: CHAPTER_09

141 12 1
                                        

HAI SEMUANYA! SELAMAT MEMBACA DAN SEMOGA SUKA, AAMIIN!

TANDAI TYPO PRENN⚠️

••••

"Tidak cukup merusak mobilmu dengan menabrakkannya ke pagar rumah orang lain, sekarang kau merusak dirimu sendiri dengan mematahkan kakimu?" Mata Diana menyipit pada Dara yang kini mengalihkan muka darinya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Tidak cukup merusak mobilmu dengan menabrakkannya ke pagar rumah orang lain, sekarang kau merusak dirimu sendiri dengan mematahkan kakimu?" Mata Diana menyipit pada Dara yang kini mengalihkan muka darinya.

"Kau memang suka membuat dirimu dalam bahaya, ya?" tambah Diana bersedekap dada.

"Namanya juga kecelakaan. Musibah tidak ada yang tahu," ujar Dara membela diri.

"Tapi sepertinya musibah yang terjadi padamu bukan sekali dua kali, malah sering terjadi seperti kau yang sudah merancangnya sendiri," tuduh Diana.

Dara berdecak lidah dengan lirikan mata kesal pada Diana. "Aku juga tidak mau seperti ini! Dan juga kakiku hanya keseleo, bukan patah!"

Dara tanpa sengaja menggerakkan kakinya yang keseleo. Alhasil wanita itu menjerit sakit merasakan pergelangan kakinya yang masih terasa ngilu. Diana hanya menghela napas melihat keadaan sahabat sekaligus atasannya saat ini.

"Kaki sialan. Aku jadi tidak bisa pergi ke kantor." Dara berdecak lidah kesal. Karena keadaan kakinya sekarang dia tidak bisa pergi bekerja. Tadi pagi Damian sampai mengancamnya, kalau dirinya tetap nekat pergi ke kantor, Damian akan melakukan sesuatu yang membuat Dara malu. Hal apa itu Dara tidak tahu dan tidak ingin tahu.

Sebenarnya bisa saja Dara menganggap perkataan Damian itu sebagai ancaman biasa karena pria itu tidak akan memberikannya hukuman yang akan menyakitinya. Namun melihat tatapan serius Damian tadi pagi membuat nyali Dara tiba-tiba menciut.

"Kalau kau tetap nekat pergi ke kantor hari ini, aku akan bongkar rahasia kalau kau tidur harus selalu memeluk boneka Lotso!"

Damian, sialan! Beraninya dia mengancamku seperti itu! Batin Dara berucap kesal dan rasanya ingin menarik kuat rambut Damian lagi seperti semalam.

Kalau sampai Damian nekat memberitahukan rahasianya yang itu, habis sudah image wanita dewasa Dara selama ini dan pasti banyak yang mulai mencibirnya termasuk orang-orang di Majestic IndoCorp. Kepercayaan mereka pada Dara pasti akan langsung menurun dan berpikir bahwa Dara tidak cocok untuk menjadi pemimpin mereka dan duduk di kursi CEO karena menganggap dirinya masih kekanak-kanakan.

"Baguslah, dengan begini kau bisa istirahat." Diana berdiri dari duduknya sambil melirik jam tangan di pergelangan tangan kiri. "Aku pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik di rumah."

"Ya, terima kasih sudah menjengukku. Lain kali kalau mau menjenguk orang sakit, bawakan buah tangan." Dara bersandar dengan bantal sofa dipangkuannya.

"Kau suruh saja Pak Damian. Aku yakin dia akan membawakan satu truk buah untukmu. Bye ...." Diana berbalik keluar dari apartemen Dara dengan senyum mengembang karena lagi-lagi Dara kesal padanya. Sudah Diana bilang bukan? Hidupnya di sisi Dara harus membuat sahabatnya itu selalu darah tinggi.

Forever Yours [HIATUS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang