Cemburu sama temen boleh gak sih?
---
Sore ini Nala tengah berada di taman tempat biasa ia dan Ridafa bertemu untuk saling bertukar cerita. Kali ini ia tidak sedang bersama Ridafa. Entahlah ia tidak tahu kemana perginya lelaki itu, padahal mereka sudah janjian untuk bertemu di taman ini. Sudah lewat 30 menit ia menunggu, karena Ridafa tak kunjung datang, Nala memutuskan untuk pulang saja. Baru juga berdiri, tiba-tiba ada yang menarik tanganya. Ya itu Ridafa.
Nala akhirnya kembali duduk. Ia tidak sama sekali menyapa Ridafa. Ia benar-benar kesal dengan lelaki yang saat ini sudah duduk di sampingnya itu. Nala juga sama sekali tidak menengok ke arah Ridafa. Pandangan matanya kosong menatap ke depan melihat beberapa anak-anak yang sedang bermain, sembari menunggu sunset yang sepertinya sebentar lagi akan hadir. Ridafa yang sadar akan kesalahannya mencoba untuk menghibur Nala. Agar gadis itu tidak lagi marah kepadanya.
"Maaf," Ujar Ridafa pelan sembari memegang tangan Nala. Nala masih saja diam tak menanggapi apapun yang dilakukan oleh temannya itu.
"Kemana aja? Gue udah hampir sejam ya di sini," Kesal Nala tanpa menatap ke arah Ridafa.
"Iya-iya sorry. Gue tadi harus ngurusin tugas PKM gue dulu La. Maaf ya?" Kata Ridafa dengan mata yang berbinar mencoba merayu Nala agar tidak marah lagi kepadanya.
"Punya hp di pake. Lo kan bisa ngabarjn gue dulu. Biar gue gak kelamaan di sini. Lo selalu nyuruh gue buat ngabarin lo, sedangkan lo sendiri gak ada ngabarin gue. Gak adil banget," ungkap Nala kesal. Ia benar-benar kesal dengan tingkah laku Ridafa hari ini. Entahlah tidak biasanya ia begini, mungkin karena ia tengah PMS juga jadi membuat dirinya sedikit sensitif.
"Ini tanggal berapa sih?" Gumam Ridafa, berbicara pada dirinya sendiri. Ia langsung membuka kalender yang ada di ponselnya. Setelah melihat tanggal, wajahnya tiba-tiba terlihat khawatir dan ia menyadari sesuatu.
"Pantes, marahnya beda dari biasanya," gumamnya dalam hati. Ia tahu betul kalau Nala sedang PMS ia akan sedikit lebih sensitif dan emosional. Namun ya itu hal wajar yang memang di alami setiap wanita.
"Gue harus lebih hati-hati kalau gini mah," bisiknya pelan, berusaha merencanakan apa yang harus dilakukan agar Nala merasa lebih baik.
"Iyaa maaf ya La, gue salah di sini. Gue ngaku salah. Udah ya marahnya katanya mau nonton konsernya Rony Parulian. Jadikan?" Ujar Ridafa dengan bahasa yang pelan agar Nala tidak marah lagi.
"Jadilah, sia-sia dong gue nungguin lo kalau gak jadi nontonya."
"Udah dong jangan dibahas terus kan udah minta maaf."
"Iyaa."
"Berangkat sekarang?"
"Iyalah, udah telat ini. Bia udah di sana."
"Sabar," Gumam Ridafa dalam hati.
Akhirnya, setelah sedikit berdebat, Nala dan Ridafa berangkat menuju lokasi konser Rony Parulian. Sesampainya di venue, suasana sudah ramai dipenuhi oleh para penggemar yang tak sabar menantikan penampilan idolanya. Nala terlihat lebih bersemangat meski masih ada sedikit sisa kesal di wajahnya.
"Laa duduk aja gimana? Itu di sana ada tempat duduk yang nyaman kayaknya," ajak Ridafa sambil berusaha menggenggam tangan Nala dan menariknya untuk ikut ke arah tempat duduk tersebut.
"Gak mau, gue mau berdiri di depan," Nala menjawab cepat, matanya sudah berbinar melihat panggung yang begitu megah dan dipenuhi dengan alat musik itu.
"Ya udah, kita berdiri. Tapi lo jangan jauh-jauh dari gue ya?" Ridafa terpaksa mengalah, mengikuti langkah Nala yang sudah melangkah cepat menuju kerumunan.

KAMU SEDANG MEMBACA
RidNala (Hanya rasa tanpa kata)
Подростковая литератураTak ada yang mengira hubungan yang awalnya berupa pertemanan biasa, tiba-tiba rasa saling memiliki itu hadir. Tak ada kata yang terucap dari kita berdua, namun percayalah rasa itu ada. Entah sampai kapan semuanya akan terasa rahasia, tanpa ada yang...