22

1K 57 18
                                        

POV NADINE

Jangan membahas ikhlas dengan ku, karena kalian tidak tahu bagaimana cara ku membangun ikhlas menikah dengan laki-laki yang tak aku inginkan, cintai bahkan kenal, namun itu aku di satu tahun lalu.

Sangkara mampu membuatnya ku mengerti artinya ikhlas, ikhlas menerima keadaan, menerima takdir dan ikhlas menerima dirinya sebagai suamiku.

Aku luaskan rasa sabar ku untuk hidup yang tak tentu, yang tak ku ketahui akan seperti apa satu tahun kedepan ataupun satu menit kedepan, tak ada yang tahu.

Ku relakan kepunyaanku menjadi miliknya, menjadi punya Sangkara, sudah ku cintai dirinya. Ikhlas ku sudah lebih dari mencintai dirinya.

Ku rasakan badan ku sakit saat bangun dari tidur, ku lihat di samping ranjang ada Sangkara di kursi rodanya sedang melihat ponselnya, ku duduk dan bersandar pada ranjang, baru sadar kami menghabiskan malam tadi sampai tak ingat waktu.

" Ada yang sakit? " tanyanya, aku menggeleng, hanya lemas saja.

Aku bangun dari ranjang, membersihkan tubuh ku dan menyiapkan sarapan. Kami sarapan bersama di meja makan, tak spesial, hanya nasi goreng yang hanya cukup untuk dua orang.

Hari ini ada jadwal terapi Sangkara di rumah sakit, aku menyiapkan semua yang diperlukan termasuk surat-surat yang harus dibawa.

" Saya enggak pergi. " Kegiatan ku memasukkan botol minum terhenti sejenak, menoleh ke arahnya yang membuang pandangan ke arah lain, aku menghampiri.

" Maksudnya? " tanyaku. Lagipun kalau ia tidak pergi lantas siapa yang harus terapi? Masa diriku?

" Gimana kalau hasilnya mengecewakan? " tanyanya. Aku menghela nafas panjang, menyamai tingginya yang duduk di atas kursi roda, " Namanya proses, dokter tau apa yang terbaik untuk kamu, berangkat ya? Udah aku siapin semuanya. " Ia melirik pada barang yang telah aku siapkan, mengambil nafas lalu mengangguk. Aku bernafas lega.

Aku selesaikan barang yang akan ku bawa, mendorong kursi roda Sangkara menuju mobil, aku yang akan menyetir.  Dengan susah payah, ku pindahkan Sangkara ke atas kursi mobil.

" Habis dari rumah sakit, kamu ada kerjaan? " tanyaku, ia menggeleng, " Saya mungkin ke kantor besok atau lusa, ada apa? " tanyanya kembali.

" Aku mau ajak makan siang di luar, kebetulan di sini ada tempat makan baru, tapi kalau kamu enggak capek, kalau capek, aku masak aja di rumah, " tawarku, mengerem mobil ketika lampu merah, meliriknya yang mengangguk.

Kami sampai di rumah sakit, sudah di depan ruangan menunggu giliran, " Mas, aku akan temenin kamu, " ujar ku saat melihat tangannya bergetar hebat, mungkin efek sudah lama tidak terapi.

" Saya takut, " ungkapnya.

Ku dengar suara racau nya.

Kini kami sudah di dalam ruangan, dengan dokter yang sedang melakukan terapi dengan Stimulasi Listrik. Aku hanya mampu pasrah ketika tangan ku dengan erat ia pegang, terlihat sangat sakit, aku sudah lemas lebih dulu.

" Yang rajin ya ke sini, jangan jarang, kalau enggak rajin nanti akan kembali ke semula, ini sudah bagus, sudah ada perkembangan, ototnya sudah mulai berkontraksi, setidaknya ada perubahan, kalau konsisten kemungkinan untuk sembuh lebih besar, " ucap sang dokter, ku lirik Sangkara yang masih lemas memegang kakinya.

Setelah selesai, aku dan Sangkara kembali ke parkiran, mendorong kursi roda sampai lift, " Kamu dengar kan apa kata dokter? " tanyaku, ia mengangguk memejamkan matanya.

" Jadi makan siang? " Ia mengangguk, terlihat dari pantulan lift. Di situasi hening seperti ini, aku jadi teringat kejadian malam tadi, ah sudahlah.

Kami sudah berada di restoran untuk makan, membantu Sangkara untuk menyuapinya, " Kamu masih mau kerja? " tanyanya, aku mengangguk, " Gaji saya masih kurang? " Aku menautkan alis ku, " Enggak, cukup kok, " jawab ku.

Kenapa dia tiba-tiba bahas gaji? Lagipula gajinya sudah lebih dari cukup.

Ia tak berbicara apa-apa lagi, sibuk dengan hidangannya yang berada di atas meja.

•••

Malam datang, dihiasi bulan serta bintang bertebaran di atas langit, menyempurnakan malam ku yang indah. Kini kamar sudah gelap, hanya tersisa lampu temaram yang berada di atas nakas.

" Mas, maaf buat semuanya, " ujar ku, melihat Sangkara sudah memejamkan matanya.

" Kamu enggak perlu terus-terusan minta maaf, saya sudah memaafkan kamu, saya sudah ikhlas dengan semuanya, saya sudah mencintai kamu. " Aku menyela air mataku yang turun tanpa ku minta.

Mas Sangkara membuka pejaman matanya, menatap ku dengan dalam, menggenggam erat tangan ku seolah aku akan pergi.

" Nadine, jangan tinggalin saya sendiri lagi, " pintanya dengan suara bergetar. Aku menggeleng, " Enggak, aku gak akan ninggalin kamu sendiri lagi, aku akan temenin kamu terus, maaf. " Ia mengangguk samar.

Ia mendekatnya tubuhnya pada ku, sedikit menyeret kakinya. Memeluk ku dengan erat, membawa ku pada pelukan hangat yang ia punya, dengan tubuh besar yang cukup untuk menutup tubuh ku yang kecil, membuat ku nyaman dengan wangi khasnya.

Tangan kekarnya mampu membuat ku nyaman dengan elusan di punggung, mengelus pipi ku yang masih menyisakan air mata, " Saya cinta kamu. " Satu kecupan mendarat di ranum bibir ku yang merah.

Malam itu menjadi malam yang cukup untuk aku mengakui kesalahan dan menerima cinta yang ia punya.



GUYSSSS YA AMPUN KANGENNNNN,  SATU TAHUN AKU MENGHILANG HUHU, MAAF YA :(

Guys aku bukan gak mau update, jujur ini draft yang udah ngetem, mati idenya makanya aku lama updatenya. Sorry guysss ☹️

Oh iya, mungkin ada perubahan penulisan, aku enggak akan jadi orang ketiga di sini ya, aku akan menulis jadi sudut pandang orang pertama alias Nadine, mungkin karena itu aku jadi lancar lagi, karena guys aku lebih enak menulis dengan sudut pandang orang pertama,  semoga kalian suka dan terima sama cara menulis aku yang baru. SEE YOU NEXT CHAPTER!!!

Maaf, Saya Lumpuh [ END ] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang