44|| perayaan

1.1K 165 29
                                        

Jennie mendengus kesal seraya mengusap perut buncitnya. Dia tidak bisa leluasa melakukan aktivitas akibat perutnya itu. Usia kehamilannya sudah memasuki usia sembilan bulan. Tinggal menghitung hari, dia bisa menyambut anaknya terlahir di dunia.

Jennie tentu sangat bersyukur dengan jalan hidupnya yang kini terus diliputi kebahagiaan. Kim Jisoo, sosok lelaki itu yang begitu dicintai dan mencintainya benar-benar mampu menjadi obat di segala gundah dan luka Jennie.

Setelah segala kejujuran dibuka, Kim Jisoo semakin gencar menunjukkan rasa cinta dan rasa tidak ingin kehilangannya. Setiap detik Jisoo akan selalu berusaha membahagiakan istrinya itu. Dan yang paling menyentuh adalah, Jisoo juga dengan segala perayaannya sangat antusias menunggu kelahiran Jennie meski dia tahu, darah yang mengalir pada jabang bayi bukanlah darahnya.

Kembali pada kekesalan Jennie. Hari ini adalah hari ulang sang suami dan Jennie ingin merayakan meski hanya kecil-kecilan saja, berdua, di vila keluarga. Jennie juga sengaja meminta Hyunbin, Ibu Seo dan Lio untuk sementara kembali ke rumah utama.

Jennie berencana untuk merias diri, mengenakan pakaian terbaik dan memasak makan malam yang lengkap. Dari makanan pembuka, makanan utama hingga makanan penutup. Ia bahkan sudah menyiapkan menunya dari beberapa hari yang lalu.

Sebagai makanan pembuka Jennie ingin membuat sebuah quiche, lalu untuk makanan utama ia ingin membuat steak lengkap dengan kentang goreng dan salad sayur. Kemudian, makan malam mereka akan ditutup dengan pie ceri yang Jennie buat sendiri sebagai kue ulang tahun Jisoo.

Namun apalah daya, ketika sedang menggoreng kentang tiba-tiba saja perutnya terasa kencang hingga membuat Jennie merasa sesak. Jadi disinilah dirinya sekarang, duduk di kursi meja makan, mengusap perutnya yang tegang dan kencang sambil menyeka air matanya yang tiba-tiba saja berjatuhan.

Sebentar lagi Jisoo akan pulang dari kantor, tetapi baru makanan pembuka dan penutup saja yang telah siap. Makanan utamanya belum tersentuh sama sekali, semua bahannya bahkan masih terbungkus rapi. Jennie pun belum sempat mengganti baju dan merias wajah.

Jennie semakin terisak. Ia hanya ingin membahagiakan orang yang amat ia cintai di hari spesialnya, tetapi merencanakan perayaan ulang tahun Jisoo saja ia tidak mampu.

Di tengah isak tangisnya, Jennie mendengar pintu utama terbuka lalu tertutup kembali. Dengan tergesa Jennie menyeka air matanya. perayaan ulang tahun sang suami memang sudah gagal tetapi setidaknya ia tidak boleh menangis, khawatir jika nantinya Jisoo menjadi semakin tidak suka dengan ulang tahunnya kali ini.

Ketika Jisoo tiba di area dapur dan meja makan, wajah pria itu seketika cemas. Manusia berbibir hati itu pasti masih bisa melihat jejak tangis Jennie walaupun sudah susah payah ia samarkan.

Jisoo pun mengambil langkah besar menghampiri Jennie lalu duduk tepat di sebelah sang istri dan langsung membelai lembut kepala Jennie.

“Kamu kenapa menangis, sayang? Ada yang sakit?” Tanya Jisoo cemas.

Ditanya seperti itu membuat tangis Jennie kembali pecah. “A-aku ingin membuat makan malam spesial untuk merayakan ulang tahunmu, By. Tetapi saat sedang memasak, perutku terasa kencang. Jadi, akhirnya aku terpaksa berhenti.”

Salah satu tangan Jisoo dengan cepat segera memegang perut Jennie, ikut merasakan perut buncit itu yang kencang lalu membelainya lembut.

“Dan sekarang kamu sudah pulang tetapi belum siap apapun. Makanan utama belum siap, aku belum berganti baju dan merias wajah. Perayaan ulang tahunmu sudah gagal. Maafkan aku, Jisoo.” Adu Jennie di sela isak tangisnya.

“Jadi kamu menangis bukan karena kesakitan perutmu kencang seperti ini, Jendeuk?”

Jennie menggeleng pelan. Jika dipikir-pikir perutnya hanya terasa kencang saja tetapi tidak sampai menyakiti dirinya. Sangat normal seorang perempuan hamil mengalami hal ini apalagi dia usia kehamilan tua. Dan ini juga bukan kali pertama Jennie merasakan kencang pada perutnya.

“Bukan. Aku hanya sebal karena tidak bisa melakukan apapun dengan benar sekarang. Memasak saja aku tidak bisa.” Aku Jennie.

Jisoo berdesak sambil terkekeh pelan. Pria itu lalu menarik Jennie mendekat untuk mengecup puncak kepalanya, juga mencuri kecup di bibir.

“Hei, kenapa kamu berkata seperti itu hmm? Kamu memang seharusnya tidak perlu banyak bergerak, Jendeuk. Lihat saja perut besarmu itu, kamu sedang hamil. Tubuhmu sedang menjadi tempat anak kita bertumbuh dengan sehat. Terimakasih sayang sudah mau berusaha untuk merayakan ulang tahunku. Ulang tahun kali ini sudah menjadi ulang tahun terbaik sepanjang hidupku.”

“Bohong!” Sanggah Jennie. “Senang dari mana? Perayaan saja belum dimulai tapi sudah gagal saja.”

“Sssttt, perayaan untukku tidak gagal, Jendeuk. Tahu kenapa bisa begitu?”

Jennie mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa?”

“Karena bagaimanapun perayaannya, yang paling penting untukku adalah merayakannya bersamamu, Kim Jennie.” Jawab Jisoo sebelum mengecup sisa-sisa air mata di pipi tembam sang istri.

Jennie tersipu. Hatinya berdesir hangat. Jennie benar-benar merasa dipuja dan dicintai dengan tulus oleh pria satu itu.

“Sudah, sudah. Jangan menangis terus. Nanti beibi ikut-ikutan bersedih karena mommy-nya sedih.” Katanya sambil menyelipkan beberapa helai rambut Jennie yang berantakan menutupi wajahnya.

“Iya, iya. Tapi makan malamnya bagaimana? Aku sudah terlanjur meminta semua orang keluar dari vila ini. Aku kan hanya ingin manja-manja berdua denganmu, By.” Tanya Jennie cemberut, masih kesal dengan kenyataan bahwa makanan utama yang sudah ia rencanakan belum matang padahal ini sudah masuk jam makan malam. Dia tahu Jisoo pasti lapar, begitu juga dirinya.

“Aku bantu selesaikan.” Ucap Jisoo santai.

Pria itu mengecup perut dan bibir Jennie dengan cepat sebelum akhirnya bangkit dari tempat duduk untuk melanjutkan masakan Jennie yang belum selesai.

“Aku ikut, By.”

Jennie sudah hendak bangun dari duduknya namun Jisoo langsung menggeram lirih, membuat Jennie mengurungkan niatnya.

“Istriku, kamu cukup duduk saja. Bisa ya sekali-sekali menurut dengan suamimu ini?” Tanya Jisoo gusar dengan suara tegas khas husky-nya itu.

Alih-alih merasa takut, Jennie justru terkekeh. Jika diingat-ingat, dirinya akhir-akhir ini memang jarang sekali menurut dengan larangan-larangan Jisoo. Bukan karena tidak menghargai Jisoo tetapi karena kebanyakan larangan-larangan Jisoo tidak masuk akal, maka dari itu Jennie lebih memilih untuk mengabaikannya.

Seperti saat Jisoo melarangnya untuk sekedar membantu Ibu Seo menyirami taman bunganya dengan alasan tamannya terlalu luas, Jisoo takut jika Jennie akan kelelahan karena berjalan kesana-kesini jika menyirami tanaman.

“Sudah, kamu duduk saja. Kamu bisa memberi instruksi dari sana biar aku yang melakukannya. Ini kamu akan memasak apa, sayang?”

Jennie pun menjelaskan konsep makan malam mereka dari makanan apa saja yang akan dihidangkannya. Dengan fokus penuh Jisoo mengikuti semua instruksi yang Jennie berikan.

Tiba-tiba saja Jennie teringat ada satu sentuhan lagi yang seharusnya ia lakukan untuk merayakan ulang tahun Jisoo.

“Mau kemana lagi, Jendeuk?” tanya Jisoo ketika melihat Jennie yang berusaha untuk bangun lagi.

“Aku harus berganti baju dan berdandan. Masa di ulang tahunmu aku hanya memakai gaun tidur dan cepolan seperti ini. Mukaku juga pasti jelek sekali.”

Jisoo menggeram kesal. “Tidak perlu. Kamu sudah sangat cantik walaupun seperti itu.”

“Tapi, By…”

“Tidak ada tapi-tapian, istriku.” Potong Jisoo. “Lagipula aku lebih suka kamu memakai gaun tidur seperti itu, lebih mudah.”

Jennie mengerutkan keningnya bingung. “Lebih mudah untuk apa?”

Jisoo mendongak dan bertemu tatap dengan Jennie. Pria itu menyeringai dan menatap Jennie lekat.

“Untuk menuju tempat yang ingin aku tuju nanti.”

Kerutan di kening Jennie langsung menghilang dalam sekejap, digantikan dengan mata yang membelalak ketika akhirnya ia memahami maksud suaminya itu.






{}.

Perayaan sesungguhnya aku up nanti malem ya 👉🏻👌🏻

Ramein dulu ya

Heal Me | Jensoo 🔚Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang