Happy reading dan tandai typo!
.
Plak!
Kepala Radev tertoleh ke samping, saat Artha menamparnya dengan keras. Pemuda itu tertegun sejenak, karena baru kali ini sang papi terlihat begitu marah kepadanya.
"Siapa yang mengajarkanmu untuk menjadi iblis?" tanya Artha dengan nada rendahnya.
"Apa maksud Papi?" tanya Radev yang berpura-pura tidak mengerti.
Artha tidak mengatakan apapun, tetapi pria itu melemparkan banyak sekali lembaran foto yang menunjukkan semua perlakuan Radev terhadap Aileen, bahkan ada juga foto Aileen yang baru keluar dari ruang operasi.
"Papi menyuruhmu untuk menjaga Aileen, bukan untuk merusaknya!" sentak Artha dengan mata memerahnya.
Pria paruh baya itu merasa gagal mendidik Radev, ia tidak menyangka kalau putranya akan melakukan hal yang sangat brengsek terhadap Aileen.
"Atas dasar apa kamu melakukan semua ini kepada Aileen? Jawab dengan jujur!" tekan Artha sambil mencengkeram bahu sang putra.
Tiba-tiba Radev tertawa, tetapi di telinga Artha terdengar berbeda. Pria itu juga bisa melihat mata putranya yang mulai memerah.
"Karena aku membencinya, aku membenci Aileen!" seru pemuda itu dengan suara bergetarnya.
"Dia ninggalin aku tanpa alasan, dia buat aku nunggu di depan rumahnya sampai malam. Lalu tiba-tiba dia kembali dan menjadi adik tiriku, dia jahat dan pantas menerima—"
Plak!
Radev kembali mendaptkan tamparan di pipinya, kali bukan dari Artha... melainkan Meira.
"Kamu tidak tahu alasan kenapa Aileen pergi," ucap Meira dengan suara seraknya, karena wanita itu baru selesai menangis.
Radev terdiam, ia juga tidak tahu alasan kenapa Aileen pergi begitu saja. Pemuda itu juga ingin mendengar alasannya, tetapi rasa bencinya kepada Aileen membuat pikirannya tidak bisa berjalan dengan benar.
"Aileen terpaksa pergi ke luar kota, karena Ayahnya sakit. Saya bukan ibu kandung Aileen, tapi saya adalah tantenya... saya yang merawat Aileen dari kecil, karena ibunya sudah tiada waktu melahirkannya," Meira menghembuskan napas dengan berat, rasa sesak di dadanya semakin menjadi dan membuatnya sulit untuk mengambil napas.
"Ayahnya ingin dirawat di kampung halamannya, jadi Aileen ikut pindah untuk menemani Ayahnya. Tapi dua bulan kami pindah, Ayah Aileen tidak bisa melawan penyakitnya. Aileen memilih untuk menetap di sana, karena ingin menemani mendiang Ayahnya," Meira sudah tidak sanggup melanjutkannya, wanita itu menatap suaminya.
Kini giliran Artha yang menjelaskan. "Dan di sanalah Papi bertemu dengan mereka. Awalnya Aileen menolak untuk kembali ke kota ini, karena dia tidak ingin meninggalkan Ayahnya. Tapi Papi terus membujuknya, karena Papi menyukainya—Papi suka dengan kepolosan Aileen, dia gadis yang manis dan juga baik. Papi ingin mengadopsinya sebagai anak, dan Papi juga mulai menyukai tantenya—Meira."
Artha menghela napas dengan kasar, "Kalau dari awal kamu tidak mau menerimanya sebagai saudara tirimu, seharusnya kamu mengatakannya. Aileen sudah cukup menderita, tapi dia semakin menderita saat berada di sini. Papi merasa sangat bersalah kepadanya, anak sebaik Aileen harus bertemu dengan bajingan sepertimu."
"Papi akan mengirimmu ke luar negeri, kamu akan mulai belajar di sana dan Papi akan mengirim uang yang cukup untuk keperluanmu. Mulai sekarang kamu harus belajar mandiri," putus Artha.
Radev masih terdiam, pemuda itu menatap ke arah Meira yang kini membuang muka—tidak ingin menatapnya.
"Dan saya akan membawa Aileen ke tempat yang bisa menyembuhkan lukanya," kata Meira.
KAMU SEDANG MEMBACA
RADEV || Step Devil (End)
RomanceYoung-adult; 18+ "Aku mau putus sama kak Radev," ucap seorang gadis berseragam SMP. Sebuah kalimat yang bisa membuat seorang Nathaleo Radev Ganaska menangis selama tiga hari tiga malam. Ini adalah pengalaman terburuk dalam hidup Radev, diputusin sa...
