Tok… tok… tok…
Bunyi palu hakim menggema di ruang mahkamah, memecah suasana sepi yang terasa menyesakkan. Dalam satu hentakan terakhir, semuanya berubah. Hakim itu telah membuat keputusan yang memisahkan hidup kami. Aku masih ingat suasana tegang dan bisikan-bisikan kecil di sekelilingku. Di sebelah kiri, ayahku duduk dengan ekspresi kosong, sementara di sebelah kanan, ibu menangis perlahan. Abang kandungku, Andika Roys, menggenggam tangan ibu dengan erat, seolah tak ingin melepaskannya.
“Anayra Rose akan tinggal bersama ayah, sementara Andika Roys bersama ibu,” ujar hakim, suaranya tenang tetapi tajam. Kata-kata itu menghantam hatiku. Sejak saat itu, takdir kami berubah. Kami adalah keluarga yang tak lagi utuh.
Aku masih kecil saat itu, terlalu kecil untuk memahami sepenuhnya apa yang terjadi. Tetapi aku mengerti satu hal aku akan berpisah dengan ibu dan abangku. Sejak hari itu, rumahku hanyalah tempat persinggahan yang dingin, tanpa kehangatan keluarga.
Sekarang, di usia 24 tahun, aku masih tinggal dengan ayah dan ibu tiriku, Aunti Datin Aisyah Raudhah, wanita yang dinikahi ayah beberapa tahun setelah perceraian itu. Sejak awal, aku tahu dia tak pernah benar-benar menerimaku. Setiap hari, ada saja keluhan dan kritik yang keluar dari mulutnya.
“Nayra, kau tak pandai kemas rumah ke? dah umur 24 tapi kerja macam budak-budak!” sindirnya suatu petang ketika aku sedang membersihkan ruang tamu.
“Sorry, mummy. Nanti nayra buat lagi…” jawabku, menundukkan kepala dan menahan hati dari rasa sakit yang semakin menumpuk.
Ayah? Dia selalu sibuk. Bila aku cuba berbicara atau mengadu, dia hanya menghela nafas, menganggap aku berlebihan. Aku merindukan keluarga yang dulu, tetapi semua itu hanya tinggal kenangan.
Malam itu, saat aku duduk di bilik, termenung mengingat kembali memori lama bersama abangku Andika dan ibu, pintu bilikku tiba-tiba terbuka perlahan. Terlihat abang tiriku, Amirul Hakim, berdiri di ambang pintu. Dia baru saja kembali tinggal di rumah ini setelah kehilangan pekerjaannya.
“Nayra,” panggilnya pelan, sambil melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. “Kenapa termenung?”
Aku tersentak sedikit, tak menyangka kedatangannya. “Tak ada apa-apa, cuma penat,” jawabku, cuba menenangkan perasaan tak nyaman dalam hatiku.
Dia duduk di sisi katilku, tersenyum samar. “Kalau awak perlukan aku, aku ada di sini. Kita kan keluarga.”
Aku mengangguk kecil, walaupun rasa tidak enak itu terus menghantui. Tanpa aku duga, tangannya terulur, menyentuh bahuku. “Abang mirul, buat apa ni?” tanyaku dengan suara pelan, cuba menahan ketakutan yang mulai merayap.
Dia mendekat, dan aku cuba menyingkirkan tangannya. “Abang, tolong keluar,” bisikku, berusaha agar suaraku tak bergetar.
Namun, dia tak menghiraukanku, semakin mendekat. Aku hanya mampu berdoa dalam hati, berharap ada yang menyelamatkanku dari rasa takut ini, dari luka yang semakin dalam dan tak pernah benar-benar sembuh sejak hari di mahkamah itu.
ANDA SEDANG MEMBACA
HANZ I : AMORE MIO [OG]♡
RomanceTengku Daniel Hanz × Anayra Rose [ HANZ SERIES 1 ] "Rara ni keluarga baru rara "- Dato' Ashraf Rizuan "......"-Anayra Rose Anayra Rose iaitu anak kepada Dato' Ashraf Rizuan dan ibu kandungnya. Sudah 7 tahun dia meninggalkan keluarga kandungnya keran...
![HANZ I : AMORE MIO [OG]♡](https://img.wattpad.com/cover/382296244-64-k21014.jpg)