Awal Mula Kebencian
"Tidak ada lagi."
Pria tua itu mendorong sebuah map ke arah Silars.
"Semua yang bisa diselamatkan... ada di situ."
Silars tidak langsung menyentuhnya.
"Aku takut."
Pria tua itu mengernyit.
"Kamu?"
Silars tertawa pelan.
"Kalau isi map ini bilang Artce bersalah..."
Ia menarik napas panjang.
"...aku kehilangan orang tersayangku untuk kedua kalinya."
Sunyi.
Perlahan...
map itu dibuka.
Satu halaman.
Dua halaman.
Tiga halaman.
Ruangan kembali sunyi.
Hanya terdengar suara kertas yang dibalik.
Sampai akhirnya...
"...Apa dia tahu?"
"Iya."
Silars mengangguk.
Masih tenang.
"Dia pasti berteriak."
Pria tua itu diam.
"Dia pasti marah."
Diam.
"Dia pasti cari aku."
Diam.
Silars mulai tersenyum.
"Dia gak mungkin diem aja."
Pria tua itu akhirnya membuka suara.
"Dia memang mencari."
Silars langsung menatapnya.
Harapan itu muncul lagi.
"Tiga hari."
Silars mengernyit.
"Hanya tiga hari."
Sunyi.
"Setelah itu..."
"...dia berhenti."
Ruangan kembali sunyi.
Silars menunduk.
Lalu tertawa kecil.
"Bercanda ya?"
Pria tua itu tidak menjawab.
"Bilang kalau kamu lagi bercanda."
Masih diam.
"...Dia janji."
Suara Silars mulai pecah.
"Dia janji kalau kita bakal jadi keluarga."
Pria tua itu memejamkan mata.
"Silars."
"Tolong..."
"Bilang kalau semua ini salah."
⸻
CRACK.
Gelas di tangan Silars pecah.
Darah mulai mengalir.
Namun...
untuk pertama kalinya...
KAMU SEDANG MEMBACA
MPREG SEASON 2
FantasíaMPREG SEASON 2 Masih seputar oneshoot dan 2 shoot bahkan lebih.
