WARNING!!
DILARANG PLAGIAT!
DAN DIHARAPKAN BAGI PEMBACA UNTUK VOTE DAN KOMEN SEBAGAI TANDA PERNAH SINGGAH!!
SAYA SEBAGAI PENULIS SANGAT AMAT BERTERIMA KASIH😘❤️❤️❤️
.
.
.
Jika mengejar cintamu itu harus menanggung konsekuensi yang besar,
Aku siap, a...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
''Rasa kecewaku padamu bahkan tak membuat diriku berhenti mencintaimu."
-Alatera Andhira-
....
Tera memasuki kamar mandi sembari menguap. Baju piyamanya ia lepas satu persatu. Ia mulai menyalakan shower. Kepalanya ia angkat ke atas, matanya memandang shower yang menjatuhkan air dengan senyuman tipis.
5 menit ia habiskan mandi, Tera mulai meraih handuk biru pastel miliknya. Ia keluar kamar mandi seraya bersenandung.
Sebelah tangannya terangkat membuka lemari bajunya. Ia meraih seragam sekolahnya. Selepas memakai seragam sekolahnya, ia mulai menari-nari sambil mengeringkan rambutnya dengan pengering rambut.
Tera menatap dirinya di pantulan cermin. Kedua tangannya terangkat memperbaiki rambutnya. Merasa penampilannya sudah oke, ia meraih tas sekolahnya untuk disampirkan ke pundak nya.
"Fighting Ra, lo pasti bisa! "
Tera berjalan menuruni anak tangga sambil bersenandung. Mata hazelnya yang melihat kedua orang tuanya sudah berada di meja makan membuat senyuman terbit di bibirnya. Ia melangkahkan kakinya mendekati kedua orang tuanya itu.
"Pagi Ayah Bunda," sapa Tera.
"Pagi juga sayang," sahut Amanda.
"Pagi juga princess Ayah," timpal Chandra.
Tera meraih roti yang sudah diberikan selai coklat itu. Ia menatap kedua orang tuanya dengan senyuman manis. "Ayah Bunda, doain ya?"
"Doain apa?"
"Doain aja semoga apa yang aku lakuin lancar jaya, gak ada hambatan." Tera berkata dengan mulut yang dipenuhi roti, membuat kedua pipinya yang sudah tembem semakin tembem.
"Kalo itu tentang kebaikan, pastilah Bunda doain."
Ia meraih susunya dan mulai meminumnya dengan rakus. "Ini kebaikan kok Bunda, kebaikan untuk hati aku yang udah berusaha."
Amanda menghela pelan, lalu wanita paruh baya itu tersenyum tipis. "Bunda bakal doain."
"Bunda janji ya?"
"Iya sayang," balas Amanda.
"Ayah juga harus doain aku, karena katanya doa orang tua adalah kunci sukses anaknya loh?!"
"Iya, Bunda sama Ayah bakal doain kamu."
"Makasih Bunda dan Ayah Tera yang paling cantik dan ganteng sedunia."
***
Tera berhenti sejenak. Ia menolehkan kepalanya menghadap jendela kelas. Menelisik penampilannya sebelum benar-benar menghadap ke cowok yang disukainya. Cewek itu menghela nafas pelan berusaha meredakan kegugupannya.
Jantungnya berpacu begitu cepat.
Tera mengepalkan kedua tangannya. Ia memejamkan matanya sejenak. Lalu kembali menghela nafas. Matanya ia buka perlahan-lahan. Ujung bibirnya terangkat membentuk senyuman.
"Tera! Lo harus inget, lo pasti bisa! "ucapnya menyemangati dirinya sendiri.
Tera menyemangati dirinya yang begitu gugup dalam hati. Mata hazelnya membulat saat melihat sosok Alfa yang berjalan sendirian di koridor. Untung saja saat ini koridor sedang sepi, itu memudahkan dirinya bisa menjalankan aksi untuk me nembak Alfa tanpa harus dilihat teman sekolahnya.
Dengan penuh keyakinan dan keberanian meskipun rada gugup, ia melangkahkan kakinya menghampiri Alfa.
"Alfa tunggu! "
Tera berhenti dihadapan Alfa. Hal itu membuat Alfa menghentikan langkahnya. Cowok itu menatap Tera bingung.
Tera terdiam sejenak untuk mengumpulkan kembali keberaniannya dan berusaha mengontrol kegugupannya dihadapan Alfa, cowok yang di cintainya. Tera meneguk ludahnya susah payah. Ia lalu menjilat bibirnya yang terasa kering kemudian mengeluarkan helaan nafas dari bilah bibirnya.
Cewek itu mendongak menatap Alfa dengan jantung yang semakin berdetak kencang. Meskipun begitu, ia tetap berusaha menampilkan senyuman manisnya ke Alfa.
"Alf, gue ... " Tera menggantung ucapannya membuat Alfa mengangkat satu alisnya menunggu kelanjutan ucapan Tera.
Tera memejamkan matanya dan kemudian berteriak, "GUE SUKA AMA LO!"
Ekspresi Alfa yang tadinya penasaran langsung tergantikan dengan ekspresi datar.
Tera menunduk dengan kedua tangannya yang saling meremat gelisah seraya bibir bawahnya ia gigit karena gugup. "Lo mau gak, jadi ... pacar gue?!"
"Gak! " tolak Alfa dengan tegas.
Tera mendongak menatap Alfa dengan kecewa. "Ke-kenapa? "
"Karena gue, gak suka! "
Tera terdiam sejenak. "Tapi kalo gue bisa buat lo suka sama gue, gimana? "
"Tetep gak bisa! Karena sampai kapan pun, gue gak bakal pernah suka. "
"Apalagi kalo itu perempuan," lanjut Alfa.
"Ma-maksud lo? " Tera terdiam sejenak. "Jangan bilang kalo lo ... "
Alfa menunduk, lalu mendekatkan wajahnya ke arah telinga Tera. "Gue ... gay! "
Tera berdiri kaku. Ia sedikit mundur ke belakang, merasa tak percaya dengan perkataan Alfa. Cewek itu mendongak menatap Alfa dengan perasaan campur aduk.
Alfa berjalan pergi dari sana, meninggalkan Tera yang membatu di tempatnya.
"Alfa gay?" Tera bergumam pelan.
Itu tidak mungkin! Cewek itu masih merasa tak percaya dengan apa yang didengarnya tadi meskipun kalimat itu keluar dari bibir Alfa.
Tera mengepalkan kedua tangannya. Matanya menatap kosong ke depan."Gak mungkin!"
"Tapi kalo itu emang bener?"
Tera menutup wajahnya. Merasa hancur saat mengetahui fakta tentang Alfa. Alfa yang dicintainya secara diam-diam selama 5 bulan, Alfa yang menjadi sosok pangeran impiannya, Alfa yang begitu sempurna dimatanya ternyata adalah gay?!
Tera tertawa paksa. Menertawakan nasibnya yang begitu sial hari ini. Matanya berkaca-kaca. Ia tidak ingin percaya, namun bagaimana caranya? Bahkan Alfa sendiri yang berkata seperti itu. Lalu bagaimana dirinya harus tidak percaya pada kenyataan yang sudah jelas itu?
Tapi meski mengetahui fakta yang menyakitkan itu, Tera bahkan tak bisa membenci Alfa. Bahkan rasa cintainya pada cowok itu juga tak membuatnya berhenti. Lalu apa yang harus ia lakukan ke depan nya? Menyerah? Atau bertahan dengan rasa kecewa dan sakit?