Dia, Areza Geano Diazkara

64 10 1
                                        

Siang itu, Areza berjalan dengan setumpuk kertas dan map biru yang cukup tebal di tangannya. Lelaki dengan wajah tenang dan dingin itu melangkah santai menuju ruang osis.

"Arez!" panggilan itu berhasil menghentikan langkah lelaki itu.

Areza menoleh, "apa?" tanyanya datar.

Perlahan gadis itu mendekat dengan sebuah totebag bermotif batik biru di tangannya. Rambutnya terurai sebahu dengan warna brown dan sedikit bergelombang.

Gadis itu menyodorkan totebag yang dibawanya pada lelaki yang kini berdiri di depannya. "Nih, aku bawain bekal buat kamu" katanya dengan senyum.

Areza mendelik memandangi totebag dan gadis itu. "Gue udah makan" balasnya datar.

Senyum gadis itu sirna. "Yahh, tapi ini aku yang masak sendiri tau. Cobain dulu" rayunya membujuk lelaki itu.

"Gak, udah? Gue sibuk!" balas Areza yang kemudian berbalik hendak melanjutkan jalannya yang tertunda.

Gadis itu dengan sigap menahan lengan lelaki itu, "Rez, please. Kamu masih marah sama aku?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.

Areza menepis kasar tangan tangan gadis itu. "Del, stop! Bisa gak lo gausah ganggu gue?" ucap Areza dengan nada dingin dan sedikit menusuk.

"Arez, kan aku udah minta maaf. Iya aku tau aku salah, tapi itu juga karna kamu ga pernah ada waktu buat aku. Makanya aku lakuin itu sama Devon" ucapnya dengan sedikit amarah.

"Gue ga peduli!" balasnya kembali datar. Balasan itu berhasil membuat gadis itu terdiam.

"Kita udah putus, jadi lo bebas mau sama siapapun. Berhenti ganggu gue!" lanjutnya yang berhasil membuat bulir bening jatuh dari pelupuk mata gadis itu.

Adelia segera menyeka air matanya, "Kamu ga bener-bener mau putus dari aku, kan? Kamu kaya gini cuma karena cemburu liat aku sama Devon. Iya, kan?" ucapnya dengan suara bergetar.

Areza terkekeh samar mendengar perkataan dari gadis itu. "Pftt, cemburu? Pede banget!" balas Areza dengan ujung bibir kanannya sedikit terangkat. Menampilkan senyum remeh pada gadis yang berada di depannya.

Mata Adelia membulat mendengarnya, " apa maksud kamu?"

Areza berjalan mengikis jarak antara dirinya dengan gadis itu. Areza menatap gadis itu seperti pisau tajam yang dibungkus senyum manis. "Lo kira gue ga tau? Itu bukan yang pertama kalinya, kan?" ucap Areza.

Adelia tersentak kaget mendengar ucapan yang baru saja dilontarkan Areza. "A-apa maksud kamu, Rez? Aku ngga ngerti"

"Adelia, Adelia. Gue ga bodoh! Lo sering ciuman sama cowo-cowo di sekolah ini, kan. Dan gue ga peduli, jadi? Udah, kita ga ada hubungan lagi!" ucapnya dengan mata sedingin salju yang tak sudi mencair, meski disapa matahari.

Adelia meneguk ludahnya, matanya melotot seolah maling yang kepergok lagi beraksi. " K-kamu tau dari mana? Engga, Rez. Aku ga kaya gitu!" balasnya mencoba membela diri.

"Cukup, Adelia! Gue bilang putus ya putus! Paham, lo!" tegas Areza yang lalu berbalik dan pergi begitu saja, meninggalkan gadis itu dengan mata yang berkaca-kaca , bagai embun pagi yang enggan menguap.

Adelia memandangi punggung Areza yang semakin menjauh. Amarah itu mulai membakar dadanya. Tangannya mengepal seakan dirinya akan meledak saat itu juga.

"AARGGHHH!!!"

Praakkk!!!

Adelia membanting totebag yang dibawanya, hingga kotak yang berisi makanan itu berserakan di lantai.

"Liat aja, gue ga bakal lepasin lo gitu aja, Areza!" teriaknya histeris dengan rambut yang sudah acak-acakan.

Areza membuang nafas kasar, lama-lama dirinya bisa stress menghadapi wanita itu. Iya, dia Adelia. Mantan pacarnya Areza.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 01, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Rules vs ChaosTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang