WARNING!!
DILARANG PLAGIAT!
DAN DIHARAPKAN BAGI PEMBACA UNTUK VOTE DAN KOMEN SEBAGAI TANDA PERNAH SINGGAH!!
SAYA SEBAGAI PENULIS SANGAT AMAT BERTERIMA KASIH😘❤️❤️❤️
.
.
.
Jika mengejar cintamu itu harus menanggung konsekuensi yang besar,
Aku siap, a...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
"Tanpa kamu tau aku selalu menceritakan tentang dirimu pada orang lain."
-Alatera Andhira-
....
Tera menuruni anak tangga seraya menguap. Rambutnya yang tergerai bebas, begitu acak-acakan karena baru saja bangun dan belum sempat ia perbaiki.
Tera mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Mencari sosok ibunya yang tak kunjung terlihat.
"Bunda?" panggil Tera dengan suara keras.
"Di ruang keluarga sayang," balas sang ibu dengan suara yang juga keras.
"Bunda tumben udah di depan tv?"
Wanita itu menoleh ke arah Tera. "Bunda lagi bosen aja, jadi mau nonton."
Tera menganggukkan kepalanya pelan. Ia menidurkan kepalanya ke paha Amanda. Sebelah tangan Amanda terangkat mengelus kepala Tera.
"Sayang!" panggil Amanda.
"Iya Bunda? " balas Tera dengan mata terpejam.
"Kamu tau gak, Chika bakal dateng ke sini besok."
Tera membuka matanya sambil menatap Amanda. "Bunda serius? "
"Iya! Kamu mau jemput dia gak besok?"
"Mau dong," jawab Tera dengan senyuman lebarnya.
"Tapi kayaknya Bunda gak bisa nemenin kamu jemput Chika deh," pungkas Amanda.
"Kenapa?"
"Soalnya Bunda besok harus anterin makan siang buat Ayah, Chika besok datengnya siang bertepatan dengan makan siang Ayah. Kamu gak apa-apa sendiri jemput dia? Atau mau ditemenin sama Tante Salsa?" tuturnya.
"Aku aja sendiri!"
***
Keesokan harinya, Tera yang saat ini berada di bandara melirik jam tangannya. Mata hazelnya mengedar menatap sekeliling bandara, mencari sosok sang sepupu di antara perkumpulan orang-orang. Ujung bibirnya terangkat membentuk senyuman lebar saat menemukan sang sepupu yang sedang menyeret koper.
"CHIKAAA! " teriaknya begitu nyaring seraya berlari ke arah Chika.
"TERAAA! " Chika Vanessa, sepupu Tera itu ikut berteriak memanggil anak dari kakak ibunya itu tak kalah nyaring.
"Gue kangen banget ama lo," ujar Tera mendekap Chika dengan erat. Melampiaskan rasa rindunya yang terpendam pada sepupunya itu.
"Gue lebih kangen ama lo, Ra! " Chika mencium pipi Tera membabi buta, membuat cewek itu mengerucutkan bibirnya kesal.
Tera melepaskan dekapannya. Ia mengusap pipinya yang dicium Chika dengan kasar.
"Kebiasaan lo gak pernah berubah ya? Masih kayak anjing," tutur Tera.
"Dasar sepupu kagak ada akhlak."
"Kalo gue kagak ada akhlak, gue kagak bakal jemput lo bangke."
"Temenin gue jalan-jalan ya? " pinta Chika.
"Lo kagak capek? "
"Sebenarnya gue capek, tapi gue kangen ama suasana kota disini!"
"Ke rumah gue dulu buat naroh koper lo, masa lo mau jalan-jalan bareng gue bawa koper? Kan gak lucu! Sekalian kita pake motor jalan-jalannya, nanti gue yang bonceng."
"Emangnya lo punya sim? Jangan belagu, nanti ditangkep pakpol."
"Sorry ye sis! Selama gue bawa motor di jalan raya, gue belum pernah tuh ditilang ama pakpol!?"
"Awas kalo lo ditangkep, gue bakal ketawa paling depan."
"Sorry lagi ya sis, itu kagak bakal terjadi. Karena apa? " Tera menatap Chika dengan senyuman miring. "Karena ada Om Galih yang jadi bekingan gue." Tera berkata dengan sombong.
"Terserah lo aja deh," ujar Chika mengalah.
***
Disebuah caffe dengan nuansa alam dengan banyak pohon hijau dan bunga hijau yang menyegarkan mata. Tera menatap Chika yang saat ini tengah sibuk memakan kue red velvet miliknya.
"Chika," panggil Tera.
"Hmm! "
"Chik, "panggil Tera lagi.
"Apa?"
"Lo tau kan gue sering cerita ke lo tentang seseorang yang gue suka?"
"Ya terus? "
"Kemarin, gue udah mau nembak cowok yang gue suka." Tera berucap pelan.
"Terus gimana?"
"Tapi malah gak jadi."
"Hah? Seriusan lo? Kenapa bisa? "
Tera menghela nafas dengan lesu. "Gagal karena saat gue mau manggil dia, eh malah ada yang lebih dulu manggil dia. Jadi gue gak jadi nembak dia!" pungkas Tera.
"Kenapa gak lo tembak saat pulang sekolah njir?"
Tera mengigit bibir bawahnya. Ia memandang Chika dengan ragu.
"Kenapa lo? "
"Gue ... " Tera terdiam, bingung ingin berkata.
"Lo kenapa?"
"Gue jadi ragu lagi buat nembak dia," kata Tera dengan kepala menunduk.
Chika menopang dagunya dengan sebelah tangannya seraya matanya menatap Tera dengan intens. Mencoba menelisik sepupunya itu.
Tera mendongak saat merasa Chika memperhatikannya begitu intens. "Ngapain lo natap gue kayak gitu? " tanya Tera.
"Gue cuma gak percaya aja, masa seorang Alatera Andhira yang gue kenal selalu penuh percaya diri dan optimis masa ragu!? "
Tera menyentuh dadanya. "Ini itu tentang perasaan Chika, ya jelaslah gue rada ragu." Ia berkata dengan sedikit kesal.
"C'mon Tera, lo suka cowok itu udah lama banget. Kalo gak salah udah dua bulan sejak lo jadi murid baru, dan lo masih ragu? "
"Masalahnya bukan seberapa lama gue suka ama dia, tapi apa dia bakal nolak gue? Gue takut ditolak Chik, " tutur Tera sembari mengacak rambutnya frustasi.
"Dan gue rasa, dua bulan itu masih baru Chika. Kalo udah setahun, itu baru udah lama." Tera melanjutkan.
Chika memutar bola matanya malas. "Lah itu kan tergantung seberapa suka dia ama lo, kalo dia gak suka mungkin dia bakal nolak lo. Dan dua bulan itu udah terhitung lama menurut gue."
Perkataan Chika yang begitu santai namun penuh sarkasme membuat Tera menjatuhkan kepalanya ke atas meja.
"Lo mah, sepupu lo lagi gegana lo malah buat gue tambah gak percaya diri. "
Chika menghela nafas. Gadis itu meraih tangan Tera untuk di genggamnya. "Yaelah, gue kan cuman bicara tentang fakta. "
"Tapi fakta yang lo ucapin itu sakit banget di hati gue. "