Chapter 11

33 5 2
                                        

Author POV

"Surprise!!!!" Teriakan itu memecah keheningan taman kecil yang memisahkan dua sekolah—SM dan YG. Lampu jalan memantulkan bayangan dua sosok: seorang pemuda tinggi dan seorang gadis ramping. Mereka saling menatap; ekspresi terkejut tertangkap jelas di wajah masing-masing. Dari balik deretan semak, seorang wanita tua muncul dengan langkah pelan, mengenakan hanbok lusuh dan membawa tas kain.

Wanita itu membungkuk sopan. Suaranya serak namun tegas: "Aku sudah menunggumu, anak muda." Ia mengeluarkan beberapa botol kecil berisi cairan bening dan selembar kertas berisi simbol-simbol tua. Matanya menatap ke jari-jari yang baru saja ia ikat dengan seutas benang merah.

"Apa maksud semua ini?" Chanyeol (Lisa) bertanya dengan suara serak.

Ahjumma menghela napas. "Kalian bertukar jiwa karena ada yang perlu kalian pelajari dari hidup satu sama lain. Untuk kembali, terdapat syarat yang perlu dipenuhi: dua minggu. Dua minggu kalian jalani hidup sebagai yang lain — latihan, rutinitas, tanggung jawab. Niat harus tulus."
Sebelum menghilang ke dalam bayang-bayang, ia mengikat benang merah itu di jari kami, lalu berbisik, "Jangan putuskan sendiri sebelum waktunya."

Kegelapan menelan langkahnya. Aroma rempah yang samar tetap menggantung di udara, mengingatkan kami pada sesuatu yang tak mudah dihapus. Di bawah sinar lampu jalan, benang merah itu berkilau seperti tuduhan halus.

Chanyeol (Lisa) POV

Aku menatap benang di jariku. Hangatnya aneh—seperti janji yang belum matang. Tubuh ini tubuh Chanyeol, tetapi jiwaku adalah Lisa. Ada kebingungan yang tak habis-habisnya. "Ne," aku bisikkan pada diri sendiri. "Kalau ini jalan satu-satunya, kita lakukan."

Kami pulang dalam diam. Ketika sampai di kamar dorm, aku berdiri di depan cermin panjang dan memperhatikan tiap gerakan kecil—cara aku tersenyum, cara aku menggerakkan bahu. Rasanya palsu, rasanya asing. Namun benang itu mengikat lebih dari kulit; ia mengikat komitmen.

Keesokan Paginya,

Lisa (Chanyeol) POV

Pagi datang dan dunia terasa miring. Aku membuka mata di kamar yang penuh poster EXO. Jadwal di ponsel menumpuk: latihan, rehearsal, meeting. Di samping layar, pesan singkat dari staff: "Pengumuman: Music Core Special Stage — Gen 3 Collaboration. Siapkan diri." Hatiku tercekat. Puluhan nama besar—Red Velvet, Twice, Seventeen, GOT7, NCT—muncul di kepala seperti gelombang yang akan menenggelamkan segala yang rapuh.

Benang merah di jariku mengingatkan waktu Ahjumma: dua minggu. Dua minggu terasa singkat jika rahasia ini harus tetap tersembunyi di antara lampu, kamera, dan ribuan mata.

Author POV

Kabar kolaborasi lintas agensi menyebar cepat. Jadwal dirapikan, studio netral di Gangnam disewa, kru dari berbagai pihak bergerak. Ini bukan sekadar acara kecil; ini panggung besar yang disiarkan live. Bagi mereka yang bertukar jiwa, ini adalah jebakan: kerumunan idol lain, kamera yang bergerak, staff yang tajam — semua potensi untuk skandal.

At Studio Gangnam, Hari Latihan Gabungan Pertama

Chanyeol (Lisa) POV

Studio besar itu penuh. Dinding kaca memantulkan bayangan ratusan tubuh yang bergerak. Kru menyiapkan kamera rehearsal; PD membagi formasi. Namaku dipanggil: "Chanyeol, dengan Momo." Namamu dipanggil: "Lisa, dengan Mingyu dan Jackson." Jantung kami berdegup — bukan hanya karena koreografi, melainkan karena perasaan yang belum sempat diucap.

Musik menyala. Gerakan padat, hentakan kuat. Aku menyesuaikan kaki pada pola EXO, mengingat setiap langkah yang selama ini aku tonton dari jauh. Momo menempatkan tangan di pinggulku untuk koreo; sentuhannya profesional tapi membuat dadaku kencang. Di ujung mata, kulihatmu tertawa kecil saat Mingyu memberi koreksi. Rasanya rawan. Aku menahan napas, fokus pada hitungan.

Kau di sisi lain juga berusaha. Jackson memberi contoh pose, Mingyu memberi arahan teknis. Kau menanggapi dengan senyum yang profesional, namun matamu sesekali mencari sesuatu—mungkin aku. Aku merasakan tatapan itu. Di dalam, sesuatu seperti terbakar.

Lisa (Chanyeol) POV

Saat Mingyu mendekat untuk membetulkan posisi tangan, aku merasakan sesuatu menguncup di dada. Hatiku, yang seharusnya datar karena ini hanya latihan, berdentum aneh. "Ini hanya kerjaan," aku ulangi pada diri sendiri. Namun setiap gerakanmu yang terlihat nyaman dengan Momo membuat sesuatu di dalamku melilit.

Kami mencoba tetap profesional. Tetapi tatapan kita yang berpapasan di cermin studio berbicara lebih dari kata: ada kedengkian kecil, ada luka yang belum bernama. Kami berpura-pura sibuk, namun hati kami terikat pada hal yang sama: rasa takut kehilangan—meskipun apa yang akan hilang itu belum jelas bentuknya.

Author POV

Saat istirahat makan siang, aku melihat kalian duduk terpisah; ponsel di tangan, makanan di piring; bibir yang tidak banyak bergerak. Member lain mengobrol biasa: outfit, stage, jokes ringan. Di antara mereka, ada bisik-bisik: "Chanyeol beda ya hari ini?" "Lisa kok sunyi?" Hal kecil itu mulai menebarkan kecemasan. Namun sampai sore, tidak ada yang menyoalkan lebih jauh. Seorang staff bertanya singkat ke manajer, manajer memberi jawaban biasa: "Mungkin karena latihan berat, nanti akan balik normal."

Itu jawaban yang netral—jawaban yang bisa saja diucapkan siapa pun jika ada yang bertanya secara spontan pada hari H.

Chanyeol (Lisa) POV

Sore menjelang. Di lorong studio yang lebih sepi, aku memutuskan untuk mendekatimu. Hatiku berdebar seolah sedang melanggar peraturan. "Kamu terlihat begitu dekat dengan Mingyu tadi," kataku pelan, menahan diri agar suaraku tidak terdengar emosional.

Kau menatapku, mata berkaca-kaca sebentar. "Aku juga melihat kamu dekat dengan Momo," jawabmu singkat. Ada kebisuan yang menempel setelahnya.

"Ne," kataku. "Tapi rasanya... aneh." batinku.

Kita berpisah, masing-masing melangkah ke arah berbeda. Tidak ada penyelesaian, hanya renggang yang makin terasa.

At Exo Dorm

POV Lisa (Chanyeol)

Kamar gelap. Suara AC berdengung pelan. Aku menatap benang merah di jari, memutar pikir tentang dua minggu. Catatan kecil kuselip di buku: 'ingat gesture, jangan ekspresif, latihan privat malam.' Tapi setiap kata berujung pada pertanyaan yang tidak berani kutulis: Kenapa aku merasa cemburu? Kenapa sakit melihatnya dekat dengan orang lain, padahal dia—tubuhnya—sendiri?

At Blackpink Dorm

POV Chanyeol (Lisa)

Aku juga tidak tidur. Rasa mengganjal di dada ini tetap ada. Aku mengulang adegan sore tadi: tawa kecilnya bersama Mingyu, cara dia membetulkan rambut saat bergerak—detail kecil yang sebelumnya tidak pernah membuatku merasa seperti ini. Aku mencoba menyangkal: ini hanya efek pertukaran tubuh, ini bukan perasaan. Namun denyut di dada menolak dibohongi.

To be continued.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 28, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Secret LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang