WARNING!!
DILARANG PLAGIAT!
DAN DIHARAPKAN BAGI PEMBACA UNTUK VOTE DAN KOMEN SEBAGAI TANDA PERNAH SINGGAH!!
SAYA SEBAGAI PENULIS SANGAT AMAT BERTERIMA KASIH😘❤️❤️❤️
.
.
.
Jika mengejar cintamu itu harus menanggung konsekuensi yang besar,
Aku siap, a...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Aku ingin melupakan, tapi setiap kali aku mencoba, hatiku terus meneriaki namanya. Seakan dunia ini hampa tanpa dia. Namun meskipun begitu, aku akan berusaha."
-Alfarel Garendra-
. . .
Di sebuah kafe kecil yang terletak di jalan sepi, suasana hangat dan penuh keakraban menyelimuti setiap sudut ruangan. Lampu gantung antik yang tergantung di atas meja-meja kayu memberikan cahaya lembut, menciptakan bayang-bayang yang menari di dinding. Di balik jendela besar, sinar matahari sore menembus perlahan, menyinari ruangan dengan sentuhan keemasan yang menenangkan.
Di salah satu meja pojok, Alfa duduk menyendiri, menatap secangkir kopi hitam yang mengepul. Wajahnya tampak serius, seperti tenggelam dalam kenangan atau pikiran yang mendalam. Aroma kopi yang harum bercampur dengan wangi kue-kue baru dipanggang mengisi udara, mengundang pengunjung untuk menikmati momen kehangatan.
Tak lama kemudian, seorang cewek dengan penampilan sederhana namun memikat memasuki kafe. Dia mengenakan jaket kulit hitam, celana jeans longgar, dan sepatu boots yang membuatnya terlihat percaya diri dan tomboy. Rambutnya dipotong pendek, sedikit berantakan, menambah kesan bebas dan tegas. Tatapan pertama mereka bertemu dalam diam, seolah ada sesuatu yang tak terucapkan. Alfa mengangkat pandangan, matanya yang tajam bertemu dengan tatapan lembutnya. Ada perasaan aneh yang segera mengalir di antara mereka, meskipun kata-kata masih terbungkam oleh suasana yang mendalam.
Sambil berjalan ke arah meja Alfa, cewek itu tersenyum canggung. "Sorry, gue datang agak telat," ucapnya sambil duduk.
Alfa hanya terdiam.
"Eh, kenapa lo mau ketemu sama gue? Apa karena lo penasaran tentang hubungan gue sama dia?"
"Iya."
"Seberapa penasaran lo?" tanya cewek itu sambil tersenyum.
Alfa hanya terdiam, menatap cewek itu yang tampak mirip dengan seseorang di masa lalunya. Mata coklatnya yang berbinar indah, bibir mungil yang tersenyum cerah, semuanya terasa nyata, membawa rasa nostalgia bagi Alfa. Namun, perasaan itu sangat berbeda saat bersama dengan sosok di masa lalunya.
"Gimana setelah lo ngeliat muka gue? Apa yang lo rasain?" tanya cewek itu lagi melihat respon Alfa yang hanya terdiam.
Alfa tetap diam.
"Lo jatuh cinta?"
"Lo mirip sama dia, tapi lo bukan dia!" Perkataan Alfa membuat cewek itu terdiam.
"Semirip apapun lo sama dia, itu nggak bakal bisa ngebuat gue ngelupain dia selamanya. Karena gue nggak akan pernah bisa mencintai orang lain, selain dia."
Cewek itu menghela napas pelan. "Seberpengaruh itukah dia di hidup lo? Sampai-sampai gue yang mirip sama dia aja nggak bisa gantiin dia di hati lo?!"
"Mustahil!"
Alis cewek itu mengerut bingung. "Mustahil? Maksudnya?"
"Lo sama dia, beda!"
"Beruntung banget ya dia? Meskipun dia udah nggak ada, pacarnya tetap cinta sama dia. Iri deh gue," tutur cewek itu sambil cemberut.
Alfa tersenyum tipis. "Gue yang beruntung bisa dicintai begitu hebat sama dia. Padahal gue cuma cowok sial yang penuh cobaan."
"Jangan ngerendahin diri lo, Alf. Lo nggak sesial itu kok."
"Thanks!"
Cewek itu menatap Alfa dengan tatapan yang sulit diartikan. "Alf, seandainya dunia lo sekarang cuma mimpi, dan di dunia nyata sana ada dia, lo bakal pilih apa? Tetap di dunia ini atau di dunia dimana ada dia?"
"Tentu aja, gue bakal pilih dunia dimana ada dia."
"Meskipun dia lupa sama lo?"
Alfa terdiam sejenak. "Dia pernah bilang ke gue, kalo dia lupa gue, gue cuma perlu muncul di hadapannya dan dia bakal jatuh cinta lagi."
"Dan lo percaya?"
"Gue... harus percaya?!"
Cewek itu terdiam.
"Tapi semuanya percuma kan? Apa yang lo omongin itu cuma seandainya, bukan kenyataan."
"Kalo itu bener-bener nyata?"
"Gue berharap itu nyata, karena gue kangen sama dia!"
Cewek itu menunduk, sejenak terdiam, seperti meresapi setiap kata yang keluar dari mulut Alfa. Setelah beberapa detik, dia mengangkat kepala dan menatapnya dengan tatapan yang lebih dalam.
"Lo yakin nggak ada jalan lain? Maksud gue, mungkin ada hal-hal yang bisa lo lakuin buat move on, buat ngelupain dia," tanya cewek itu, suaranya lebih lembut daripada sebelumnya.
Alfa menghela napas panjang, matanya masih terfokus pada cangkir kopi yang kini sudah mulai dingin. "Gue nggak tau... Gue udah coba, tapi setiap kali gue coba, selalu ada yang nggak beres. Rasanya kayak ada yang hilang."
"Dan lo ngerasa, kalau lo ngelupain dia, lo bakal kehilangan bagian dari diri lo, kan?" cewek itu bertanya, kali ini tanpa mengalihkan pandangannya dari Alfa.
Alfa hanya mengangguk perlahan, sesaat merasa kosong di dalam dada.
"Kadang, kita perlu melepaskan sesuatu untuk bisa maju, Alf," ujar cewek itu pelan. "Mungkin lo nggak harus lupa sama dia, tapi lo bisa coba untuk belajar hidup tanpa dia, buat diri lo sendiri."
"Sulit!"
"Gak sesulit itu, kalo diri Lo mau. Lo cuma perlu mulai dengan ngelihat segala sesuatu dengan cara yang berbeda. Jangan terlalu terjebak sama kenangan yang udah lewat. Hidup lo nggak harus berhenti di satu titik."
Alfa memandang cewek itu lama. "Thanks, atas perspektif baru dari lo. Tapi ngelakuin itu sekarang, kayaknya gue belum bisa."
"Nggak usah terburu-buru," jawab cewek itu dengan senyum tipis. "Kadang, yang penting itu lo bisa dengerin dan ngerti sendiri."
Alfa mengangguk pelan, meresapi kata-kata cewek itu. Meski hatinya masih terasa berat, ada sedikit harapan yang mulai tumbuh. Cewek itu tersenyum, bangkit dari kursinya, dan menyentuh bahu Alfa ringan.
"Lo nggak sendiri, Alf. Waktu yang bakal bantu lo," katanya sebelum melangkah menuju pintu.
Alfa menatapnya pergi, rasa terima kasih mengisi hatinya. Mungkin, meskipun sulit, ada cara untuk terus melangkah.
___________
"Jika benar yang ku tempati saat ini dunia mimpi, dan kamu ada di dunia nyata sana, panggil namaku dan aku akan bangun, memelukmu erat, dan tak akan pernah melepaskanmu lagi. Karena dalam setiap mimpi, aku merindukanmu, dan dalam setiap kenyataan yang tak terjangkau, aku berharap hanya kamu yang mampu membangunkanku. Hanya dengan suaramu, aku merasa kembali hidup. Hanya dengan kehadiranmu, dunia ini terasa lebih berarti. Aku tahu, meski kita terpisah oleh jarak, aku akan selalu berusaha menemukan cara untuk kembali ke dunia yang sama denganmu, di mana aku bisa merasakan kehangatanmu dan mencintaimu tanpa batas." -Alfarel Garendra-
______________
Seperti biasa, jangan lupa follow akun, vote cerita dan komen
Dan terima kasih sudah bersedia membaca cerita ini
Saya sebagai penulis dari cerita ini sangat bangga bisa menyelesaikan cerita ini sampai tamat, dan saya berharap para pembaca sekalian bisa merasa bahagia dengan extra part ini!!!