24. Nadi Danudara

65 5 0
                                        

Seminggu setelah kejadian Nadi terjun dari balkon kamar nya ke kolam renang di halaman belakang, rumah itu ramai namun sunyi, masing-masing kepala hanya melakukan kegiatannya masing-masing.

Nadi penyebabnya hari itu yaitu sehari setelah keluar dari rumah sakit tiba-tiba berteriak seperti orang kesakitan di kamar nya sendiri, mendengar itu semua orang termasuk Ardan yang baru tiba untuk mengecek kondisi mereka berlima pun langsung menghampiri kamar Nadi.

Dan terlihat Nadi yang jatuh Terduduk di samping kasur dengan wajah ketakutan melihat sekitar.

"Trauma nya kambuh sepertinya" suara Ardan yang berpendapat itu di angguki oleh semuanya, setelah Nadi tertidur yang lain berkumpul di ruang tengah.

"Bang, Nadi kamarnya di pindahin aja ya? kita gatau dia bakal kayak tadi lagi atau engga, tapi kamar yang ada balkon langsung keluar kayak gitu bahaya, amit-amit dia jatuh lagi karena panik atau segala macem nya terus kita ga dengar" seru Aga berpendapat.

"Gua juga setuju tuker aja sama kamar gua, walau aslinya males naik turun tangga tapi lebih baik begitu dari pada Nadi kenapa-kenapa, kamar gua juga di tengah jadi kalau dia teriak atau ada apa-apa salah satu dari bang Dika atau Aga kemungkinan ada yang dengar terus langsung nyamperin Nadi"

Di saat semua meminta persetujuan Dika, dirinya malah menatap Ardan yang santai. Ardan yang merasa diperhatikan pun membalas tatapan Dika.

"Gausah lihat-lihat gitu, lakuin aja yang kamu mau, kira-kira bagi kamu Nadi bakal lebih nyaman mana atau yang menurut kamu lebih baik"

Setelah memikirkan dengan baik akhirnya seperti ide Gyan dan Aga bahwa Nadi dan Gyan akan bertukar kamar untuk keamanan Nadi.

-✿-

Nadi jadi sedikit sensitif terhadap suara-suara yang terdengar oleh rungu nya. Namun empat orang lain nya sangat sabar menghadapi nya.

Tidak ada yang berteriak antar kamar ataupun bermain di kolam belakang.

Nadi mulai merasa rumah ini tidak terasa seperti biasanya terlalu sunyi, akhirnya ia pun memberanikan diri keluar kamar, seperti dugaannya tidak ada seorang pun di ruang tengah atau pun di dapur.

Kalau tidak salah mengingat semua orang kecuali dirinya dan Dika sedang keluar melakukan kegiatannya masing-masing.

"Bang Dika dirumah?"

Memberanikan diri berjalan ke halaman belakang, tempat yang tidak pernah dirinya lihat lagi nyaris 2 minggu setelah kejadian itu.

Nadi melihat pintu gudang terbuka dan ada sedikit cahaya lampu dari dalam, mengintip dari bibir pintu Nadi melihat Dika sedang merapikan barang gudang yang terlihat hampir tersusun rapih sebagian.

"Bang Dika beresin gudang? Buat apa?"

-✿-

Merasa ada yang memperhatikan dari jarak jauh Aga buru-buru menghabiskan kopi nya dan berjalan menuju parkiran, namun saat tiba di parkiran ia melihat Yaksa duduk di atas motor nya.

Berjalan mendekat dengan wajah bingung sambil melihat sekitar nya dengan waspada, dan tingkah waspada Aga pun tak luput dari pandangan Yaksa.

"Ada yang di cari Ga?"

"Itu bang, gua ngerasa diperhatiin dari jauh tapi belum ketahuan siapa"

"Oh, ga salah lagi suruhan sana ga sih?" Ucap Yaksa sambil mengangkat kedua alis nya.

"Bisa jad- eh loh bang mau kemana?" Karena tidak fokus Aga tersadar bahwa Yaksa sudah beranjak dari motor nya.

"Gua cuma mau ngecek lu masih hidup apa engga hahaha, hati-hati broo"

"Dih alah, traktir kek udah mempertaruhkan nyawa nih" jawab Aga sewot namun bercanda.

"Sini ikut"

"😁"

-✿-

Dika merasakan kehadiran seseorang di pintu gudang dan melihat Nadi yang berdiam diri disana.

"Kenapa berdiri disitu? Masuk sini"

Dengan tenang Dika mengajak Nadi masuk dan berhasil. Nadi akhirnya menginjakkan kakinya kedalam gudang.

Sembari melihat sekeliling masih banyak barang-barang lama yang tersusun rapi dan terlihat masih bisa digunakan, ada 2 sepeda anak, skuter, beberapa lemari berisikan album foto lama yang salah satu album nya sedang dipegang oleh Dika.

Sambil tersenyum Dika mengajak Nadi melihat album tersebut sembari duduk di karpet kecil yang sudah di bersihkan terlebih dahulu.

Nadi terpaku dengan foto-foto yang ada di album tersebut, ia melihat wanita cantik yang tersenyum seperti malaikat yang dikira nya akan selalu melindungi dirinya selamanya.

Dika menyadari Nadi yang tidak mengalihkan pandangan nya dari foto-foto itupun ikut terdiam.

-✿-

"Dikara nanti kalau udah besar Tante titip Nadi ya?" ucap wanita dihadapannya yang sedang menggendong batita lucu bernama Nadi.

"Kenapa Dika?" Tanya Dika kecil yang masih berumur 6 tahun sambil menatap Nadi kecil

"Kamu kan Abangnya walau Nadi udah punya bang Zaidan,kamu sebagai saudara sepupu juga bisa jagain adeknya ya?"

"Siap ante, Dika akan jagain adek selamanya" ucap Dika dengan polosnya.

-✿-

Semua kenangan indah di masa lalu berputar bagai film, kenangan yang tak bisa di ulangi kembali.

"Kangen bunda"

"Abang juga kangen" sahut Dika.

"Bunda bahagia kan?" Tanya Nadi.

"Pasti" balas Dika singkat, lalu mereka berdua kembali terdiam.

-✿-

Di lain tempat....

"Akhirnya kelar, durhaka ga ya gua?"

"Tumben lu mikir bang"

"Anj-"

-✿-✿-✿-

TBC

Another up 🥰

Kangen Abang ga sih?
Aku kangen dia 🥺

Kangen Abang ga sih?Aku kangen dia 🥺

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Don't forget to vote and comment 😍

IGNOSCE (Tahap Revisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang