34~SiPretty

1.9K 30 11
                                        


Ruang pengobatan di rumah sakit itu sepi, hanya terdengar suara rintik hujan yang mulai turun di luar jendela. Cahaya putih lampu ruangan membingkai wajah Zio yang tampak kusut, matanya sembab, dan darah yang mulai mengering di pelipisnya. Perawat dengan cekatan membersihkan lukanya, sementara Johan duduk tak jauh darinya, memandangi sahabatnya dengan tatapan penuh rasa bersalah.

"Lo harus tenang, Zio. Gue tau ini semua gila... tapi kita gak boleh kalah." Suara Johan parau, menahan emosi yang juga hampir meledak.

Zio menggertakkan gigi. "Dia lumpuh, Han... Vino lumpuh karena gue. Karena gue gak bisa jaga dia."

"Lo gak salah, Zio. Orang gila itu—Bastian—yang ngerusak semuanya. Lo cuma jadi korban."

Zio menoleh perlahan. "Tapi gue yang bawa dia ke tempat itu. Gue yang maksa dia ikut naik motor malam itu. Kalau aja gue gak maksa..."

Perawat menepuk pelan bahu Zio, menyelesaikan perban di kepalanya. "Kepalamu sudah dibersihkan. Jangan terlalu banyak gerak dulu ya. Kalian bisa istirahat di ruang tunggu lantai dua kalau ingin lebih tenang."

Zio hanya mengangguk lemah. Saat perawat pergi, Johan langsung berdiri dan menarik napas dalam.

"Ada yang harus lo tau, Zio. Ini gak cuma soal kecelakaan. Ini... lebih besar dari yang lo kira."

Zio menatap Johan. "Lo bilang tadi lo liat pelakunya. Lo yakin itu anak buah Bastian?"

Johan mengangguk. "Gue kenal dia. Bram. Dulu dia kerja buat bokap gue—jadi eksekutor. Bastian itu dulu kerja bareng bokap gue juga di jaringan gelap. Tapi sejak bokap gue mati, dia bikin kelompok sendiri. Lebih gila. Lebih kejam."

Zio mengepalkan tangannya. "Jadi dia sengaja nabrak kita."

"Yes. Dan gue yakin... dia gak akan berhenti sampai lo bener-bener hancur."

Zio terdiam beberapa saat, lalu bangkit dari kursi perawatan. "Kalau dia pikir gue bakal jatuh dan gak bangkit lagi, dia salah besar."

"Lo mau ngapain?"

Zio menatap Johan, matanya kini dingin, penuh tekad. "Kita bales, Han. Tapi gak frontal. Kita harus punya bukti. Kita harus main lebih cerdas."

Johan mengangguk pelan. "Gue ada info. Ada satu orang dalam kelompok Bastian yang mulai goyah. Namanya Reno. Dia sering dapet tugas ngawasin pergerakan target. Kalau kita bisa deketin dia... kita bisa dapet semua bukti yang kita butuhin."

"Dimana dia sekarang?"

"Dia kerja di sebuah tempat gym bawah tanah, tempat orang-orang Bastian sering nongkrong. Kita harus nyusup ke sana."

Zio menarik napas panjang. Ia tahu apa yang akan ia jalani tak akan mudah. Tapi demi Vino, demi keadilan yang dirampas darinya, ia rela terjun ke neraka.

---

BEER & BLOOD GYM
— MALAM HARI

Tempat itu penuh suara dentuman musik keras dan suara pukulan. Lelaki-lelaki bertubuh kekar sedang berlatih di ring bawah tanah, sebagian duduk menonton sambil tertawa keras, aroma alkohol dan darah bercampur di udara. Johan dan Zio masuk lewat pintu samping, mengenakan hoodie hitam dan topi rendah.

"Dia sering di pojok bar sana," bisik Johan, menunjuk ke arah seorang pria tinggi dengan tato ular melingkar di lehernya—Reno.

Zio memperhatikan, lalu berjalan mendekat pelan. Ia duduk di bangku sebelah Reno tanpa berkata-kata, memesan minuman dari bartender. Beberapa detik hening.

"Nama gue Zio," katanya pelan.

Reno menoleh, alisnya terangkat. "Gak penting. Gue gak suka ngobrol sama orang asing."

"Sayang banget. Padahal gue bawa tawaran buat lo."

"Tawaran?"

Zio menatap Reno tajam. "Lo kerja buat orang gila. Dan lo tau dia udah kelewat batas. Vino... pacar gue... lumpuh gara-gara dia."

Reno tertawa kecil. "Lo kira gue peduli sama korban? Gue dibayar buat kerja, bukan buat mikir."

"Berapa pun yang dia bayar, gue bisa lipat dua," sahut Zio dingin.

Reno menatap Zio serius kali ini. "Kenapa gue harus percaya lo?"

Zio membuka ponselnya, menunjukkan video rekaman CCTV kecelakaan yang sudah diperjelas oleh Johan. Wajah Bram terlihat jelas. Reno tampak kaget.

"Lo dapet ini dari mana?"

"Lo pikir dia bakal nyelametin lo kalau lo ketahuan? Bastian gak kenal loyalitas. Dia cuma kenal 'kebutuhan'. Hari ini lo dipakai. Besok lo dibuang."

Reno termenung. Wajahnya berubah serius. "Gue ada satu rekaman. Suara Bram sama Bastian waktu mereka rencanain kecelakaan lo. Tapi gue butuh jaminan."

"Apa?"

"Amankan gue dan adik gue. Kalau Bastian tau gue ngelawan, dia bakal bunuh kita."

Johan masuk ke percakapan. "Gue punya tempat aman. Lo tinggal kasih file itu sekarang."

Reno mengangguk. Ia mengeluarkan flashdisk dari dalam kalungnya. "Ini. Tapi inget... gue bisa mati kapan aja."

---

KEMBALI KE RUMAH SAKIT

Zio dan Johan menyerahkan flashdisk itu ke seorang pengacara tepercaya keluarga Johan—Pak Surya. Pria paruh baya itu mengenal seluk-beluk hukum dan dunia gelap Bastian.

"Isi flashdisk ini cukup untuk menjatuhkan dia. Tapi kita butuh penguat—kesaksian langsung dari korban."

"Vino belum sadar," ucap Zio lirih.

Pak Surya menatapnya. "Kalau begitu, kita harus buat pergerakan sebelum dia sadar. Karena setelah rekaman ini bocor, Bastian gak bakal diam. Dia akan balik menyerang."

Zio menatap ke arah jendela, melihat lampu-lampu kota yang berkedip di bawah langit mendung. "Biarin dia datang. Kali ini, gue siap."

---

MARKAS BASTIAN

Bastian berdiri di depan layar besar, menonton potongan rekaman CCTV yang tampaknya sudah bocor.

"Si bajingan Reno," gumamnya. "Dan si Zio... ternyata dia gak semudah itu dihancurkan."

Gerco berdiri di belakang, tubuh tegap dan diam.

"Suruh anak-anak siapkan diri. Kita bakal kasih pelajaran ke mereka. Gak ada yang berani ngelawan Bastian dan hidup."

"Baik, Tuan."

"Tapi jangan buru-buru. Kita buat mereka ngerasa aman dulu. Lalu kita tarik karpet di bawah kaki mereka..."

---

BEVERLY HILLS HOSPITAL – SEMINGGU KEMUDIAN

Vino akhirnya sadar. Tubuhnya lemah, tapi matanya terbuka dan bisa fokus.

Zio langsung menghampiri, menggenggam tangan kekasihnya. Air mata mengalir.

"Vin... lo sadar..."

Vino menatapnya pelan. Bibirnya bergetar. "...Zio..."

"Lo istirahat dulu, Vin. Gak apa-apa. Gue di sini..."

Vino mengerjapkan mata, lalu mencoba bergerak. Tapi tubuhnya tak bereaksi.

"Zio... kenapa gue gak bisa gerak..."

Zio terdiam. Air matanya pecah lagi. "Lo... lo kena cedera tulang belakang, Vin. Tapi kita bakal cari pengobatan terbaik, terapi terbaik..."

Vino menggigit bibir bawahnya. Rasa syok terlihat jelas di wajahnya. Tapi kemudian ia menatap Zio dan berkata, "Kita balas, Zio... Jangan biarin mereka bebas..."

Zio mengecup tangan Vino. "Kita bakal lawan bareng-bareng. Gue janji."

---

TO BE CONTINUED...

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 19, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

I AM NOT PRETTY,DAMNCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang