23

856 47 6
                                        

Aku sedang menyiapkan teh, ketika mendengar suara pecahan beling di depan sana. Aku berlari menghampiri, ku lihat Sangkara yang sedang berpegangan dengan meja, melirik ke bawah sudah terjatuh satu vas bunga berwarna putih.

" Mas stop! Jangan bergerak! " suruh ku, aku akan ambil sapu sebelum ku dudukkan kembali mas Sangkara di kursi rodanya.

Aku sapu sisa beling yang ada, setelahnya ku bantu mas Sangkara duduk di atas kursi roda. Ku selesaikan menyapu ku, memastikan tidak akan ada beling yang tersisa.

Aku membawa Sangkara ke atas sofa, " Kamu enggak apa-apa? " Ia hanya menggeleng, " Enggak masalah mas, kamu sudah bisa berdiri, sudah bisa berjalan sedikit-sedikit, namanya proses, " ucap ku menyemangati. Ia memijat pelipisnya.

" Ada yang luka? " tanyaku.

" Kata dokter sebentar lagi, tapi apa hasilnya? Enggak ada saya merasa perubahan, saya capek, " ngeluhnya. Aku tersenyum, " Saya tuh mau kerja lagi ke kantor, saya mau olahraga lagi, saya mau jalan ke sana dan ke sini, bukan di atas kursi roda terus, " ungkapnya.

" Kita berproses bareng yuk? Aku bantu kamu belajar jalan lebih sering, aku juga mau jalan bareng sama kamu, kamu bisa berdiri aja aku udah senang mas. " Aku tersenyum bangga, melihat kami berdua berada di pantulan televisi.

Aku lihat wajahnya yang masih menyimpan rasa kecewa akan takdirnya dan itu semua salah ku. Aku mengelus surai rambutnya yang halus, Sangkara sudah banyak berkorban untuk hidupnya.

Ia bersandar pada bahu sofa sambil memijat keningnya. Aku membiarkan ia berada di posisi itu, aku memilih untuk mengambil satu teh hangat yang telah ku buat tadi.

Ku taruh teh hangat itu di atas meja yang mengundang suara denting bahwa gelas dengan meja kaca.

" Maaf mas semua karena aku. " Aku menundukkan kepala ku, rasa bersalah kembali menghantui isi fikiran ku.

Sangkara mengelus kepala ku, " nggak apa-apa, asal kamu sudah mau sama saya, saya akan terus merasa semangat. " Aku mengangkat kepala ku menatap matanya yang mengekspresikan ketidak apa-apa nya itu walau dalam hatinya aku tahu ia berbohong.

•••

Sore ini aku dan mas Sangkara sedang menikmati angin yang berhembus kencang di taman kota. Suasananya sangat sejuk, dengan memandangan danau di depannya.

Desir angin bahkan membuat cardigan yang dipakai oleh ku  turun dari bahu. Beberapa daun kering berhamburan mengikuti alur angin.

Senja pun tinggal beberapa menit lagi terlihat, itu akan menjadi memandangan yang sangat indah di sini. Di taman yang sepi hanya ada aku dan mas Sangkara.

Mas Sangkara menghela nafas, " Saya rindu sama angin sore seperti ini, " ungkapnya. Aku menoleh ke arahnya, menggengam lengannya, " Kalau gitu aku bakal sering ajak mas ke sini. " Mas Sangkara tersenyum menanggapi ucapan ku.

" Beruntung saya punya kamu, walau rintangannya nggak main-main. Tapi kalau dapatnya kamu rasanya sakit saya nggak sia-sia, " ujarnya. Ucapannya sedikit mencubit ku pada perlakuan ku yang kasar dulu dengannya. Entah dengan apa aku harus menebus dosa, walau mas Sangkara telah memaafkan ku, tapi rasa bersalah terus menghantui fikiran ku.

Setiap kegigihannya berlatih berjalan bak bayi umur satu tahun, seolah menjadi tamparan keras untuk ku sendiri. Aku yang telah membuatnya seperti mereset hidupnya kembali dari awal.

Aku tak akan menyia-nyiakan nya kali ini, aku tak akan berperilaku kasar lagi padanya. Sudah cukup rasa sakit untuk ku dan dirinya, jika pada akhirnya takdir membawa ku ke sini, aku sungguh ikhlas merawat mas Sangkara sepenuh hati.

Ku biarkan ego ku terbang bersama riuh angin sore ini, aku akan mengubah hidup ku menjadi lebih baik lagi. Ada mas Sangkara yang harus ku perjuangkan.

Lamunan ku terbuyar saat tangan mas Sangkara melambai di depan wajahku, " Kamu mikirin apa? " tanyanya, aku hanya menggeleng.

" Bagus ya pemandangannya, asri banget, " ucap ku untuk mengalihkan pandangan mas Sangkara dari wajah ku.

" Asri, sejuk seperti senyuman kamu. " Aku menoleh ke arahnya, " Mas, gombalan kamu tuh murahan banget deh, " ucap ku membuatnya tertawa.

Perlahan langit mulai berwarna jingga, cantik sekali.

" Saya akan berlatih lebih keras lagi supaya bisa kembali berjalan, kamu tolong tetap di sini ya? " Aku tersenyum hangat mendengar permintaannya, " Aku orang pertama yang bakal terus dukung kamu, " jawab ku padanya. Ia tersenyum lega.

Di bawah senja yang mulai tenggelam, desir angin yang terus membawa daun gugur, suara air danau yang terasa tenang dan pada dua bibir yang mengukir cinta di bawah senja.

Mas Sangkara menangkup wajah ku, bibir lembutnya menyentuh bibir ku yang kecil. Ciuman itu terasa berbeda, ada rasa seperti cinta yang bercampur dengan leganya perasaan. Ku balas lumatan itu yang seolah berkata bahwa aku akan tetap tinggal di sini, di bumi ini, bersamanya.

Akan terus menikmati senja di bawah pohon rindang ini bersamanya. Pada setiap ciuman itu, ada janji-janji yang tak terucap lewat kata. Janji akan terus menemani, janji akan terus mencintai dan janji akan terus hidup bersama walau akan mati dan membusuk di bawah tanah.

Mungkin pada seribu tahun yang akan datang, aku akan mati bersamanya, di bawah tanah bercampur sampah organik. Aku akan tetap mencintainya sampai akhir ku menjadi lingkungan dalam bentuk bahan kimia yang lebih sederhana.

Walau nanti akan terjadi, aku bersyukur senyum mu pernah ku nikmati.

Selamat malam dan selamat menikmati setiap diksi yang aku ukir lewat cinta dari Nadine kepada Sangkara

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Selamat malam dan selamat menikmati setiap diksi yang aku ukir lewat cinta dari Nadine kepada Sangkara. Maaf ya lama update, idenya mandek hehe.

Maaf, Saya Lumpuh [ END ] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang