Lemon
Makan siang di rumah keluarga Pak Eko memberikan kehangatan yang berbeda bagi Naka. Meskipun hanya dengan hidangan sederhana, suasana di meja makan itu begitu hidup. Setiap pertanyaan mengalir dari anggota keluarga, dijawab seadanya oleh Naka, namun tetap membuat percakapan terasa akrab.
"Mas Naka masih sekolah atau sudah kerja?" Bu Tika membuka percakapan, nada suaranya penuh penasaran. "Soalnya wajahmu kayak seumuran sama Icung," lanjutnya sambil tersenyum tipis.
"Saya kelas tiga SMA, Bu. Kalau Icung kelas berapa?" tanya Naka sambil mencoba bersikap sopan. Mendengar itu, ekspresi Tika berubah sedikit kesal.
"Jangan panggil Tante. Di sini semua panggil 'Ibuk', ya?" Tika melanjutkan, "Icung seumuran sama kamu, tapi dia SMK. Katanya nggak mau lanjut kuliah." Ibu itu menggeleng pelan, seperti menahan kekecewaan yang telah lama terpendam.
"Memangnya di sini nggak ada kampus, Buk?" Naka bertanya hati-hati, dan Tika langsung menggeleng.
"Di sini kebanyakan cuma lulusan SMP atau SMA. Jarak ke universitas itu jauh, Mas. Dua jam naik motor, belum lagi biaya ini-itu. Jadi, kebanyakan ya langsung jadi petani." Tika menjelaskan dengan nada getir. "Ladang masih luas di sini, hasil panen bisa jadi simpanan pangan atau dijual ke kota. Kalau di sini dijual murah."
Naka menyadari betapa beruntungnya hidup di kota, dengan segala fasilitas yang tersedia. Meskipun kedua orang tuanya jarang hadir, semua kebutuhan tetap terpenuhi. Suasana percakapan membuatnya sejenak melupakan apa yang dilakukan ayahnya di rumah.
Mendadak, Tika menyadari sesuatu. "Icung kemana, Satya? Bukannya jam segini sudah pulang?" Tika mengernyit, mengingat hari ini Jumat, hari di mana siswa biasanya pulang lebih cepat.
"Paling main, Buk, sama Reyhan di lapangan kampung," jawab Satya dengan tenang. Naka mengangkat alis, merasa sedikit aneh mendengar jawaban itu. Di kota, lapangan seringkali hanya digunakan untuk jogging atau nongkrong.
"Kenapa Icung main di lapangan, bukannya main HP?" tanyanya heran.
Satya tersenyum, seakan mengerti ketidaktahuan Naka. "Di sini nggak semaju kota, Mas. Punya HP juga percuma kalau sinyalnya lemah."
Tika kemudian menatap Satya dengan geli. "Satya, nanti selesai makan, ajak Mas Naka keliling kampung ya. Kenalin calon menantu, he-he." Canda Tika membuat wajah Satya dan Tata merona merah, seperti tomat matang.
Satya mengangguk malu-malu. "Iya, Buk. Nanti aku ajak putar-putar. Sekalian lihat Icung main bola."
Naka tersenyum kecil dan menganggukkan kepala. Pemandangan desa ini sungguh menenangkan, pikirnya. Udara yang sejuk dan suasana damai memberi rasa nyaman yang jarang ia temui di kota.
"Bagaimana hidup di kota, Mas? Apa di sana sering banjir seperti di berita TV?" tanya Satya tiba-tiba, dengan tatapan polos yang membuat Naka menahan tawa.
Sebelum Naka bisa menjawab, Pak Eko, sang kepala keluarga, menyela. "Enggak, rumahnya Mas Naka pasti di daerah orang kaya. Mana ada banjir! Yang ada, polusi di mana-mana," katanya sambil membaca koran, kacamatanya bertengger rapi, dan segelas kopi terletak di dekatnya.
"Gimana bisa betah di sana, Mas? Polusi kan mending tinggal di sini, jarang banjir," tambah Satya, menegaskan pemikirannya dengan senyum tulus.

KAMU SEDANG MEMBACA
Lemon
FanfictionNaka kabur dari rumah dan menginap di kediaman Pak Eko, supir keluarga. Namun, di sana ia terjebak dalam jaring cinta rumit dengan anak-anak Pak Eko yang tampan. Ditulis: Minggu, 27 Oktober 2024 Selesai:-