: CHAPTER_10

140 5 1
                                        

HAI SEMUANYA! SELAMAT MEMBACA DAN SEMOGA SUKA, AAMIIN!

TANDAI TYPO PRENN⚠️

••••

"Kapan aku boleh pergi ke kantor?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kapan aku boleh pergi ke kantor?"

Damian yang sedang mengancingkan kemejanya menoleh pada Dara yang duduk di pinggir kasur dengan wajah tertekuk sebal.

"Kau sudah sembuh?" Damian malah balik bertanya.

"Sudah dua hari aku di rumah terus. Aku bosan. Kakiku juga sudah baikan. Nih kau lihat sendiri." Dara menggoyang-goyangkan kakinya yang keseleo. "Masih tidak percaya?"

Dara kemudian berdiri dan melompat-lompat kecil, membuktikan pada Damian kalau dirinya sudah baik-baik saja. Kakinya sudah tidak sakit lagi seperti sebelumnya.

Damian yang baru selesai mengikat dasinya, mendekat pada Dara yang masih melompat-lompat. Kemudian dengan sigap Damian memeluk Dara, menghentikan wanita itu melompat. Dara mengerutkan kening bingung dengan perlakuan Damian yang tiba-tiba.

"Mau terluka lagi?" tanya Damian dengan nada seperti peringatan pada Dara.

Dara memicingkan matanya. Kedua tangannya dia lingkarkan di leher Damian. "Kenapa? Khawatir aku terluka?" Dara menyeringai seolah menantang Damian.

"Masih bertanya aku khawatir atau tidak kau terluka?" Damian memelototkan matanya dengan ekspresi sok galak yang dibuatnya.

Dara berdecih pelan. Terkadang kekhawatiran Damian sangat berlebihan baginya. Padahal Dara sudah dewasa dan bisa menjaga dirinya sendiri. Damian saja yang terlalu lebay memperlakukannya seolah Dara adalah wanita paling lemah di dunia ini.

"Kau terlalu berlebihan." Dara melepaskan pelukan Damian darinya dan kembali duduk di kasur. "Walaupun aku terluka, itu tidak sampai membahayakan nyawaku sendiri, kan?"

Damian mengangguk-angguk dengan seringaian yang terukir. "Kecelakaan sampai masuk rumah sakit dalam keadaan tak sadarkan diri bukan hal yang membahayakan nyawa? Memang nyawamu ada berapa? Sembilan? Apa kau kucing?"

Dara terdiam. Langsung memalingkan muka setelah mendengar pernyataan tajam yang dilontarkan Damian tanpa aba-aba. Namun bukan Dara namanya jika menyerah begitu saja sebelum membalas.

"Aku kecelakaan karena siapa? Itu karena kau, Damian Athariz!"

Kali ini Damian tidak bisa membalas karena fakta Dara kecelakaan beberapa hari lalu memang berawal darinya. Damian menghela napas. Dia salah langkah kali ini dengan mengungkit kecelakaan Dara.

Melihat Damian tidak bisa membalas perkataannya lagi, Dara tersenyum senang dengan kedua tangan bersedekap dada. Kali ini dia menang.

Damian berbalik badan. Mengambil jasnya dan memakainya. Dara memerhatikan Damian. Air muka pria itu tiba-tiba terlihat muram, berbeda dari beberapa menit yang lalu.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 01, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Forever Yours [HIATUS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang