BONUS CHAPTER

404 18 0
                                        

" Udah siap? " tanya Sangkara yang telah siap memakai baju batiknya. Nadine mengangguk sambil sesekali membetulkan tataan rambutnya.

Nadine berbalik ke kasur, melihat bayinya yang berumur enam bulan telah rapi dengan bajunya. Nadine menggendongnya, bersamaan dengan itu Sangkara membantu membawa beberapa perlengkapan di tas.

Mereka turun ke bawah, ingin menghadiri acara undangan pernikahan dari Arunya dan suami. Ternyata takdir telah membawanya jauh ke sini, semenjak sembuhnya Sangkara, Nadine hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Ravindra Nararya.

Usianya baru memasuki enam bulan, masih sangat lucu sekali. Sekarang kehidupan Sangkara telah diisi dengan kesibukannya di kantor, kelucuan anaknya serta kecantikan dari istrinya Nadine.

Untuk mendapatkan semua kebahagiaan ini, perlu seribu satu masalah, berpuluh kata makian dan derai air mata kesedihan yang harus dilewati. Sekarang cinta Nadine telah terasa, tak seperti dulu.

Diperjalanan menuju tempat pernikahan mereka isi dengan lagu anak-anak yang disetel lewat speaker. Anaknya itu sangat anteng dipelukan Ibunya.

Mereka sampai di tempat, sudah ramai sekali. Sangkara menggandeng tangan Nadine seolah istrinya akan menghilang jika dilepas.

Semakin dekat dengan pelaminan perasaan Nadine semakin tak karuan, ia merasa ada suatu hal yang membuatnya merasa sedih namun senang.

Mereka sampai dihadapan Aru dan suami, Nadine memeluk erat mantan ART nya itu.

" Selamat Aru, aduh saya sedih banget. " Aru tertawa menanggapi, " Jangan sedih mbak, kalau sempat kita jalan-jalan ya? " Nadine mengangguk, " Pasti. "

" Selamat ya Aru, " ucap Sangkara, Aru tersenyum.

" Selamat juga ya mas udah bisa jalan lagi. " Sangkara mengangguk dan tersenyum lega.

Mereka turun dari pelaminan, sedih itu seolah sirna begitu saja bagi Nadine saat ia melihat makanan di sebrang sana. Sangkara menatap heran, ia menghampiri Nadine yang berlari kecil membawa anaknya.

" Ada Ravindra digendongan kamu, Nadine. " Nadine tersenyum kikuk, " Maaf ya. " Sangkara menghela nafas lalu tersenyum, " Mau makan? " Nadine mengangguk semangat.

Sangkara mengambil satu porsi nasi prasmanan dan mencari tempat untuk mereka duduk. Di pojok gedung Sangkara membiarkan Nadine untuk duduk sementara ia menyuapi Nadine.

Mereka menyantap makanan sambil membicarakan beberapa topik ringan. Sangkara mengelus kepala Ravindra yang belum memiliki banyak rambut.

" Aku mau lagi ayamnya, " pinta Nadine. Sangkara memberi piring itu, " Sana ambil, saya di sini sama Ravi. " Nadine mengangguk lalu memberi gendongan M-shape itu pada suaminya.

Nadine kembali dengan seporsi nasi lagi dan satu eskrim di tangan.

" Belum kenyang? " Tanya Sangkara, " Belum, kenapa? Gendut ya? " Nadine memajukan bibirnya, Sangkara menggeleng cepat.

" Nggak, takutnya kamu begah. " Nadine menggeleng dan kembali memakan lagi nasi dan eskrimnya.

•••
Mereka pun pamit dengan Aru dan suaminya untuk pulang, karena melihat sang anak sudah mengantuk.

Namun mereka tak langsung pulang ke rumah, keduanya memilih untuk nelipir sejenak ke supermarket demi membeli bahan makanan yang menipis di rumah atau bahkan habis.

Ravi diam di dekap Sangkara, sedangkan Nadine dengan telaten menaruh beberapa bahan makanan dan kebutuhan pokok lainnya di troli.

" Mas mau makan udang nggak? " tanya Nadine sambil melihat beberapa udang yang fresh.

Maaf, Saya Lumpuh [ END ] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang