e p i l o g

2.3K 173 46
                                        

Jennie terbangun dengan kondisi rumah yang sepi, tidak seperti biasanya. Ia terbiasa dibangunkan oleh rengekan Ryuka yang terdengar dari baby monitor atau Jisoo yang bangun lebih dulu kemudian selalu menghujaninya dengan kecupan di seluruh titik wajahnya.

Tempat tidur ukuran besar itu hanya ia tiduri sendiri. Pria favoritnya tidak ada di sampingnya. Hari ini hari Sabtu, mestinya Jisoo tidak pergi ke kantor. Lagipula, seingatnya si suaminya itu tidak memiliki jadwal bertemu kolega ataupun rekan bisnis akhir pekan ini.

Mengenakan dress rumahan longgar favoritnya, Jennie bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Menuntaskan buang air kecilnya yang akhir-akhir ini sering kali dan juga untuk membersihkan wajahnya.

Setelah semua selesai, Jennie bergegas menuju dapur, menyiapkan sarapan untuk suami serta putra pertama mereka yang pastinya sudah kelaparan mengingat sekarang sudah pukul delapan pagi.

Namun, Jennie malah menemukan pemandangan yang begitu indah dan damai. Suaminya sedang fokus menuangkan susu ke dalam gelas, sementara putra mereka berada dalam gendongannya. Dada bidang Jisoo memang menjadi sandaran favorit semua orang di rumah ini, terlebih bagi Jennie.

“Selamat pagi, Abang Ryu.” Ucap Jennie sambil mencium kening dan pipi tembam anaknya.

“Selamat pagi juga, Daddy Chu.” Kali ini Jennie mencium pipi Jisoo. Ia harus berjinjit untuk melakukannya.

Jisoo tersenyum dan membalas dengan ciuman di bibir. Seorang bayi tampan yang terhimpit merengek protes karena merasa tergencet.

“Mommy, mau Mommy.” Celotehnya sambil tangannya meraih Jennie, meminta digendong.

Di usianya yang baru menginjak tiga tahun, bayi menggemaskan itu sudah bisa berbicara dengan jelas bahkan sangat komunikatif jika diajak berbicara. Ryuka tumbuh menjadi anak yang begitu cerdas dan memiliki hati yang murni. Seperti daddy-nya, Ryuka benar-benar mengikuti jejak Jisoo tumbuh menjadi seorang yang luar biasa.

Jennie lantas mengambil Ryuka dari gendongan suaminya. Sempat ada raut khawatir di wajah Jisoo, mengingat perut Jennie yang sudah buncit sekali dan Ryuka yang semakin berat. Jennie mengangguk seakan meyakinkan bahwa mereka akan baik-baik saja.

“Tadi Ryuka terbangun pagi sekali. Masih demam sepertinya, Jendeuk.” Ungkap Jisoo sambil menuang madu di atas panekuk buatannya.

Segera Jennie meraba kening dan leher Ryuka, mengecek suhu tubuhnya. Memang masih demam namun tidak ada gejala lain yang serius. Semenjak pulang dari berkunjung ke makam ayah kandungnya, Ryuka mendadak menjadi lebih pendiam tidak aktif seperti biasanya. Si anak kecil itu juga lebih menempel kepada Jennie daripada Jisoo. Padahal keseharian Ryuka, dia tidak akan melewatkan satu detik pun untuk tidak menempel kepada daddy kesayangannya. Entahlah, mungkin karena efek dari kondisi tubuh Ryuka yang sedang sakit, dia lebih memilih menempel kepada mommy-nya.

“Kenapa aku tidak dibangunkan, By?” Tanya Jennie.

“Kamu terlihat sangat kelelahan karena semalam, Jendeuk. Aku jadi tidak tega membangunkanmu.” Jawab Jisoo dengan senyum meledeknya.

“Nakal!” Rengek Jennie seraya menginjak kaki Jisoo. Sebenarnya ia hendak mencubit lengan Jisoo, namun kedua tangannya penuh karena menggendong Ryuka, memastikan tubuh anaknya itu tidak menekan anak kedua mereka yang masih tumbuh di dalam rahimnya.

“Tapi kamu suka kan, sayang?” Goda Jisoo sambil menyuapkan potongan panekuk ke mulut Jennie.

Jennie hanya bisa tertawa sambil menikmati panekuk terenak yang pernah ia rasakan. Suami tercintanya itu memang sangat ahli jika sudah memegang peralatan dapur. Apapun yang Jisoo masak, otomatis menjadi makanan kesukaan Jennie.

Heal Me | Jensoo 🔚Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang