Nadi mulai merasa tidak nyaman dan berucap lirih.
Karena seruan itu Dika pun berhenti, tidak ingin memaksa kan diri supaya kondisi tetap stabil.
"Nadi, terima kasih sudah bertahan, maafin Abang ninggalin kamu dengan kondisi seperti itu"
Mendengar itu Nadi menggelengkan kepalanya berusaha menenangkan dirinya sendiri. Dika bisa melihat Nadi berusaha tenang supaya tidak memperburuk kondisinya dan Dika sedikit lega, namun masih khawatir.
"Dia berusaha sendiri lagi"
"Lu boleh nangis Nad, jangan di tahan, bahkan marah kalau bisa, jangan pendam perasaan kamu lagi cukup 4 tahun ini aja kamu diam, jangan lagi ya?"
Perlahan suara isak keluar dari mulut Nadi, dan cairan bening mulai keluar sedikit demi sedikit, Dika pun mendekat dan memeluk sang adik lembut, berharap ini bisa menenangkan Nadi.
"Dia jahat...hiks..Dia tembak Bunda.. Bunda..Bun--"
"Sssttt, iya dia jahat, papanya bang Kara jahat, maaf ya.."
"Bang Kara..." Nadi terus menangis meluapkan semua perasaannya di pelukan yang lebih tua, sambil menepuk punggung Nadi, Dika mengatakan beberapa kata penenang dengan mata berkaca-kaca.
Adikku sudah sangat menderita. Itu pikir Dika.
Setelah cukup lama menangis akhirnya Nadi kelelahan dan tertidur, Dika membenarkan posisi tidur Nadi dan menyelimuti nya.
Sambil memperhatikan Nadi dari samping, banyak pikiran yang tiba-tiba menghampiri kepalanya, melihat adiknya tersiksa seperti ini membuat Dika benar-benar membenci sang Ayah.
-✿-
"Bang Yaksa!!"
Baru saja tiba di rumah sakit seseorang memanggilnya dan menarik lengan nya keluar rumah sakit.
"Eh eh eh, pelan-pelan woy!"
Setelah sampai di jalan setapak lengang tidak jauh dari rumah sakit akhirnya mereka mulai berjalan pelan.
Yaksa yang terkejut karena di tarik tiba-tiba itupun menghentikan langkahnya.
"Eh bocah, mau lu apa sih? Baru sampe udh di ajak lari aja gua"
Yang ditanya hanya diam menatap kaki nya sendiri, terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu namun kesulitan.
"Duduk disana, gua yakin lu ga sembarangan narik kalau ga ada yang mau di omongin" Yaksa pun menarik anak itu untuk duduk di bangku terdekat.
"Gua mau bunuh Nadi....."
"..."
Yaksa masih mencerna ucapan orang disebelah nya, sambil memandangi orang itu yang sepertinya belum selesai berbicara.
"Tadi malam... tapi gajadi" sambil mengucapkan 4 kata itu orang tersebut menatap Yaksa dengan tatapan minta tolong(?)
"Maksud lu apa Aga?" Ya.. orang itu adalah Aga.
"Seharusnya masker oksigen nya gua tarik semalem, soalnya Nadi tadi malam masih harus pakai itu karena napasnya masih pelan banget"
"Dan kenapa ga dilepas? Biar gua bisa bunuh lu ba-"
"Perintah Ayah lu bang"
Yaksa terdiam, benar dugaannya ayahnya masih hidup dengan niat yang sama. Yaitu menghabisi Nadi bagaimanapun caranya.
"Jadi?"
"Reaksi lu tenang juga ternyata haha"
"Karena entah kenapa gua seyakin itu lu ga akan nekat ngelakuin itu" jawab Yaksa santai.
"Bener, oke gua gamau ribet bang, kayaknya ayah lu harus mendekam di penjara lagi"
"Punya bukti kuat kan lu Ga? Gua ga akan tahan lu untuk itu" Yaksa berdiri sambil menepuk pundak Aga dan pergi meninggalkan teman serumah Adiknya itu.
"Serahkan pada Aga 😁"
-✿-✿-✿-
TBC
Aku mengaku salah 🙏🏻
Minta maaf diatas materai 🙏🏻
Madek berbulan-bulan 😭
Pendek lagi 😭
Semoga masih ada yang baca yaa 😭🥰
Eh apa tuh? Cover baru ya? 🤭🤭🤭
Gimana cover baru nya cocok gaaa???
Thank you and don't forget to vote and comment 💕
.
.
.
.
.
.
.
TXT mau CB aku baru muncul lagi 😭
Mana tadi malem yg rilis short preview nya "Bird of night - TAEHYUN" lagi 🫠🫠🫠
KAMU SEDANG MEMBACA
IGNOSCE (Tahap Revisi)
Fan-Fiction"Maaf" Tentang dendam seseorang. Dan target yang tidak tau kejadian yang sebenarnya. Kode-kode aneh mulai bermunculan setelah 1 tahun membuat mereka berlima saling mencurigai satu sama lain. Dapatkah mereka mengungkap siapa si pengirim kode dan mena...
