Berkumpulnya Empat Sahabat

21 5 1
                                        

Tepat tiga hari semenjak aku bangun, di malam purnama, Emmeline memberitahuku bahwa Queena dan Ryn sudah sadar. Aku segera bangkit dari ranjang dan berlari menuju kamar mereka. Di atas ranjang kayu yang sudah usang, Queena duduk dengan wajah bingung. Matanya tampak sayu, tetapi saat aku masuk, ia langsung menoleh dan memanggilku.

"Anne, kita di mana?" tanyanya dengan suara bingung, memandang ruangan yang asing.

Tanpa menjawab, aku segera merengkuhnya dalam pelukan. Rasanya begitu lega melihatnya terbangun. Luka-lukanya pun sudah hilang sempurna, seolah tak pernah ada.

"Tenang, jangan takut," bisikku, "Aku akan menjelaskan semuanya, tapi pelan-pelan. Karena aku yakin, penjelasanku akan sangat sulit untuk kau percaya."

"Penjelasan apa yang kau maksud?" tuntutnya, tidak sabar.

Belum sempat aku membuka mulut, pintu kamar terbuka, dan sosok Emmeline yang kulihat setelahnya. Namun, dia tidak sendirian—Ryn juga ikut menyerbu masuk, menatap kami dengan tatapan bingung yang penuh tanya.

"Aku akan menyiapkan makanan untuk kalian," kata Emmeline, "Gian dan Halion sedang berburu. Sementara itu, kalian tunggu di sini dulu. Mungkin Anne punya banyak hal untuk diceritakan."

Setelah itu, Emmeline keluar, meninggalkan kami bertiga di kamar kecil ini. Aku duduk di tepi tempat tidur Queena, dihujani tatapan bingung dari Queena dan tatapan curiga dari Ryn.

"Apa sebenarnya yang terjadi? Kita di mana?" Queena bertanya lagi, menarik tanganku dengan gelisah.

Ryn yang baru bergabung duduk di tepi ranjang, ikut menambah pertanyaan. "Di mana Eysh? Kenapa hanya kita bertiga?"

Aku menundukkan kepala. "Eysh masih belum sadar. Dia ada di kamar sebelah, Ryn. Dan ... kita sekarang berada di rumah keluarga serigala."

"Hah?!" Keduanya terperangah.

Tentu saja, apa yang kukatakan tampak gila bagi mereka. Awalnya, aku pun berpikir demikian. Namun, nyatanya aku sudah tinggal di sini selama tiga hari. Aku sudah mulai melihat banyak hal yang dulu terasa mustahil. Melihat Gian dan Halion berubah menjadi serigala, melihat senja yang tak pernah berakhir di satu tempat, dan malam yang tak kunjung datang di tempat lainnya, juga melihat hewan-hewan aneh dan makhluk-makhluk menyeramkan di hutan belantara. Semuanya mulai terasa normal, meskipun rasanya tak masuk akal. Dunia imortal benar-benar ada—dunia Aetherion. Dunia penuh keajaiban berisi makhluk-makhluk aneh yang kadang begitu menakjubkan, namun juga terasa sangat mengerikan.

"Anne, jelaskan pada kami sebenarnya apa yang terjadi?" Ryn bertanya lagi, suaranya penuh ketegangan.

"Kalian ingat kecelakaan itu? Ketika mobil kita jatuh ke jurang?" Aku menatap mata mereka, lalu melanjutkan, "entah hanya aku yang melihatnya atau kalian juga, yang jelas di depan mobil, sempat terlihat cahaya biru keunguan yang berputar-putar. Nyonya Emmeline bilang itu adalah portal. Kecelakaan itu ... kita tanpa sengaja masuk ke Gerbang Aethernal."

Queena diam, matanya menyipit tajam. Sepertinya dia masih belum percaya. Tatapannya seperti sedang berusaha menemukan jejak kebohongan di wajahku.

Tapi Ryn, yang tidak bisa menahan kekesalannya, langsung menyentak, "Astaga, omong kosong apa itu, An? Aku nggak mau denger cerita dongeng macam begini!"

"Ini bukan dongeng, Ryn. Percaya padaku!" balasku cepat, suaraku meninggi. "Aku sudah tiga hari berada di sini. Aku sudah melihat cukup banyak. Kalian akan melihatnya sendiri nanti."

Ryn membuang muka, mendecih keras. Ekspresinya begitu kentara tengah meremehkan ucapanku dan itu sukses membuat emosiku tersulut. Entah mengapa aku merasa kesal. Tanpa sadar, aku merasakan panas menjalar dari dada hingga ke tangan. Dan sebelum aku bisa mengontrolnya, api mulai memercik dari jemariku.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 14, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

NEMOROSACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang