Agasha POV
Hari ini sekolah udah selesai, semua warga sekolah pada pulang. Tapi, gue malah masih nongkrong depan gerbang. Sebenarnya sih, gue nunggu Bang Jephan buat jemput, tapi nih orang kayaknya ngilang ditelan bumi, nggak keliatan upilnya sama sekali. Yaudah, karena males nunggu lebih lama, gue putusin buat jalan kaki aja.
Pas gue baru mau beranjak, tiba-tiba gue lihat sosok yang nggak asing lewat. Si pujaan hati, orang yang selalu wangi setiap kali lewat. Bau parfumnya... wah, udah kayak aroma kuntilanak tapi versi Limited edition.
Wangi bener.
“Bian! Bian!” Gue panggil dia, berharap dia denger.
Dia langsung noleh, natap gue dengan tatapan dalam yang bikin gue sedikit kasmaran. Yah, mungkin karena gue ganteng kali ya, makanya dia natap gue sampe sedalem itu.
"Kenapa?" tanyanya halus, suaranya tenang banget pengen gue kokop.
"Gue boleh nebeng nggak?" Gue nanya santai, berharap dia langsung jawab 'iya'. Tapi nih orang malah diam, nggak ngasih respon apa-apa. Bikin gue jadi gemes sendiri. "Oh, yaudah makasih tumpangannya."
Tanpa nunggu dia jawab, gue langsung naik ke boncengannya.
"Gue belum izinin loh," katanya akhirnya, nadanya terdengar sedikit kesal.
"Ah, lama sih," jawab gue sambil ngelirik dia, sok cuek.
Dia cuma ngelirik gue sebentar, lalu pasrah nginjak pedal gas dan mulai ngejalanin motornya pelan-pelan. Setelah itu keadaan udah kaya kuburan. Sepi bener, cuma suara knalpot doang yang ada. Gue lempar pandangan ke sekitar, nyari-nyari topik biar perjalanan ini nggak awkward banget.
"Eh, lo pake parfum apa sih, wangi banget. Seriusan kayak parfum kuntilanak, tapi level sultan," kata gue iseng.
Dia cuma senyum tipis, masih fokus sama jalan di depan. "Kenapa? Suka ya?" dia nanya balik, suaranya tetap tenang.
"Lah pake nanya? Gue kan emang suka lo dari awal," jawab gue sambil nyengir. "Btw udah punya pacar belum?" tanya gue tamba iseng.
"Gue pacar kakak lo, bego!"
"Lah iya gue lupa."
—
Setelah kita keliling-keliling komplek cukup lama, akhirnya kita tiba dirumah gue tercinta. Gue turun dari motor dengan senyum kuda. Gue langsung lihat Abian yang pasang muka kesel. Bisa ditebak, dia pasti jengkel gara-gara gue berulang kali salah ambil jalan pulang. Alhasil, kita malah muter-muter tanpa tujuan. Yah, emang sengaja juga sih, biar waktu jalan-jalan kita jadi lebih lama.
Lucu, kan? Pacaran udah lama, tapi alamat rumah pacarnya sendiri aja dia nggak tahu. Kalau pacarannya cuma virtual sih, mungkin masih bisa dimaafkan. Tapi ini di dunia nyata, bro, bukan layar HP.
Sebenarnya, sempat gue mikir kalau Abian cuma pura-pura nggak tahu rumah Bang Jephan. Tapi ternyata dia emang beneran clueless soal alamat pacarnya sendiri.
"Jangan marah dong, Kak," kata gue sambil mencoba menenangkan dia, dengan suara yang dibuat semanis mungkin, berharap bisa mencairkan amarahnya.
"Lo kira gue ojek pribadi lo ya? Muter-muter nggak jelas!" katanya cemberut.
Gue cuma nyengir, terus majuin langkah mendekat. “Waktu itu penting, Kak. Apalagi waktu sama Kakak. Jadi, apa salahnya kalau gue manfaatin setiap detiknya buat bareng lo?”
Dia ngelirik gue lagi, kali ini wajahnya nggak semarah tadi, malah lebih lembut sedikit. “Terserah, gue pulang.”
Gue angkat alis, bingung. Kenapa ya, wajahnya kok kayak sedikit sedih gitu pas gue bilang hal itu? Apa kata-kata gue sampai segitunya bikin dia tersentuh?
“Kak, kenapa sih?” gue tanya, masih penasaran.
Dia ngangkat alis heran. "Kenapa apanya?" tanyanya bingung.
"Kenapa kakak nggak mau pacaran sama gue?"
"Gue pacar abang lo!" jeda dia tampak kesal. "Dan yang perlu lo inget, selera gue bukan bocah!"
Setelah ngomong gitu, dia tanpa aba-aba langsung ngegas motornya kenceng banget, kayak dikejar setan. Kayaknya, kalau ada lomba lari lawan siput pun, siput bakal nyerah duluan liat kecepatan motor Abian sekarang.
Gue cuma bisa geleng-geleng kepala sambil ketawa kecil, terus langsung masuk ke dalam rumah. Begitu gue buka pintu, suara dari dalam langsung menyambut dengan nada tegas.
“Lo ngapain pulang bareng sama crush gue?” suara itu bergemuruh, bikin gue berhenti sejenak.
Gue mengernyit, bingung. “Crush lo yang mana, Bar?” tanya gue sambil mikir keras. Setahu gue, gue nggak pernah jalan sama anak SMP atau teman-teman dia, jadi rada aneh juga.
Bartha, adik gue yang masih SMP itu, mendengus dan melipat tangan di dada. “Ya Abian lah! Gue udah sering bilang kalo gue ngefans banget sama dia, terus lo malah jalan sama dia tanpa bilang-bilang!” protesnya dengan nada yang jelas banget kesal.
"Kapan Lo bilang bangke?"
"Waktu gue bilang gue suka guru private gue!" katanya bikin gue ngeh.
Oh, iya. Dia memang pernah bilang suka sama guru privatnya. Tapi siapa sangka kalau yang dimaksud itu Abian?
"Yah mana gue tau kalo yang lo maksud itu Bian! Sorry banget, Bar, kali ini gue nggak bisa mundur!" jawab gue sambil angkat bahu, pasrah.
Bartha mendelik, dan di matanya mulai kelihatan berkilauan, tanda-tanda mau nangis. Ah, sialan, anak ini emang paling nggak tahan sama hal-hal kayak gini. Gimana dong, gue rasa bentar lagi dia bakal beneran nangis nih.
"Masa gue harus saingan sama Abang sih," ucapnya dengan bibir yang kini mewek. "Nggakkkk bisa bangggg—Nggakkk Bisaaaaa—"
Nah—Nahh nagiskan nih bocah, nggak tahu aja fakta pacarnya Abian, kalau gue kasih tahu auto guling dia.
"Simpan dulu air mata lo dek buat denger fakta tentang pacarnya Bian," ucap gue yang bikin dia fokus, dia natap gue dalem dengan wajah penasaran.
"Loh dia udah punya pacar?" tanyanya dengan ingus yang masih maju mundur. Jiji ga sih. "Siapa?"
"Abang kita yaitu bang Jephan, dia pacarnya Abian!"
Gue berhenti sejenak, membiarkan informasi itu meresap. Bartha natap dengan mata yang masih basah, matanya melebar dengan campur keterkejutan dan kebingungan.
"Bang Jephan, abang kita?" tanyanya memastikan, masih mencerna kata-kata yang barusan gue ucapin.
"Yah iyalah, siapa lagi?" jawab gue santai.
Wajahnya langsung berubah. Air matanya mulai netes perlahan, bikin dia keliatan makin sedih. Mungkin kalau orang lain lihat, mereka bakal bilang Bartha keliatan imut sekarang. Tapi buat gue? Duh, geli banget, anjay.
"Bang... kenapa harus Bang Jephan sih?" suaranya sedikit gemetar karena dia nangis sambil ngomong. "Gue nggak bisa berjuang kalau kayak gini... dari sisi manapun Bang Jephan tuh nggak ada kurangnya," lanjutnya, bikin gue tarik napas panjang.
Gue tahu banget, adik gue yang satu ini emang udah cinta mati sama Bang Jephan. Buat dia, Jephan itu bukan cuma sekadar abang, tapi juga sosok panutan. Patokan buat dia buat ngeraih masa depan yang dia bayangin. Ngeliatnya kayak gitu, gue jadi kasian juga. Gue peluk dia pelan, dan dia balas pelukan gue.
"Nggak apa-apa, Bartha," kata gue sambil ngusap punggungnya, "Gue juga mikir, kayaknya mustahil buat ngalahin Bang Jephan. Tapi inget, kita ini tim. Sedangkan dia solo! udah pastikan solo vs duo siapa yang menang?"
Dia ngelepas pelukan gue, melongo nggak paham.
"Hah?" tanya dia polos.
"Jadi sekarang kita harus jadi tim penikung bang Jephan, kita buat mereka putus!"
"Tapi kalau mereka beneran putus langka selanjutnya gimana? Kak Bian buat siapa nanti?" tanyanya ragu-ragu, sambil tetep sesenggukan.
"Yah tinggal bagi dua aja, gampang itu."
"BEGO! LO KIRA KAK BIAN KIKO APA?" tanyanya nyolot.
"Bian enak tau."
"Stres."
Bersambung ...
Ini aku lama up nya kelamaan banget wkwk, sorry yah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stealing Heart [BibleBuild]
Fanfiction[Story 4] Agasha, yang semula hanya ingin membantu kakaknya mengembalikan buku kepada Abian, akhirnya justru jatuh cinta pada Abian, yang notabene adalah pacar kakaknya sendiri. Kepo dengan aksi penikungan sang adek dari Jephan? Ayo baca ceritanya! ...
![Stealing Heart [BibleBuild]](https://img.wattpad.com/cover/369589064-64-k706037.jpg)