"apa kalian siap?!"
Di sebuah bukit, jauh dari istana terlihat ketiga pemuda sedang berdiri dengan pedang mereka masing-masing.
Blaze menggenggam kuat pedangnya, matanya berbinar tidak sabar. "YOSH! Tentu saja." Kuda-kuda terpasang dengan sangar. Sangat berbeda dengan Thorn yang terlihat bergetar menggemgam pedangnya.
Taufan memandang kedua adiknya, uhhh sangat amat bertolak belakang.
Uhh apa yang harus ku ajarkan? Teknik pernafasan? Uhh itu saja batin Taufan, memandang kedua adiknya lagi dan lagi.
"Baiklah, Abang akan tunjukkan beberapa skil yang Abang buat sendiri tau" bohong Taufan sembari berbisik di telinga kedua adiknya. Kedua adiknya tanpak bersemangat, mereka berdua duduk di bawah pohon menyimak seluruh gerakan yang dipertunjukkan oleh kakak mereka.
Taufan berdiri agak jauh dari mereka, mengangkat pedang kayu secara horizontal di atas kepalanya. Berbisik pelan, "San no kata: Kasan no Shibuki." Tebasan melingkar indah terbentuk, bersamaan dengan deruan angin yang menerbangkan apa saja di depannya. Angin kuat yang dihasilkan membuat rerumputan bergerak liar, daun-daun dipohon bergerak hampir terlepas dari tangkai mereka.
Tebasan terlihat simpel, namun sangat amat cocok untuk pertahanan. Membuat dua insan memandang kagum.
"Woahhh bang Taufan! Ajarkan kitorang!"
Seruan kedua adiknya yang bersemangat, membuat Taufan tersenyum. Dari embun pagi, sampai matahari terlihat terik. Mereka menghabiskan waktu untuk mempelajari teknik itu.
"Woah jadi nanti kalau laze dah dapat pedang macam Abang Taufan dengan pangeran mahkota, bolehlah blaze salurkan macam tadi!"
Taufan mengangguk, thorn tanpak berfikir sebentar. "Kalau kata Abang Taufan, Thorn dapat tak buat teknik sendiri macam Abang Taufan," suara thorn nyaris tak terdengar. Bergumam dalam sunyi, namun cukup terdengar bagi Taufan dan Blaze yang duduk tepat berdekatan dengan dirinya.
Taufan memandang raut wajah adiknya yang sedari tadi terus melakukan kesalahan, tanpak menunduk. Dapat ia simpulkan bahwa mungkin pangeran keenam ini mungkin salah satu pangeran dengan teknik perpesanan terburuk, sesuai dengan yang ia baca.
Dengan senyum kecil, Taufan mendepetkan tubuhnya. Dan merangkul bahu sang adik. "Thorn, semua hal yang ingin kita lakukan membutuhkan proses yang sangaaaaat lama. Kalau thorn nak sehebat Abang Taufan dan Abang blaze, Thorn mesti berusaha lebih lagi tau. Ah~ siapa yang kejap lagi ulang tahun nih ha~" Taufan mencubit hidung thorn, membuat sang empu tertawa. Blaze yang sedari tadi menyimak mendatangi mereka.
"Ha! Benar tuh. Kalau Abang Taufan tak sempat ajarkan thorn, laze janji akan ajarkan thorn nanti." Blaze memegang pinggangnya dengan tawa khas nya, thorn langsung berdiri dengan tatapan tak percaya.
"Serius nih?!"
"Yelah! Apa lagi yang tak buat thorn kan~"
Thorn berseru senang, memeluk blaze dengan erat. Taufan dalam diam tersenyum.
Dua trouble,berhasil di satukan
Akhirnya mereka menghabiskan waktu untuk berbincang, dan kembali berlatih bersama dengan. Thorn dengan arahan blaze mengayunkan pedang mereka secara berbarengan. Taufan memandang mereka sembari bertengger di atas pohon.
Dari jauh, terlihat kedua remaja memandang mereka.
"Bagaimana menurut anda pangeran mahkota mengenai perkembangan pangeran Taufan?"
Gempa memandang sang pangeran mahkota, yang masih terpaku pada mereka bertiga.
"Berhenti memanggilku seperti itu gem. Kita hanya berdua ingat. Lagi pun ... Tidakkah menurutmu Taufan sedikit ... Aneh akhir-akhir ini?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Improving The Future(Hiat!)
FantasySinopsis Muichiro Seorang Pillar Kabut dengan penampilan yang terlihat seperti perempuan, Muichiro Tokito ini merupakan salah satu Pillar terkuat, namun harus terbunuh oleh Upper Moon pertama yang bernama Kokushibou karena kekuatan Kokushibou berad...
