"La belleza del cielo e' senza fine" dalam bahasa Italia berarti keindahan langit itu tak berujung. Ibarat takdir tanpa akhir, memilih indah atau buruk. Kebanyakan manusia lebih memilih keindahan langit yang dapat dipandang kapanpun selagi bisa melihat semestanya. Sebagian lagi juga tak dapat menghindari mencekamnya malam dari mimpi buruk yang selalu menghantui. Jahat memang, tapi seperti itulah kehendak takdir yang tidak memilih siapapun.
PRITTTTTTTTTT!!
Pertandingan basket pun dimulai, Agha dan timnya kali ini masih memimpin skor jauh. Sepertinya kemenangan berpihak padanya, tak heran jika sorak penonton lebih ramai dari kubu SMA Smeraldo karena mereka tidak pernah kalah dalam pertandingan apapun.
Nampak dari kejauhan seseorang memperhatikan Agha dengan senyum menyeringai, dia Nazhiel Abiseva.
'BRAKK!'
Suara benturan keras itu membuat penonton terkejut dan mengakhiri sorakannya.
"Agha!!" Teriak Axelle berlari menuju tubuh Agha yang tergeletak dekat ring basket lawan.
"Aww" darah mengucur deras dari belakang kepala Agha, seketika membuat yang lain panik dan mulai mengerumuninya.
"Woii medis!"
Tak lama tim medis pun datang tapi karena darah yang keluar terlalu banyak membuat Agha lemas dan harus segera dibawa ke rumah sakit untuk menerima tindakan medis lebih lanjut.
Sesampainya di rumah sakit, Agha menerima empat jahitan di kepalanya. Tak hanya itu ia juga harus menerima infus karena ternyata saat ini kondisi Agha demam.
"Gha lo gapapa?"
"Emang gue kenapa?"
"Lo amnesia ya?!"
"Sakit la bego pake nanya"
"Kok lo bisa nabrak tiang gimana ceritanya coba"
"Gue didorong sama Bayu, tapi keknya Bayu juga gak sengaja karena kaki dia kesandung jadilah kepala gue kebentur tiang" jelas Agha singkat karena malas menanggapi ocehan teman-teman spesialnya itu.
BRAKK!
"Agha lo kenapa? Mana yang sakit? Apanya? Patah tulang?" Tiba-tiba Archio datang membanting pintu bangsal kamar Agha secara brutal membuat Agha dan teman-temannya terkejut bukan main.
"Alay lo" Seloroh Agha yang kesal melihat tingkah unik kakaknya. Archio sibuk membolak balikkan tubuh Agha dan memastikan adiknya tidak cedera parah.
"Haaaahh.. bikin panik ae lo dek" Archio menghela nafas karena benar-benar panik saat menerima telepon dari Gavin bahwa Agha masuk rumah sakit.
"Yuk" Ajak Agha berusaha melepas infus yang terpasang secara paksa.
"Ehhh lo ngapain bjir" teman-teman Agha pun terkejut dengan gerakan Agha yang spontan itu dan berusaha mencegahnya.
"Pulang lah, ngapain lagi"
"Lo masih demam tolol"
"Aelah demam doang, sejam lagi ge sembuh"
Mau tidak mau mereka semua harus menuruti kemauan Agha yang ingin pulang, meskipun sebenarnya belum diperbolehkan dokter namun demi kesejahteraan dan perdamaian makhluk bumi semua orang harus mengiyakan keinginannya.
Sesampainya di mansion, Agha turun dari mobil bersama Archio disambut Bi Siti dengan raut wajah khawatir.
"Den Ya Allah aden teh kunaon? Lieur teu? " Bi Siti menghampiri Agha sambil berlari kecil. Agha yang melihatnya hanya tersenyum.
"Ih gapapa bii, pasti ulah Archio kan? Pasti dia ngadu yang nggak-nggak sama Bibi" Agha menatap sinis Archio yang menggaruk tengkuk kepalanya meskipun tidak gatal. Seperti biasa Archio sering melebih lebihkan cerita dengan lebay. Padahal hanya kecelakaan ringan tapi Archio bilang pada Bibi kalau Agha kecelakaan kepalanya bocor dan blablabla.
Bibi masih dengan rasa kawatirnya menggandeng lengan Agha dan mengantarnya sampai ke kamar. Sementara Archio hanya mengekor dibelakang.
"Makasih ya Bi"
"Den Agha kalo butuh sesuatu panggil Bibi aja ya Den"
"Siaapp Bi" Agha berpose hormat pada Bibi yang dibalas senyuman di raut wajah wanita paruh baya itu. Setelah Bibi pergi dari kamarnya, Archio yang sedari tadi bersender pada pintu membuka suara.
"Lo masih demam dek, besok gausah berangkat sekolah ya"
"Dih siapa lo ngatur-ngatur gue"
"Huftt lo tu dibilangin batu banget sumpah!"
"Gamau, malu sama badan masa gara-gara demam dikit doang gak berangkat"
"Dek gw tau Nazhiel udah balik, kalo dia bikin ulah lagi sama lo bilang ke gue ya?" Archio tak bisa menyembunyikan raut kekhawatirannya. Sungguh kejadian itu membuat Archio trauma dengan sosok Nazhiel.
"Hmmm udah sono lo pergi, gue mau tidur" alih-alih terharu malah ngusir.
'Blam'
Archio pun meninggalkan kamar Agha dengan langkah gontai, Agha bukan tipe adik yang suka bersikap manis di depan kakaknya bahkan sedari dulu hubungan mereka tidak terlalu dekat. Agha seperti menjaga jarak dengannya, sumpah perasaan itu membuat Archio sedih.
Sementara Agha menarik selimutnya dan bergegas untuk tidur, bahkan ia lupa sedari siang ia belum makan apapun. Sungguh setelah beranjak dewasa ia jadi jarang makan, padahal Bibi suka sekali memasak makanan kesukaannya.
Keesokan harinya Agha terbangun karena kepalanya pening luar biasa, ia bahkan bisa merasakan hawa panas dari tubuhnya.
"Sialan! demam beneran gue"
Melihat jam di nakas sebelahnya menunjukkan pukul 06.30 ia bergegas menuju kamar mandi untuk bersiap ke sekolah. Benar kata Archio, Agha memang BATU!
Di meja makan para pelayan sudah sibuk menata sarapan, Bibi menyiapkan bekal nasi goreng kesukaan Agha yang ia buat dengan sangat spesial. Seperti biasa ketika yang lain sarapan bersama, Agha lebih memilih membawa bekal untuk dimakan di kantin.
"Den Agha ini bekalnya" Bibi mencegat Agha yang baru saja menuruni tangga, mengulurkan sekotak bekal dan susu pisang yang ditata dengan lucu seperti bekal anak TK.
"Nasi goreng spesial buatan Bibi emang juara!" Agha mngacungkan jempol untuk mengapresiasi masakan Bibi pagi ini, membuat semua pelayan yang melihatnya tertawa.
"Jangan lupa bawa pulang balik kotaknya!" Ucap Bibi menyindir Agha yang kadang anak itu lupa membawa pulang tupperware bekalnya. Bahkan karena kelakuan ngawur nya itu Bibi sampai harus menyetok tupperware banyak. Bukan karna apa, tapi Bibi hanya sayang kalau tupperware yang mahal itu hilang begitu saja.
"Iyaa berangkat dulu ya Bi, baii" sedikit melirik ke meja makan, Agha melangkah keluar dan menuju ke halte bus biasanya.
Carlos hanya menatap nanar punggung bungsunya, ada perasaan sedih yang mengganggu pikirannya.
"Jagain adek, kak"
"Adekmu itu sok jagoan" Carlos terkekeh karena ucapannya sendiri. Archio yang sedang makan hanya mengangguk, sumpah Archio kalau sedang makan tidak bisa diganggu siapapun.
"Halah udah gede bisa jaga diri sendiri, bocah pembuat onar kayak gitu cuma bikin pusing" seloroh Aletha sinis.
"Mah, Agha juga anak mama"
"Agha Adek Chio" Archio tiba-tiba menghentikan aktivitas makannya setelah mendengar perkataan Aletha. Sesak di dadanya menyerang begitu saja, rasa kekecewaan itu kembali muncul membuat moodnya pagi itu jadi jelek. Karena sudah gak napsu makan lagi, akhirnya Archio bergegas pergi ke sekolah tanpa menyalami tangan kedua orang tuanya.
"Chio berangkat dulu"
"Hati-hati nak!" Teriak Carlos sementara Archio hanya melenggang pergi tanpa menoleh.
"Lama-lama kelakuannya mirip Agha, sembrono!" Aletha kembali sinis.
Carlos hanya menghela napasnya berat, sampai kapan situasi ini akan terus berlanjut. Ia hanya bisa berharap istrinya bisa segera sembuh dari traumanya dan menerima Agha dengan tulus.
-Save Me
Naxit Sendriana
KAMU SEDANG MEMBACA
SAVE ME
Novela JuvenilPip..pip..piiiiiiiiiiiiiiiiiip............. Garis lurus dimonitor terpampang jelas diiringi suara berdenging panjang. Agha sudah menyerah? tampaknya ia menyerah untuk kali ini. Luka yang tidak pernah bisa sembuh. Luka yang berkali-kali membunuhnya. ...
