Happy reading!
Pagi ini, langit terlihat sangat mendung. Gerimis turun sejak pukul 5 pagi tadi, hingga pada pukul 6 ini mark bergegas untuk pergi ke rumah sakit tempat istrinya dirawat.
Jalanan tak terlalu ramai akibat gerimis yang menerpa, mark memakai jaket tebal, dan membawa banyak barang untuk haechan. Ia menyetir dengan pelan karna jalanan yang licin. Mark sampai disana, ia langsung menaiki lift dan menuju ke ruangan itu.
Mark masuk, menaruh barang-barangnya. Melihat haechan yang masih terbaring dengan mata tertutup dan banyak luka yang terbalut.
Mark duduk di kursi yang berada tepat disamping kanan kasur yang haechan tiduri. Mark menatap intens wajah tenang itu. "Kenapa aku baru menyadari perasaan ini, haechan?" Gumamnya.
Mark menyentuh pelan tangan haechan, ia genggam, dan terus ia ciumi. Berharap suami kecilnya itu bangun dari koma nya, ia hirup punggung tangan haechan "aku rindu kamu." Ujarnya singkat.
Atmosfer diruangan itu mendadak terasa sangat menyedihkan, seakan ia sedang berada dalam sebuah tayangan film, yang menunjukkan kisah penyesalan diakhir, karma yang kejam, perpisahan yang tragis, ataupun akhir yang tak bahagia.
Mark jelas tak menginginkan itu terjadi, ia hanya ingin beruang kecil kesayangannya bangun "kapan kamu bangun? Dunia kangen sama senyum indah kamu." Ujarnya lirih.
Ia mengelus surai rambut seseorang yang sedang terbaring lemah itu, "cepat bangun ya? Matahari kehilangan sinarnya sekarang, semesta butuh lelucon dan keceriaan yang selalu kamu tunjukkan itu, sayang."
Gemercik hujan terus turun, membasahi bumi dan sekitarnya, angin yang terus menerpa, serta daun yang terus berjatuhan itu membuat mark merasakan kesedihan yang teramat sedih. Hujan itu tak ada hentinya turun, ia membasahi daun daun dan tanaman lainnya, bahkan tanpa sadar membuat mark berhasil membasahi pipinya dengan air mata.
"Tuhan boleh hukum aku, chan. Tapi bukan seperti ini caranya, harusnya aku saja yang merasakan apa yang kamu rasakan sekarang." Mark mengelap air matanya.
Mark mengambil nafas dalam-dalam, sebelum akhirnya dia beranjak dari duduknya. Ia berjalan ke arah jendela yang langsung menghadap ke pemandangan indah kota Seoul (fyi ruangan haechan berada dilantai 4.)
Mark terdiam sejenak, tiba-tiba saja jari jemarinya meremat kuat knop jendela itu, "yeri. Aku tidak akan pernah memaafkanmu, sampai kapanpun. Bajingan licik." Batinnya penuh penekanan disetiap kata-nya.
Gadis licik yang membuat beruang kesayangannya terbaring lemah dirumah sakit itu tak bisa lepas begitu saja dari mark. Dua bajingan itu harus masuk kedalam jeratan sel penjara.
(🐯🐻)
Ditengah kerumunan mahasiswa(i), sekumpulan anak sedang berjalan menuju tempat untuk mendapatkan makan siangnya hari ini. 2 orang itu dengan santainya jalan menuju meja kosong disana, sedangkan 1 nya pergi menuju sang penjual untuk memesan makanan dan minumannya.
"Huh.." hembusan nafas dari salah satu anak tersebut.
2 anak itu tampak lelah dan lusuh, tak lama orang yang sedari tadi sibuk memesan makanan dan minuman pun kembali, dan ikut duduk bersama.
"Ada apa dengan wajahmu jaemin-a." Tanya anak dengan name tag Felix.
Jaemin yang namanya disebut pun hanya menghembuskan nafasnya lagi. "Kau kenapa bodoh!?" Giliran renjun yang bertanya.
Jaemin hanya menggeleng, "aku merindukan haechan.." ujarnya lirih.
Renjun dan felix pun hanya memaklumi, jaemin dan haechan berteman lebih lama dari pada renjun, felix, dan yang lainnya. Dan mereka berdua jelas memaklumi hal itu, jaemin pasti merasa sangat sedih karna teman dekatnya itu terbaring tak sadarkan diri dirumah sakit, ditambah lagi ia tak diperbolehkan menjenguk oleh keluarga suami haechan. Tak hanya jaemin, renjun dan felix pun merasa demikian, namun mereka harus lebih mementingkan jaemin sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Naughty boy (TAHAP REVISI)
FanfictionKarena persahabatan kedua orang tua nya, dan perjanjian akan perjodohkan kedua anaknya nanti- Seo Haechan pemuda nakal, bebas, dan suka berfoya foya dijodohkan dengan CEO Muda yang dikenal banyak orang karena memiliki Ratusan cabang di Negara sendir...
