RADEV: TUJUH BELAS

3.1K 164 70
                                        

Happy reading dan tandai typo!

.

Aileen menoleh ke arah sang kakak yang tertidur di sofa, Radev tampak lelap dalam tidurnya.

Aileen beranjak turun dari hospital bed menuju ke sofa, ia menatap wajah Radev dengan mata berkaca-kaca.

"Aku nggak kenal Kak Radev," gumamnya sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba keluar.

Aileen masih mengingat jelas apa yang terjadi tadi, sebelum sang kakak tertidur dengan lelap.

Gadis itu dipaksa untuk memuaskannya Radev menggunakan tangan dan mulutnya.

Bahkan Aileen dipaksa menelan cairan yang menjijikan itu, Radev tidak peduli saat sang adik menangis sampai muntah-muntah.

"Sshh," Aileen meringis pelan.

Perutnya masih sakit, bahkan untuk bergerak sedikit saja sudah terasa begitu menyakitkan.

Namun Radev tetap memaksa Aileen untuk membuatnya puas dengan cara yang begitu keji.

"Apa sebenci itu Kakak sama aku?" Aileen menggigit bibir bawahnya.

Gadis itu menahan isakannya agar tidak membangunkan Radev.

"Maaf kalau aku ada salah sama Kak Radev, semoga kepergianku bisa buat Kak Radev bahagia," Aileen memaksakan senyumnya.

Gadis itu menatap lekat wajah dari orang yang pernah dicintainya, ia tidak akan lupa kalau Radev pernah membuatnya merasa sangat dicintai.

Namun Aileen juga tidak lupa, kalau pemuda itu juga yang menorehkan luka yang begitu dalam kepadanya.

"Selamat tinggal, Kak Radev."

Gadis itu berbalik, ia melangkah ke arah pintu. Hari sudah semakin malam, karena sekarang hampir jam satu malam.

Aileen menghela nafas lega saat tidak melihat siapapun di depan ruang rawatnya.

Gadis itu melangkah ke arah lift yang sudah terlihat dari tempatnya.

"Mama, Ay minta maaf... karena Ay masih belum bisa jadi anak yang berguna untuk Mama," Aileen memejamkan matanya.

Gadis itu merasa sangat bersalah kepada mamanya, tetapi ia sudah tidak kuat lagi untuk tetap bertahan.

"Papi, makasih untuk semuanya. Papi adalah orang yang baik," lirih Aileen yang kini teringat kepada Artha.

Meskipun Artha bukan ayah kandungnya, Aileen tahu kalau pria itu sangat menyayanginya.

Ting!

Gadis itu berjalan keluar dari lift dengan langkah pelannya, karena perutnya masih begitu sakit.

Suasana di rumah sakit sangat sunyi, bahkan tidak ada seorang pun yang terlihat.

"Syukurlah," gumam Aileen yang merasa lega setelah berhasil keluar dari rumah sakit.

Bahkan di pos penjaga gerbang, sekuritinya tengah terlelap. Jadi, gadis itu memanfaatkan kesempatan ini untuk segera keluar dari gerbang.

Entah ke mana tujuannya, Aileen hanya ingin menjauh untuk selama-lamanya.

Gadis itu tidak ingin bertemu dengan Radev lagi.

"Aku baru ingat daerah ini," Aileen mulai tahu dimana tempatnya sekarang.

Gadis itu kini memiliki tujuan untuk pergi ke mana, dengan menekan rasa takut dan rasa sakit di perutnya... Aileen terus melangkah, tanpa menoleh ke belakang.

RADEV || Step Devil (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang