RADEV: SEPULUH

8.2K 340 67
                                        

Happy reading dan tandai typo

___

Artha dan Meira pulang lebih cepat, mereka mendengar kalau Aileen tenggelam dan mengalami kritis sampai koma. Mama gadis itu langsung tak sadarkan diri saat melihat kondisi putrinya, sehingga ikut di rawat pada ruangan bersebelahan dengan Aileen.

"Kenapa Aileen bisa tenggelam di sekolah? Padahal Papi percaya kamu bisa menjaganya dengan baik," Artha menatap putranya yang terlihat kacau.

"Diluar jangkauan Radev, Pi. Saat itu Radev berada di dalam kelas, baru lima belas menit setelah bel masuk. Tapi Aileen pergi ke toilet sendirian, lalu ada yang gak suka dengannya. Namanya Clara, dia gak suka Aileen gara-gara dekat sama aku. Padahal Aileen adik aku, Papi tau banyak yang suka deketin aku. Tapi aku selalu nolak mereka, jadinya salah satu dari mereka marah dan bully Aileen. Padahal adikku gak bisa berenang, mereka harus aku balas!"

Radev mengepalkan tangannya, matanya berkilat marah. Artha dapat melihatnya dengan jelas, Radev menerima Aileen sebagai adiknya dengan baik. Bahkan putranya itu terlihat sangat menyayangi Aileen, ada perasaan lega didada pria itu.

Namun keadaan Aileen membuat Artha sedih, gadis kecil itu sedang kritis. Tangan pria itu mengepal, ia akan mencari orang yang bernama Clara. Siapapun tidak boleh menyakiti putrinya, apalagi hampir membunuh Aileen.

"Papi akan mencari orang itu, dia harus membayar apa yang diderita Aileen," Artha mengetatkan rahangnya, pria itu berjanji akan membuat orang yang bernama Clara itu mendapatkan perlakuan yang lebih kejam dari apa yang dirasakan putrinya.

Samar-samar Radev menarik sudut bibirnya, pemuda itu sudah membereskan beberapa orang yang bisa saja mengatakan kalau Aileen terluka karenanya. Artha tidak akan pernah menemukan bukti apapun yang murujuk pada Radev, semuanya akan mengarah pada Clara yang memang membully Aileen tadi pagi.

"Kamu jaga Aileen, Papi mau ke kamar rawat Mama!"

Radev mengangguk, pemuda itu menatap punggung papinya yang menghilang dibalik pintu kamar rawat Meira. Radev berdiri, seseorang tiba-tiba datang dan berbisik kepadanya. Pemuda itu menyeringai, Radev menyuruh orangnya untuk segera pergi.

"Clara, Clara~" gumamnya sebelum memasuki kamar rawat Aileen.

Tatapan pemuda itu berubah, ia mendengus saat melihat kepala pelayan yang ada didalam. Ia kembali melangkah dan duduk di kursi dekat hospital bed, tempat Aileen terbaring lemah. Tatapan Radev terlihat khawatir, membuat kepala pelayan tak tega.

"Tuan Muda, Nona pasti akan sadar," hibur kepala pelayan kepada Radev yang terlihat sangat menyayangi Aileen.

"Bibi, kenapa Aileen mengalami hal seperti ini? Dia gadis yang baik, orang-orang itu seperti iblis. Menyakiti Aileenku," Radev menggenggam tangan Aileen yang tak terdapat selang infus, pemuda itu merasakan tangan dingin sang adik tiri.

"Ini cobaan untuk Nona, dia adalah sosok yang lembut dan penyayang, Tuhan sangat menyayanginya. Buktinya Nona masih bertahan, anda harus bersabar. Nona pasti sadar dan kembali seperti sedia kala," ujar kepala pelayan.

"Aku gagal menjaganya, padahal aku ada di sana. Tapi aku telat menyelamatkannya," Radev mengusap pipi pucat adik tirinya.

"Tuan Muda sangat menyayangi Nona, itu bukan kesalahan anda. Tuan Muda sudah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan Nona," kepala pelayan ingat saat melihat penampilan Radev tadi, tuannya itu basah kuyup dengan mata memerah.

Tadi Radev menceburkan dirinya ke dalam kolam dan mengambil alih Aileen, lalu membawanya ke rumah sakit dengan mobilnya sendiri. Galen dan Zay ingin mengikutinya, mereka takut terjadi apa-apa dengan Aileen. Tetapi keduanya tak bisa pergi, orang-orang Radev menahan mereka.

Bahkan saat keduanya melawan, mereka malah dihajar dan dibuat bungkam oleh ancaman yang dititipkan Radev kepada orang suruhannya. Dimana Radev mengancam keduanya dengan perusahaan keluarga mereka, sialnya keluarga mereka bekerja di bawah naungan keluarga Radev.

Galen dan Zay tidak bisa melakukan apa-apa untuk Aileen, mereka bahkan merasa bersalah kepada gadis itu. Keduanya tidak bisa mengatakan tentang kekejaman Radev, mereka tidak bisa gegabah dan membuat keluarga mereka terancam. Meskipun Aileen anak dari pelayan, setidaknya mereka masih memiliki rasa kemanusian untuk keadilan gadis itu.

"Aileen adikku, aku sangat menyayanginya. Dia sangat manis dan cantik, aku sangat menyukainya," tatapan Radev mengarah pada wajah pucat adik tirinya.

Kepala pelayan tersenyum senang, bagaimana melihat tatapan Radev kepada Aileen—tentu saja membuat wanita paruh baya itu ikut senang. Semenjak kehadiran Aileen, wanita paruh baya itu bisa melihat lagi senyuman Radev.

"Tuan Muda bisa beristirahat, saya yang akan menjaga Nona," Radev menggeleng lemah, tatapan pemuda itu masih menatap lurus wajah Aileen.

"Aku gak bisa tidur kalau Aileen belum bangun," kata Radev dengan lemah.

"Tapi kamu harus beristirahat! Nanti siapa yang jagain Aileen kalau kamu juga ikut sakit?"

Radev menoleh ke arah pintu, disana Artha datang dengan membawa paper bag yang berisi makan malam untuk putranya.

"Aku mau nungguin Aileen sadar," pemuda itu kembali menatap wajah adik tirinya.

"Radev, makan dulu! Papi tau kamu belum makan dari tadi siang, Aileen akan segera sadar. Kita percayakan semuanya kepada Tuhan, adikmu ini sangat kuat," Artha menatap wajah pucat putrinya.

Meskipun Aileen bukan putri kandungnya, namun pria itu sangat menyayangi Aileen seperti anak kandungnya sendiri. Sejak pertemuan pertama mereka, Aileen sudah membuatnya bahagia, karena bisa memiliki putri seperti gadis itu.

"Papi tau kamu sangat khawatir, tapi ingat juga kondisimu. Kamu tadi sempat demam, sekarang makan dan tidur bersama Aileen. Papi akan meminta kasur yang lebih besar," ujar Artha dengan mengusap pundak putranya.

"Beneran?" tanya Radev dengan tatapan berbinar.

Artha terkekeh pelan, ia seperti melihat sosok Radev yang berusia dua belas tahun. Kehadiran Aileen benar-benar mengubah putranya, Artha akan sangat berterima kasih kepada putrinya.

"Iya, asal kamu habiskan semua yang ada di dalam sini!" Artha mengangkat paper bag ditangannya.

"Oke."

Radev berpindah ke sofa untuk makan malam, kepala pelayan sudah keluar sejak Artha masuk kedalam. Wanita paruh baya itu sedang menjaga Meira yang belum sadar, Artha yang menyuruhnya. Karena Radev keras kepala dan tidak akan mau dibujuk kalau bukan pria itu yang memaksa.

Artha mengusap puncak kepala Aileen dengan penuh kasih sayang, hatinya sangat sakit melihat keadaan putrinya yang seperti ini. Matanya berkilat penuh dendam, pria itu sudah mendapatkan dimana keberadaan orang yang bernama Clara. Malam ini juga, Artha akan mendatangi Clara dan memberi balasan atasan perlakuan yang diterima putrinya.

"Papi tidak akan membiarkan hal ini terjadi lagi," ucap Artha dengan tatapan sendunya.

Radev sangat senang mendengarnya, pemuda itu makan dengan begitu lahap. Papinya sedang fokus dengan Aileen, jadi tidak menyadari wajah senang putranya.

Entah apa yang dipikirkan pemuda itu, yang pasti tidak akan membuat hidup Aileen menjadi lebih baik. Radev tidak sabar menunggu kabar tentang Clara, tetapi ia paling tidak sabar menunggu Aileen sadar.

"Pi, Radev udah selesai."

Artha mengusap air matanya yang tiba-tiba terjatuh. Pria itu benar-benar menyayangi Aileen.

"Papi akan meminta kasurnya diubah, kamu jaga dulu Aileen!" Radev mengangguk patuh, pemuda itu berjalan ke arah Aileen.

Cup!

Satu kecupan ia berikan pada bibir pucat itu, dua kecupan sampai lumatan ringan ia labuhkan pada bibir Aileen. Setelah puas, Radev menarik wajahnya. Pemuda itu tersenyum lebar, tangannya membelai wajah pucat Aileen yang terlihat semakin cantik.

"Kenapa wajahnya yang pucat, semakin terlihat cantik? Apa kalau jadi mayat, akan semakin cantik?" tanya Radev entah kepada siapa.




___

To be continued

150 vote dan 50 komen

RADEV || Step Devil (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang