PREQUEL

330 11 0
                                        

HAPPY 5 RIBU FOLLOWERS DI WATTPAD!

SELAMAT MEMBACA
.......

Hujan rintik-rintik menyambut Marcus yang keluar dari mobilnya sore itu. Ia memandang bangunan di depannya, bersyukur bahwa kehidupan kakak satu-satunya tidaklah seburuk yang dia bayangkan selama ini.

Kak Sinta, Marcus mendesah. Sudah 10 tahun mereka tak bertemu, bagaimana bisa kakak yang ia kenal dengan kepribadiannya yang sangat lembut meninggalkan keluarga hanya demi lelaki brengsek yang menghamilinya.

Marcus begitu frustasi mencari kaberadaan kakaknya bahkan saat Ayah mereka meninggal. Sinta bagai ditelan bumi, sama sekali tidak ada jejak yang bisa Marcus telusuri, kini hanya ada mereka berdua di dunia. Ayahnya sudah meninggal 2 tahun lalu, sedangkan Ibunya sudah lama meninggal saat Marcus masih duduk di bangku SMA.

Marcus kembali menelusuri pandangannya, bangunan ini cukup besar untuk dihuni oleh orang yang tinggal sendirian, Marcus yakin kakaknya masih berhubungan dengan lelaki itu. Rumah ini bahkan memiliki gerbang depan dan taman mini di bagian depan rumah, ada ayunan besi yang tampak usang di pinggir taman.

Marcus berjalan perlahan, membiarkan mobilnya terparkir di depan gerbang. Ia berjengit saat bunyi kriet ayunan mengagetkannya di tengah gerimis hujan. 

Ada sosok mungil yang duduk di atasnya, kakinya yang panjang menempel tanah, ia menggerakkan badannya ke depan dan ke belakang sambil menatap Marcus dari bingkai poni rambutnya yang lucu.

Gadis kecil itu masih menatap Marcus, matanya bahkan tak berkedip, Marcus ragu gadis ini masih berumur sekitar 10 tahun jika dilihat dari ekspresinya yang sangat datar.

"Emm.. Sebentar lagi hujan lebat, apa kamu tidak pulang?" Marcus mencoba berbicara pada gadis kecil di ayunan itu dari tempatnya berdiri, ia bersuara agak keras untuk menyaingi suara gerimis di luar.

Bocah itu masih memandang Marcus saat turun dari ayunan dan berjalan mendekati lelaki yang jauh lebih tinggi darinya. Ia mendongak menatap Marcus dari balik bulu matanya yang lentik.

"Mamah tidak ada di rumah." ucap bocah itu, memandangi Marcus yang tertegun menatap mata hitamnya yang kelam. Gadis ini begitu kecil, tapi kenapa ekspresi di wajahnya sangat mengganggu Marcus? Ia merasa tersedot dan mematung, Marcus ingin tahu apa yang sedang dipikirkan gadis di depannya.

Marcus menutupi kepala si gadis dengan telapak tangannnya, merasa sangat terganggu dengan kelakukan si gadis yang terlihat cuek bahkan saat gerimis hujan mulai membasahi rambutnya yang hitam.

"Nama mamahmu, Sinta?" Marcus bertanya, menunduk melihat si gadis yang sedang menatap telapak tangan Marcus yang terbuka lebar, berusaha mencegah air hujan menyetuh kepalanya.

"Ya, apakah anda calon ayah baruku?" Marcus membuka mulutnya, hampir terbahak saat ia melihat ekspresi serius di wajah gadis kecil itu.

Ia berdeham dan meminta si gadis kecil untuk membawanya masuk ke dalam rumah, bagaimana bisa dia tega tertawa saat melihat ekspresi berharap di mata bocah ini? Marcus juga tak mungkin membiarkan tubuh mereka berdua basah diguyur hujan yang semakin lebat.

"Tapi mamah belum pulang." si gadis menolak dengan halus, membuat Marcus mau tak mau menarik lengan kecilnya untuk bernanung di bagian depan rumah.

"Baik, bisakah kita mengobrol di sini jika kamu tidak mau saya masuk? Masalahnya hujan makin deras, kita bisa basah kuyup." Marcus mengangkat kedua tangannya saat melepaskan pegangannya pada lengan si gadis kecil yang kini memandangi Marcus dengan serius.

"Aku memang mau hujan-hujanan." kata si gadis mengangkat bahu, setelah Marcus perhatikan. Gadis ini sama sekali tidak mirip kakaknya, ia memiliki wajah oval yang kecil dan putih, sangat berbeda dengan wajah kakaknya yang bundar dan berkulit kuning langsat.

Marcus Uncle (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang