Margherita Tristezza

2 0 0
                                        

Margherita adalah bunga aster yang bermakna kepolosan, kesederhaan, kemurnian dan harapan. Tritezza melambangkan kesedihan, kedukaan dan luka. Seberapa banyak
menghindari masalah maupun penderitaan sepertinya sia-sia bagi seorang Agha Nagendra, bila diputar bak film klise bergenre sickness. Harapannya masih sama seperti sebelumnya, pelukan hangat dari seseorang yang semakin hari semakin dirindunya.

Di basecamp,

Agha duduk memainkan korek apinya, sudah sejam berlalu namun Ia sama sekali belum berpindah posisi membuat Axell, Gavin dan Richi jenuh melihatnya.

"Huftt ni anak setan dari tadi ngapain sih, mikir gak kelar-kelar"

"Gue bilangin ke papa Carlos ye"

"Eh jangan dong xell elah"

"Jadi gimana Gha?" Bisik Gavin tepat disamping telinga Agha.

"Jadi Nazhiel pindah ke sekolah kita cuma buat ketemu gue" tanya Agha.

"I..iya kali eh tapi bahaya gak sih kalo kalian berdua satu sekolah?" Axelle sedikit khawatir dengan Agha.

Bagaimana tidak khawatir, Nazhiel Abisheva adalah musuh bebuyutan Agha. Bahkan Nazhiel harus pindah sekolah ke luar negeri karena perbuatannya yang hampir saja membuat Agha celaka waktu SMP dulu. Kali ini mereka harus menerima kabar bahwa Nazhiel akan bersekolah di SMA Smeraldo dan artinya Agha satu sekolah lagi dengan musuhnya dulu.

"Ah elah gapapa kali dia juga butuh sekolah" jawab Agha enteng.

"Tapi gha.."

"Lagian kejadian itu udah lama banget, mungkin dia juga udah tobat"

"Terserah tuan muda Agha deh, tapi awas ya lo kalo ada apa-apa bilang sama kita"

"Iya" jawab Agha singkat, dan kembali merebahkan tubuhnya di atas sofa besar basecamp.

"Ini semua gara-gara anak itu!!"

"Seandainya Dia tidak lahir! Mama sama Papa masih ada Mas!"

"Aletha! Apa yang kamu bicarakan!"

"Cukup Aletha! Dia anak kita!"

"Gak Mas! Aku benci anak itu! Aaaaaaaaaaaa!"

'Pyarrrrr'

Suara benda-benda yang dilempar ke lantai sangat keras, membuat seorang anak kecil yang meringkuk di sudut lemari semakin ketakutan. Badannya bergetar hebat sambil terisak pelan, kedua tangannya berusaha menutup telinga dari kejadian yang saat ini menimpanya. Aletha mengalami trauma hebat setelah kepergian kedua orang tuanya saat Ia tengah melahirkan. Sehingga sampai saat ini Aletha harus rutin ke psikolog untuk berobat. Bagaimana dengan trauma anak itu? Dia mendengar semua umpatan demi umpatan dari ibunya sendiri. Demi apapun Carlos sangat menyayangi istrinya dan kedua putranya . Ia mati-matian berusaha menyembuhkan luka istrinya dari trauma masa lalu, namun Ia juga tidak tega melihat putra bungsunya semakin hari semakin menderita.

Bulir keringat mulai bercucuran di kening Agha, mimpi buruk itu terasa nyata baginya. Berkali-kali menghantui Agha dan membuatnya tidak bisa tidur nyenyak.

"Gha! Lo kenapa Gha!" Axell yang melihat Agha gelisah pun berusaha membangunkannya.

"Euumm" Agha mengernyitkan dahi dan membuka matanya yang perih karena terkena cahaya lampu.

"Anjir lo mimpi basah ya Gha!" Seloroh Gavin.

"Heh! Minum dulu Gha biar tenang"

"Gapapa gue cuma mimpi buruk"

Melihat jam tangan menunjukan pukul 23.00 malam, Agha memutuskan untuk pulang meskipun teman-temannya memilih menginap di basecamp. Agha pun pulang naik taxi ditemani rintik gerimis. Tak ada percakapan apa-apa diantara Agha dan supir taxi, hanya ada Agha yang sibuk mengamati jalanan. Sedikit membuka kaca jendela mobil dan menyesap aroma tanah basah adalah hal yang menenangkan bagi Agha. Memikirkan sesuatu ditengah hujan bukan hal yang baru bukan?

'Cklek'

Suara knop pintu dibuka, akhirnya Agha bisa merebahkan diri di kasur kesayangannya. Hari ini tidak ada yang menarik baginya, dan seperti biasa Ahga selalu melewatkan jam makan malamnya.

'Tok tok tok'

"Masuk"

"Lo udah makan Dek?" Tanya Archio yang masuk ke kamar Agha dengan setelan piyamanya.

"Gak napsu gue, sana lo tidur gausah ganggu!"sinis Agha.

"Lo ujan-ujanan ya?! Pasti belom mandi kan?!mandi dulu Dek baru tidur nanti lo demam!" Agaknya Archio mulai bawel pada Agha.

"Peduli apa lo kalo gue demam, kalo mati juga gada yang peduli"

"Huftt..iya terserah gue lagi gamau debat sama lo, gue tau lo capek" ucap Archio yang berlalu menutup pintu kamar Agha dengan sedikit langkah berat. Hatinya benar-benar terluka melihat keadaan Agha, Archio adalah saksi perlakuan Ibu kandungnya kepada Agha sedari mereka kecil. Bahkan sampai sekarang Archio merasa menjadi kakak yang tidak berguna, Ia tidak bisa melindungi adik satu-satunya itu. Ingin sekali Archio kembali menyambungkan benang merah yang saat ini putus, tapi tidak semudah itu apalagi potongan salah satu benang masih sangat rumit dan tidak beraturan. Takdir memang kejam, jika manusia bisa memilih mungkin semua akan baik-baik saja saat ini.

Keesokan harinya Agha terbangun dengan sedikit rasa pening, benar saja Ia demam tapi mau bagaimana lagi Ia harus tetap berangkat ke sekolah. Agha menganggap demam bukanlah masalah besar dalam hidupnya, kebetulan hari ini ada turnamen basket antar sekolah. Dan Agha sebagai kapten basket di sekolah harus menampilkan dan memberi yang terbaik untuk timnya.

Hari ini Agha memutuskan untuk membawa motor ke sekolah, jadi Agha bisa lebih santai dan tidak perlu menunggu jadwal bus lebih awal lagi. Sayangnya pagi ini langit sedang tidak bersahabat, sepertinya akan turun hujan sebentar lagi.

"Sialan!, kebiasaan banget kalo bawa motor pasti ujan!"

Tapi tetap saja Agha pergi dengan motornya, cemas hujan segera datang Agha pun menambah kecepatan. Namun naas saat ditikungan Agha dikejutkan dengan kemunculan gadis berpayung hitam yang tiba-tiba saja muncul membuat Agha terkejut dan oleng. Untungnya tidak sampai terjatuh, Agha segera menepikan motornya dengan kesal lalu menghampiri gadis yang terdiam melihatnya.

"Woy! Lo lagi! Hobi banget sih ketabrak!" Kesal Agha.

"Ya kan gue gatau, makanya lo tu kalo naik motor udah tau ditikungan gausah ngebut!" Jawab gadis itu tak mau kalah.

"Lo tu yang jalan pake mata! Ceroboh!" Baru saja Agha menutup mulutnya, tiba-tiba hujan turun dengan lebat membuat mereka sedikit kelabakan.

Agha tanpa basa basi menyeret tangan gadis itu untuk cepat naik ke motornya, tak ada penolakan hanya gadis itu sedikit terkejut dan tak tau harus berbuat apa. Tak menunggu lama Agha pun sampai di sekolah, masih dengan gadis yang hampir tertabrak tadi sedang duduk manis di motor Agha. Baju dan tas mereka basah kuyup, mau tak mau harus ganti baju cadangan.

"Turun lo ngapain nangkring di motor gue"

"Iya iyaaa galak amat"

"Tutupin baju lo! Nerawang!"Agha melemparkan jaket ke gadis itu dengan kasar, sempat sedikit melirik name tag yang ada di seragamnya.

"Jenna" gumam Agha.

"Jangan lupa balikin!" Agha berjalan meninggalkan gadis itu sendirian.

"Sialan lo!" Kesal Jenna lalu mengikuti langkah Agha.

Sementara itu, Agha yang baru datang disambut heboh para sahabat-sahabatnya.

"Oi kapten kita ege salim dulu" canda Axcell.

"Anjir lo naik motor? Basah kuyup begini?!"

"Iya kalo gue naik motor pasti hujan, mana dijalan hampir nabrak orang!" Keluh Agha masih kesal dengan kejadian tadi pagi yang merusak moodnya.

"Hah! Siapa? Kok bisa? Terus gimana orangnya?" Tanya Gavin.

"Aman, buta kali tu cewek"

"Cie cie nabrak cewek"

"Sialan!"

" eh udah biarin Agha ganti baju dulu tuh liat aja mukanya kayak tikus kecebur got hahaha" candaan Richi membuat Axcell dan Gavin semakin tertawa. Sedangkan Agha hanya cemberut dan bergegas mengganti pakaiannya yang basah kuyup.







-Save Me
Naxit Sendriana

SAVE METempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang