Satu tahun berlalu, semua luka terlewati, derai air mata menjadi tanda betapa beratnya yang dirasakan. Hinaan selalu di dapat, perkataan tak bisa sembuh tak akan bisa dihindari.
Pada tulang yang kaku, bersandar pada kursi roda, tak mampu bertapak di tanah, tak dapat menyusuri jalan yang indah, tak bisa merasakan basah tanah sehabis hujan. Kini segala hinaan yang terlontar terbungkam dengan ikhlasnya hati.
Sangkara sampai di hari kemenangannya, dihari ia bisa berjalan kembali. Menyusuri setiap tanah bercampur rumput, berjalan seperti dahulu.
Sangkara telah menang dari takdir yang begitu jahat kepadanya, derai air mata kesedihan berubah menjadi air mata euforia. Sangkara, ia menang, ia telah mampu berjalan kembali.
Jangan tanya berapa puluh liter air mata yang telah keluar, berapa ratus kata hinaan pada dirinya sendiri, berapa juta ia mengikhlaskan dirinya sendiri.
Kini ia menang.
Sangkara pulang dengan kemenangan, dokter mengatakan bahwa ia telah sembuh total. Air mata Nadine turun seketika, merasa setiap luka yang tergores pada diri Sangkara adalah lukanya juga.
Kesembuhan Sangkara adalah kesembuhan ia juga. Mereka berpelukan begitu lama di taman sudut kota. Tak duduk, ia berdiri, Sangkara berdiri di atas kakinya sendiri.
" Mas, kamu sembuh. " Sangkara memeluk erat tubuh Nadine, ini adalah pertama kali ia memeluk sang istri dengan posisi berdiri.
" Saya sembuh berkat kamu, terima kasih untuk semuanya, saya cinta sama kamu. " Nadine menggeleng tak membenarkan.
" Kamu sembuh juga berkat kegigihan kamu sendiri. Dulu kamu nggak bisa berdiri tegak seperti ini mas, sekarang kamu bisa peluk aku seerat ini. Aku bangga, " ujarnya. Sangkara menghapus air mata yang turun pada pipi Della.
Mereka menikmati angin yang berhembus kencang di taman ini, membiarkan rambut Nadine berterbangan tertiup angin. Nadine bersandar pada bahu Sangkara yang kokoh.
" Setelah ini saya bisa lagi lanjut kerja, saya bisa lagi olahraga. Rasanya saya rindu semua rutinitas yang saya kerjakan selama ini. " Nadine mempererat genggaman tangannya, " Jangan terlalu keras, aku nggak mau kamu sakit lagi. " Sangkara menghadap ke arah Nadine.
Tangannya ia taruh pada wajahnya, " Jangan khawatir, saya nggak akan sakit lagi. " Nadine menghela nafas, membuang pandangannya pada senja yang terlihat sangat indah.
Sangkara menangkup wajah Nadine, perlahan wajahnya mendekat, bibir mereka hampir menyatu. Di bawah langit jingga pangutan itu terjadi, ada rasa lembut dari bibir Nadine. Cinta di sore itu terasa sangat nyata, dunia terasa berhenti sejenak untuk menyaksikan pernyataan cinta dari keduanya.
" i love you, " bisik Sangkara di sela lumatan.
" I love you more, mas... "
•••
Mereka sedang menikmati makan malam di rumahnya, sekaligus merayakan kesembuhan Sangkara. Nadine memasak banyak untuk dibagikan pada tetangganya dan hanya meminta doa untuk kesehatan Sangkara.
" Saya seneng banget bisa makan di atas kursi bukan lagi di kursi roda, " ucapnya, Nadine tersenyum.
" Aku juga seneng mas bisa ceria lagi, mas nggak penuh beban. " Sangkara tersenyum menanggapi ucapan Nadine.
Suasana makan malam di isi dengan obrolan santai mereka berdua, hitung-hitung sebagai waktu untuk saling mengenal kembali.
Malam semakin larut, di kamar hanya tersisa lampu temaram di sudut ruangan. Sangkara mengelus kepala Nadine yang berada di dekapnya.
" Setelah ini kita bisa jalan-jalan berdua, " ujar Sangkara.
" Iya, aku kangen jalan sama mas. " Sangkara mengecup pipi Nadine.
Sangkara menaruh tangannya di tengkuk Nadine, " Sayang, saya mau hadiah spesial dari kamu, " reflek Nadine merinding mendengar suara berat Sangkara.
" Mas, kita nggak punya pengaman. " Nadine mendorong tubuh Sangkara yang semakin mendekat, membuat jarak udara semakin terkikis.
Bibir Sangkara telah menempel di telinga Nadine membuat desir darah Nadine terasa panas, hawa nafsu dari Sangkara terasa sangat ingin cepat dituntaskan.
" Saya janji nggak akan keluar di dalam, " lontarnya. Bibir Sangkara menyapu daun telinga Nadine, perlahan tangannya mulai bermain.
Nadine mati-matian untuk menahan desahannya saat bibir Sangkara mulai bermain di lehernya. Saat Sangkara mulai memanjakan tubuhnya dengan gerakan sensualnya.
" Kamu nggak perlu tahan suara itu, "
Kegiatan mereka terasa sangat panjang. Malam itu adalah malam penuh nafsu dari keduanya. Sangkara merasa puas dengan Nadine dan Nadine pun sama seperti Sangkara.
" Terima kasih, " ucap Sangkara mengecup lama kening Nadine. Nadine hanya mampu mengangguk dan mulai memejamkan matanya.
Sangkara tak terlelap, ia membiarkan istrinya untuk terlelap lebih dulu. Sangkara mengelus kepala Nadine, mengusap peluh keringat, mengelus pipi Nadine.
" Walau makian itu terlontar dari bibir manis kamu, saya akan tetap memilih kamu walau sakit. " Sangkara mengecup singkat sudut bibir Nadine.
Malam itu adalah penyatuan cinta yang paling berkesan bagi Sangkara. Setiap hinaan yang dulu Nadine lontarkan seolah berputar kembali di kepalanya, di memori yang hampir tak ada baiknya.
Tapi justru perjalanan itu ada hadiah baginya, cinta Nadine lama kelamaan tumbuh. Jika disuruh memilih, Sangkara akan tetap memilih Nadine walau perjalanannya tak mulus seperti yang ada di novel-novel.
Nadine mungkin yang membuat dirinya hancur berkeping-keping namun justru dari hancurnya itu Nadine lah yang membuat kepingan itu kembali tersusun rapi.
Tak ada dendam dalam hatinya, justru ada cinta yang semakin dalam.
Perangnya telah usai, kini ia bisa pulang pada pelukan cinta yang Nadine beri. Ia telah menang melawan sakitnya, melawan ego Nadine yang sangat keras.
Pada kehidupan selanjutnya Sangkara berharap akan bertemu Nadine kembali, menjalin cinta seperti sekarang dengan perjalanan yang tak seberat kehidupan ini.
Sangkara buang egonya, dibiarkan membusuk dalam tanah. Biarkan ia mengalah untuk Nadine, cintanya bukan main-main.
Sangkara mendekap erat tubuh istrinya, " Saya sayang sama kamu. "
Bulan menjadi saksi betapa besar cinta Sangkara pada Nadine. Jika nanti ia mati, berkujur beku menjadi mayit namun dalam tujuh menitnya akan selalu ada senyum Nadine yang tak akan pernah ia lupakan.
Inilah akhir dari kisah Nadine dan Sangkara.
Bagaimana guys dua tahun ini perjuangan Sangkara??
Ada yang mau bonus chapter?
Please coment and like guys, like dan komen kalian berharga buat aku.
Terima kasih yang masih setia baca Maaf, Saya Lumpuh.
Next nya akan ada cerita yang aku buat lagi, see you guyss.
KAMU SEDANG MEMBACA
Maaf, Saya Lumpuh [ END ]
RomansaBunyi-bunyian mengenai cinta dan sayang rasanya jauh dari lubuk hati Nadine. Menikah dengan pria lumpuh, tak bisa jalan dan ia bertugas merawatnya. Bukankah itu hal yang berat? Ia masih muda, haruskah ia habiskan untuk mengurus pria yang entah akan...
![Maaf, Saya Lumpuh [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/343115174-64-k959716.jpg)