Di balik api unggun yang gemetar,
kupandangi wajahmu dari kejauhan,
kau tertawa bersama kawan-kawan,
sementara aku diam, menyulam harapan.
Tali-temali kubuat rapi,
tapi hatiku kusut, tak sempat terurai,
di ransel penuh logistik dan peluit,
terselip satu nama yang tak bisa kuhapus: namamu.
Langkahmu ringan di jalan setapak,
sementara nafasku berat oleh rindu,
kau tak tahu, setiap malam tenda kututup rapat,
hanya agar bayanganmu tak menguap dari mataku.
Di medan latihan, kita satu regu,
tapi hatiku tak pernah cukup berani
untuk menyapa lebih dari "siap, Kak!"
karena kau seperti puncak gunung—indah, tapi jauh.
Malam ini, saat bintang bertabur cerita,
aku menulis puisi diam-diam di atas daun kering:
"Jika kamu kompas, aku bersedia tersesat,
asalkan selalu dalam arah yang menuju kamu."
Lama tak jumpa jngan lupa tinggalkan jejaknya guys...
KAMU SEDANG MEMBACA
Quotes Pramuka
Nezařaditelné"Mulai lah menulis, jangan berpikir. Berpikir itu nanti saja. Yang penting menulis dulu. Tulis draft pertamamu itu dengan hati. Baru nanti kau akan menulis ulang dengan kepalamu. Kunci utama menulis adalah menulis, bukannya berpikir"
