001

411 37 5
                                    

***

Alarm berdentang keras, memecah keheningan pagi di sebuah kamar sederhana yang bersih nan rapih. Matahari baru saja menyapa dengan sinar lembutnya, menembus sela-sela jendela. Seorang pemuda dengan wajah lelah duduk di pinggir tempat tidur sambil menghela napas panjang. Pemuda tersebut bernama Gugun, Hari Ini adalah hari pertama di sekolah barunya. Perasaan asing menyelimuti pikirannya perasaan yang sudah akrab karena ia terlalu sering berpindah tempat. Segera ia beranjak pergi untuk mandi, setelah selesai.

Gugun lalu mengenakan seragam sekolah dengan gerakan mekanis, semua ini sudah seperti rutinitas baginya. Pindah kota, pindah rumah, pindah sekolah. Tak ada yang menarik.

Tak lama sebuah teriakan terdengar menyuruh nya untuk segera bergegas...

"Sayanggg, sarapan dulu!" terdengar suara lantang seorang ibu memanggil dari bawah.

"Iya, sebentar," balas Gugun sambil merapikan diri. Ia segera turun dan menghampiri sumber suara.

"Waahhhhh, ganteng nya anakku, gimana belajar nya tadi malam sayang? Kamu nggak terganggu dengan lingkungan di sini kan?" tanya ibunya dengan penuh perhatian.

"Nggak kok mah" jawabnya lemah, senyum tipis menghiasi wajahnya.

"Ya sudah, duduk dulu. Kita sarapan."

Sang ibu lalu mengambil roti panggang yang masih hangat dan meletakkannya di piring Gugun. Tanpa ragu Gugun mengambil roti itu dan mulai menggigitnya, menikmati perpaduan hangatnya roti dengan segelas susu. Di tengah momen sarapan itu, ibunya kembali membuka obrolan.

"Sayang, Mamah dengar di sekolah barumu ini persaingan eligible nya ketat-ketat loh" kata sang ibu sembari mengoleskan selai pada roti lain.

Ucapan itu membuat Gugun menghentikan kegiatannya sejenak.

"Ehm, iya Mah tenang aja aku pasti bisa kejar mereka," jawabnya dengan nada datar, seolah sudah terbiasa dengan hal tersebut.

"Anak Mamah memang luar biasa! Kamu selalu jadi kebanggaan Mamah!!! Semangat terus ya Sayang!"

Gugun hanya tersenyum tipis dan kembali melanjutkan makannya, mengunyah perlahan sembari menatap kosong ke arah meja.

Setelah selesai sarapan, sang ibu segera mengambil tas sekolah Gugun.

"Yuk, Mamah anterin ke sekolah. Biar kamu nggak terlambat" ucap ibunya sambil tersenyum cerah.

"Nggak usah repot-repot mah" balasnya, meski ia tahu menolak adalah hal yang percuma.

Mereka pun lalu pergi menggunakan mobil, dan selama perjalanan, sang ibu terus berbicara.

"Sayang, ini kan hari pertama kamu di sekolah baru. Kamu harus tunjukin ya kalau kamu itu anak yang pintar dan rajin. Jangan bikin malu ya. Mamah tahu kamu bisa, terus kalo bisa kamu temenan sama anak anak eligible juga biar kamu bisa ketularan mereka"

"Iya, Mah..." jawabnya singkat, menatap keluar jendela.

Mobil berhenti di depan gerbang sekolah. Suasana ramai oleh anak-anak yang baru datang. Sang ibu menepuk pundak Gugun dengan lembut.

"Sayang, pulangnya nanti naik bus aja, ya? Mamah kebetulan lembur, nggak bisa jemput kamu."

Gugun hanya mengangguk, lalu mengambil tasnya. Sebelum ia sempat turun, sang ibu menahan tangannya sebentar.

DRIVENTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang