Lemon
Dinginnya malam di pedesaan ternyata tak mampu menyejukkan kehangatan keluarga Pak Eko. Di rumah sederhana itu, tawa dan canda begitu menggema, dipenuhi celotehan khas Icung dan Satya yang tak ada habisnya, menambah warna pada suasana keluarga yang harmonis.Di luar, kabut malam kian menebal, membuat udara semakin menusuk. Naka yang tak biasa dengan hawa desa menggigil kedinginan. Melihat itu, Pak Eko memberi isyarat halus kepada anaknya untuk mengambilkan selimut bagi tamu istimewa ini. Tiba-tiba, Naka merasakan tepukan lembut di pundaknya. Saat ia menoleh, di hadapannya berdiri Janu, putra kedua Pak Eko, dengan senyum manis dan lesung pipinya yang menawan.
"Janu, anak kedua Pak Eko," sapanya, mengulurkan tangan dengan ramah.
"Naka," jawab Naka, menyambut jabatan tangan Janu. Keakraban itu langsung terasa meski baru pertama kali bertemu.
Pak Eko kemudian menjelaskan dengan bangga, “Nah, Mas Naka ini anaknya majikan bapak di kota."
Di ruang tamu, mereka duduk lesehan, menikmati ubi bakar hangat yang tersaji di atas tikar. Keakraban semakin terasa, seolah tak ada jarak di antara mereka. Yunita, istri Pak Eko, tiba-tiba berceloteh sambil terkekeh, "Iri deh aku sama majikan bapak di kota, dapet anak submisif cantik kaya Naka, anak kita semua dominan! Enak kali ya kalau punya anak submisif, bisa disuruh bantu-bantu."
Naka hanya tersenyum menanggapi, tak merasa tersinggung sama sekali. Bahkan, ia tampak menikmati suasana hangat yang jarang ia rasakan.
Di sela-sela kehangatan itu, Satya bertanya dengan nada penasaran, "Pak, Mas Naka tidurnya di mana? Di rumah ini kan cuma ada tiga kamar." Pak Eko tampak bingung, berpikir keras mencari solusi yang nyaman. Namun sebelum Pak Eko menemukan jawabannya, Satya langsung menyahut, "Gimana kalau Mas Naka tidur sama aku, Icung tidur di teras aja."
Icung langsung protes, "Yang bener aja! Kenapa aku yang di teras? Mending Mas ni aja yang tidur di teras!"
Pertengkaran kecil itu malah membuat suasana semakin ramai. Yunita hanya menghela napas, tersenyum melihat anak-anaknya yang tak pernah akur namun penuh kasih. Karena tak kunjung ada solusi, akhirnya Pak Eko bertanya kepada Naka, "Jadi gimana, Mas Naka, enaknya tidur di mana?"
Naka pun tersenyum dan menjawab santai, “Gimana kalau gantian aja, Pak? Hari ini sama Mas Tata, besok sama Mas Janu, lusa sama Mas Satya, terakhir sama Icung.”
Sontak Yunita terkekeh mendengar usulan itu. Namun ia berujar setengah bercanda, “Mas Naka nggak takut kalau anak-anak Ibu aneh-aneh nanti?”
Dengan senyum lebar, Naka menjawab, “Kalau begitu, tinggal saya tendang aja, Bu.” Jawaban itu membuat seisi ruangan tertawa lepas, bahkan Yunita berseru, "Duh, boleh juga ya! Ibu jadi pengen kamu jadi menantu Ibu."
Menjelang akhir malam, Yunita menepuk bahu Naka sambil berpesan, “Oh iya, Mas Naka, besok pagi bangun ya, temenin Ibu beli sayur di pasar.”
Pak Eko yang mendengar langsung melotot. “Lho, kok mas Naka diajak ke pasar, Bu?”
Dengan senyum penuh makna, Yunita segera memotong, “Kenapa? Kan nggak papa, toh Mas Naka nggak keberatan, kan?”
Naka pun mengangguk sopan, “Nggak masalah, Bu. Siapa tahu sekalian kenal lebih banyak orang di sini.”
Jawaban itu membuat Yunita tersenyum puas. Malam itu, Naka merasa seperti menemukan keluarga baru di tengah pedesaan yang dingin, namun penuh kehangatan.
****
Saat ini, Naka berada di kamar bersama Mas Tata dan Mas Janu. Di sudut ruangan yang diterangi cahaya temaram, ia memperhatikan Mas Janu yang sibuk mempersiapkan materi pelajaran. “Mas Tata, kenapa Mas Janu masih belajar? Bukankah dia sudah jadi guru privat?” tanyanya heran.
Tata, yang berbaring di samping Naka, tersenyum kecil. “Janu memang sudah jadi guru privat, tapi dia perlu menyiapkan materi lebih awal. Dia nggak cuma ngajar anak SD, tapi juga sampai SMA dan SMK.” Naka mengangguk, mengerti, meski matanya sesekali tetap mencuri pandang pada wajah tampan Tata yang tampak lebih bersinar di bawah cahaya remang.
Menyadari tatapan Naka yang intens, Tata mengangkat alis. “Eh, ada apa sama wajah Mas?” tanya Tata, menggodanya. Naka tersipu, pipinya merona seperti tomat matang, namun tersamarkan oleh cahaya temaram. “Eh, enggak, Mas… nggak ada apa-apa,” jawabnya cepat sambil memalingkan wajah.
Tiba-tiba, Naka bertanya lagi, mencoba mengalihkan perhatian. “Kalau Mas Tata, kerjanya apa?”
Tata tersenyum hangat. “Mas cuma petani biasa, kayak warga desa lainnya. Si Satya juga bantuin Mas di sawah. Kalau Icung, dia masih sekolah, kecuali Janu, dia lulusan S1 Matematika dan sering diminta ngajar pelajaran lain juga.”
Tak lama, Janu selesai dengan urusannya dan ikut berbaring di sebelah mereka, menjadikan Naka tidur di antara kedua kakak beradik ini. Melihat keakraban di antara mereka, Naka merasa nyaman. “Mas Janu capek?” tanyanya perhatian, membuat Janu tersenyum lembut.
“Capek sih, tapi namanya juga pekerjaan, ya harus dijalani,” jawab Janu sambil mengusap matanya yang mulai mengantuk. Rasa kantuk juga perlahan merayapi Naka, dan tanpa sadar, ia mulai memejamkan mata, tenggelam dalam kenyamanan di antara kedua kakak beradik yang menghangatkan hatinya.
****
Pagi yang dingin tak menyurutkan semangat Naka untuk mengikuti Ibu Yunita ke pasar desa. Di sana, ia merasa kagum melihat keramahan penduduk desa yang tampaknya saling mengenal. Di tengah hiruk-pikuk pasar tradisional, ia memerhatikan setiap sapa dan tawa hangat yang dipertukarkan. 'Kenapa ya, orang desa bisa saling kenal semua?' pikirnya, merasa terkesan dengan kedekatan mereka.
Saat Ibu Yunita berhenti di lapak sayur, dua wanita datang menghampiri dengan wajah sumringah.
"Eh, Yu, anakmu wes duwe calon belum?" sapa salah satu dari mereka, mengenakan daster lusuh tapi penuh keakraban.
“Mugo wae, Yu… Eh, neng Laras piye kabare, Nduk?” balas Yunita ramah.
Laras, gadis muda yang berdiri di sebelah ibunya, tersenyum malu-malu. “Alhamdulillah, Bude. Itu pacare Mas Tata, ya?” tanyanya, sambil melirik Naka dengan pandangan penuh selidik.
Yunita hanya tersenyum misterius, menghindari menjawab langsung. Laras tampak kurang puas, tapi tersenyum dan saat Yunita melihat bahan belanja sudah semu pamit pulang. “Yu, tak duluan, ya. Keburu dicari Bojoku,” ucapnya sebelum berlalu bersama ibunya.
Naka memperhatikan tatapan Laras yang seakan tidak suka kepadanya. Namun, ia hanya mengabaikannya, tidak ingin mengacaukan pagi yang menyenangkan ini.
“Buk, itu tadi ibunya Laras siapa?” tanya Naka penasaran.
“Oh, itu Bu Yanti. Keluarga mereka paling kaya di desa, makanya banyak yang segan sama mereka. Apalagi Laras itu… kalau ingin sesuatu, harus diturutin. Makanya, Ibu dari awal nggak begitu suka kalau dia deket-deket Tata.”
Naka mengangguk, memahami sedikit latar belakang Laras yang tampaknya terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya. “Buk, Mas Tata kerja di sawah siapa?” tanyanya lagi.
“Ya, sawah keluarga Bu Yanti itu. Makanya si Laras suka nyari-nyari perhatian ke Tata. Tapi ya… Ibu sih nggak begitu pengin punya menantu modelan kayak dia.”
*****
Sedikit ulasan(Kalau di sini Yu itu semacam panggilan kepada kakak perempuan, kurang lebih seperti itu)
Bersambung

KAMU SEDANG MEMBACA
Lemon
Fiksi PenggemarNaka kabur dari rumah dan menginap di kediaman Pak Eko, supir keluarga. Namun, di sana ia terjebak dalam jaring cinta rumit dengan anak-anak Pak Eko yang tampan. Ditulis: Minggu, 27 Oktober 2024 Selesai:-