48

889 39 1
                                        

Davema menepuk pundak Angga, "selamat Ga, akhirnya nikah juga."

Angga terkekeh, "thanks, makasi udah dateng."

Davema mengangguk, tatapannya beralih kepada Dinda dan Diajeng-istri Angga yang sedang selfi. Dewa tersenyum sebentar, "Ga, saya harap, kamu bisa menjaga perasaan istri kamu dan memberikan seluruh cinta kamu." Ujarnya lirih, namun masih bisa di dengar oleh Angga.

Angga mengangguk, meski ada perasaan tak yakin. Ia dan Diajeng menikah karena dijodohkan oleh orang tuanya lantaran ia tak kunjung menikah dan keluarganya khawatir ia menjadi perjaka tua.

"Aamiin Dave, kamu juga, jagain Dinda baik-baik ya."

Davema hanya menjawa dengan senyuman tipis dan mengajak istrinya mencari makanan. Karena ia tahu, Angga dan istrinya juga harus berbincang dengan tamu undangan lain.

Davema tahu, perasaan Angga masih untuk istrinya. Bahkan, tadi, lelaki itu mengucapkan kata yang sama berkali-kali agar ia menjada Dinda. Tentu saja, tanpa diminta pun, ia akan menjaga Dinda sepenuh hati.

Dinda adalah tanggung jawabnya, sudah menjadi kewajibannya untuk menjaga Dinda. Namun, Davema mengerti, Angga berkata demikian, mungkin karena takut ia kembali menyakiti Dinda.

"Din."

"Hem?" Dinda menyahut dengan mulut penuh dengan makanan.

"Aku udah bilang belum kalau kamu cantik banget."

Dinda menaikkan sebelah alisnya, lalu meneguk minuman di depannya dengan Anggun.

"Kamu juga ganteng banget, tapi makin ganteng kalau lagi tidur." Dinda mengedipkan sebelah matanya.

Davema jadi salah tingkah, kenapa malah ia yang jadi baper. Istrinya ini, benar-benar racun.

"Ayo pulang!"

Hah, Dinda kaget, padahal, makanannya belum habis.

"Kenapa?"

"Aku pengen kurung kamu di kamar, dari tadi banyak laki-laki mata keranjang yang liatin kamu. Aku nggak suka."

Tanpa menunggu jawaban Dinda, Davema segera menarik istrinya pergi dari sana. Tidak rela rasanya melihat istrinya menjadi tatapan indah lelaki lain.

****

"Kakek, kenapa papa itu ngeselin, suka manja banget sama mama, masak mandi aja kadang minta di mandiin sama mama."

Subagyo menyemburkan tehnya, menatap cucunya yang asyik melahap kentang goreng. Sementara itu, Rianti menyodorkan tisu untuk sang suami. Meski dalam hatinya, ia meringis mendengar penuturan cucunya.

"Apalagi, kalau tidur, aku nggak dibolehin tidur sama mama, padahal aku kan kangen. Pernah aku tidur di tengah-tengah mama dan papa, pas bangun, aku tiba-tiba nyempil di pinggir, dan malah papa yang meluk mama. Apalagi kalau makan, kadang papa minta di suapin. Padahal, aku aja nggak disuapin."

"Belum lagi kalau lagi sakit demam, papa gamau ditinggal sama mama. Mama tinggal sebentar buat bantuin aku pakai seragam sekolah atau nyiapin sarapan atau bekal aja, papa udah tantrum."

Subagyo menggeleng, tidak habis pikir dengan putranya itu.

"Aku juga sering liat papa gigit leher mama sampai merah, terus mama suka di kunciin di kamar."

Subagyo dan Rianti semakin mati kutu. Kelakuan putra mereka benar-benar bikin kepala keduanya pening.

Subagyo berderhem pelan, "papa kamu lagi bercanda sama mama kamu, atau mereka sedang sibuk membahas pekerjaan atau proyek makannya dikunciin di kamar. Soal papa kamu yang manja, dia memang manja dan agak kekanakan."

TITIK NADI (Posesif Davema) ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang