46|| oh, no!

1.4K 156 21
                                        

[HARD WARNING: EXPLICIT CONTENT🔞] please be wise!

Jennie gelisah.

Bukan hanya karena badai hujan yang sedang terjadi di luar hingga membuat aliran listrik di vila mati dan mengganggu sinyal ponselnya, tetapi juga karena kenyataan bahwa ia juga sesekali merasakan kontraksi di perutnya, meski masih jarang.

Jennie berusaha menghubungi Jisoo berkali-kali namun selalu tidak tersambung karena ponselnya memang tidak memiliki sinyal.

Semua ini salahnya. Jika saja ia mendengarkan Jisoo, pasti ia tidak akan sendirian sekarang. Pasti Jisoo akan menemaninya dalam kondisi seperti sekarang ini.

Jennie mencoba mengatur napasnya sambil mengusap lembut perutnya yang menegang berkat gelombang kontraksi yang sesekali muncul dan juga karena rasa gelisahnya. Jennie tidak tenang.

Apalagi dalam keadaan gelap. Jennie sangat begitu benci dengan kegelapan. Dia sangat berharap Jisoo akan segera datang lalu merengkuh tubuhnya guna memberikan ketenangan seperti yang sudah-sudah dia lakukan jika Jennie sedang dalam ketakutan.

Kemudian tak lama, tiba-tiba terdengar derap langkah seseorang berbarengan dengan semua lampu di vila menyala dengan terang.

BRAK!

Suara pintu terbuka dan tertutup kembali secara kasar menampilkan sesosok pria yang begitu Jennie kenal dan... sangat tidak diharapkan kedatangannya.

"Kim Jennie..."

Suara itu terdengar lagi, suara yang sangat Jennie benci sekarang.

Dengan jantung yang berpacu begitu cepat, ia memberanikan diri untuk membalik tubuhnya, mengonfirmasi siapa sosok yang memanggilnya.

Jihoon.

Itu benar-benar sosok pria itu, yang berdiri kokoh seraya menyeringai. Jennie membulatkan matanya terkejut, sosok pria yang amat dikenalnya, lelaki kesayangannya dulu... bibir Jennie terbuka tapi tidak ada yang keluar, semuanya benar-benar mengejutkan.

"Jennie..." Jihoon kembali memanggilnya. Tatapan lembutnya ia berikan padanya, sebelum turun melihat perut buncit Jennie, bibir pria itu tersungging. "Itu... kamu mengandung anakku..."

Jennie memejamkan kedua matanya kuat-kuat. Ia berdoa dalam hati, bahwa ini semua hanya khayalannya saja, halusinasinya lagi, yang memang kerap melandanya akhir-akhir ini. Ia harap seperti itu! untuk waktu yang lama Jennie memejamkan mata.

Perlahan Jennie membuka kedua matanya...

Ia hanya bisa tersenyum miris, semuanya nyata! Sosok di depannya masih ada, menatapnya dengan penuh cinta.

Jantung Jennie seolah berhenti berdetak, ia mengepalkan tangan. Tiba-tiba, ia kesulitan bernapas. Dulu, ia amat menunggu pria ini, tetapi, ketika melihatnya dalam kenyataan, kenapa rasanya begitu menakutkan?

"Kamu merawat anak kita dengan baik, sayang."

Meski mematung, tatapan kosong Jennie mengarah pada Jihoon, yang terkekeh beberapa kali. "Kamu masih mencintaiku kan, Jennie? Kamu menikah dengan Jisoo hanya karena dia penggantiku sementara? Pasti pria tua itu yang menyuruhmu, bukan? Kamu hanya mencintaiku, kan? Aku datang untuk menjemputmu, sayang. Setelah ini kita akan hidup bahagia bersama dengan anak kita."

Tak kunjung mendapatkan balasan, ia berjalan menghampiri Jennie, memegang bahunya erat. "Kamu hamil anakku, Jen. Anakku yang sedang bertumbuh di perutmu ini. Ayo kita pergi bersama. Kamu hanya milikku."

Tubuh Jennie menegang, tangannya gemetar. Bibir mungilnya kemudian tanpa sadar menggumamkan nama pria yang sudah sangat dicintainya sekarang, yang selalu mengisi hatinya, memberinya keamanan dengan baik.

Heal Me | Jensoo 🔚Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang