Losmen 86
Hari ini, Losmen 86 kedatangan tamu istimewa, Bu Ratu. Beliau akan menginap di kamar 010.
Di ruang resepsionis, Mbah Sutarno memanggil Paijo.
"Jo," panggil Mbah Sutarno.
"Nggih, Mbah," jawab Paijo hormat.
"Abdul Latief di mana? Kamu lihat atau tahu keberadaannya?" tanya Mbah Sutarno.
Paijo menjawab dengan sopan, "Kula mboten mangertos, Mbah. Coba tanyakan langsung kepada Pak Afgan, Mbah."
Mbah Sutarno kemudian memanggil Afgan.
"Gan," panggilnya.
"Inggih, Mbah," sahut Afgan.
"Tumben kamu pakai bahasa Jawa. Kamu lihat Abdul Latief tidak?" tanya Mbah Sutarno.
"Abdul Latief, Mbah?" tanya Afgan balik.
"Iya, di mana dia? Atau kamu menyuruhnya ke mana?" tanya Mbah Sutarno.
"Oh, iya, Mbah. Saya baru ingat. Abdul Latief saya suruh ke bandara," jawab Afgan.
"Ngapain?" tanya Mbah Sutarno lagi, penasaran.
"Titah pulang hari ini dari Yogyakarta, Mbah," jelas Afgan.
Mbah Sutarno mengerutkan dahi. "Loh, kamu ini bagaimana, Gan? Kemarin kamu bilang dia ke Kediri menjenguk istriku bersama mertuaku, kok malah ke Yogyakarta?"
Afgan menjelaskan, "Memang ke Kediri, Mbah. Tapi mampir dulu ke Yogyakarta untuk mengecek cabang Losmen 86 yang baru dibuka di sana."
Mbah Sutarno mengangguk mengerti. "Oh… Ya sudah, kalau begitu, Mbah mau sarapan di kafe Losmen, ya." Ini adalah kode untuk Paijo.
"Laksanakan, Mbah," kata Paijo, memahami kode tersebut.
Sementara itu, di telepon…
"…Oh begitu ya, Jeng Tuti. Iya, saya sudah berada di Losmen 86, punya anaknya Jeng Tuti. Iya, Waalaikumsalam…" Bu Ratu menutup teleponnya.
Bu Ratu mendekati resepsionis. "Permisi, Mbak," sapanya.
Asih, resepsionis Losmen 86, menyambutnya dengan ramah. "Iya, Ibu. Maaf sebelumnya, selamat datang di Losmen 86. Ada yang bisa dibantu?"
"Saya Ratu, teman Kanjeng Ibu…" Bu Ratu mulai menjelaskan, namun dipotong oleh Asih.
"Maaf, Ibu, saya potong pembicaraan Ibu. Ibu tamu yang akan menginap di kamar 010, kan?" tanya Asih.
"Iya, Mbak," jawab Bu Ratu.
"Ini kunci kamarnya. Tunggu sebentar ya, Bu. Mas Betta…" panggil Asih.
Betta, seorang staf Losmen 86, datang. "Iya, Asih. Ada apa? Ada yang bisa Betta bantu?"
"Tolong antar Ibu ini ke kamarnya dan bawakan kopernya, ya," pinta Asih.
"Baik. Mari, Bu," kata Betta.
Di Kamar 010…
"Kopernya sudah masuk semua ke dalam kamar, Bu," kata Betta.
"Iya, terima kasih ya, Mas. Oh ya, ini ada sedikit untuk Mas," kata Bu Ratu, memberikan amplop berisi uang.
"Iya, Bu, terima kasih. Kalau begitu, saya permisi, ya, Bu. Jika ada yang perlu dibantu, bisa hubungi saya," pamit Betta.
"Oh, iya, Mas," jawab Bu Ratu.
Losmen 86 - Keesokan Harinya
"Oh iya, Mas, jadi paket saya hari ini sampai. Baik, Mas, nanti tolong kabari saya lagi jika barangnya sudah sampai, ya," kata Bu Ratu setelah menutup telepon.
Di Kafe Losmen 86, Paijo sedang menyiapkan susu untuk Dzaka, Dzaki, Winda, dan Windi.
"Ini, Mbak Winda dan Mbak Windi, susunya," kata Paijo.
"Ih, kok Winda dan Windi saja, Lik? Aku dan Mas Dzaka juga mau susu," protes Dzaki.
"Oh, iya, lupa saya. Tunggu sebentar ya, Mas," kata Paijo.
"Ya," sahut Dzaki.
Paijo sibuk melayani anak-anak Afgan, sementara Cengek menyiapkan sarapan untuk Afgan, Pak Lik Purwanto, Mbah Sutarno, Renaldi, dan tamu Losmen 86 lainnya.
"Ngek," panggil Pak Lik Purwanto.
"Muhun, Pak Lik," jawab Cengek.
"Kamu sudah telepon istrimu belum, Gan?" tanya Pak Lik Purwanto.
"Sudah, Pak Lik. Titah sudah di Jakarta dan dalam perjalanan menuju Losmen 86," jawab Afgan.
"Aku mau ketoprak, ya, Ngek. Minumnya es teh manis," pinta Mbah Sutarno.
"Aku mau mie goreng, ya, Ngek, pedas. Minumnya air putih dingin saja," pinta Afgan.
"Aku gado-gado, ya, Ngek, pedasnya sedang saja. Minumnya sama dengan Afgan," pinta Pak Lik Purwanto.
"Kalau saya mau nasi goreng pedas, ya, Ngek. Oh ya, jangan pakai terasi, ya, Ngek," pinta Renaldi.
Pak Lik Purwanto bertanya, "Loh, kenapa kamu nggak mau pakai terasi, Di? Kan enak kalau pakai terasi."
Renaldi menjelaskan, "Pak Lik Purwanto lupa? Saya kan alergi udang, Pak Lik. Nanti bisa gatal-gatal."
"Oh," seru Pak Lik Purwanto mengerti.
"Laksanakan," kata Cengek.
"Oh ya, saya mau tanya nih, ya, Pak Aldi," sambung Cengek.
"Tanya apa, Ngek?" tanya Afgan.
"Mau tanya Pak Aldi minumnya apa, ya? Kan yang lain sudah, tinggal Pak Aldi saja yang belum," tanya Cengek.
"Orange juice," jawab Renaldi.
"Oh, oke. Mohon ditunggu ya, Bapak-bapak," pinta Cengek.
"Wooookeeee…," sorak Mbah Sutarno, Pak Lik Purwanto, Afgan, dan Renaldi bersamaan.
Sementara itu, Abdul Latief dan Titah sedang dalam perjalanan menuju Losmen 86.
"Dul, Dul," panggil Titah.
"Oh, iya, Bu Afgan. Ada apa?" tanya Abdul Latief.
"Kita mampir dulu ke toko roti langganan saya, ya. Saya ingin membeli roti kesukaan anak-anak, suami, Mbah Sutarno, dan untuk karyawan Losmen 86 juga," pinta Titah.
"Oh, nggih, Bu Afgan," jawab Abdul Latief.
KAMU SEDANG MEMBACA
losmen 86
HumorMenceritakan seorang kakek yang berusia 86 tahun yang tinggal bersama cucunya dan cucunya memiliki usaha penginapan yang di berinama Losmen 86.
