Freflo part 22

16 4 0
                                        

Happy reading all

Freya diam cukup lama.
Kepalanya berdenyut hebat setiap kali mencoba mengingat sesuatu.

Potongan-potongan gambar muncul samar di benaknya, tetapi semuanya terasa kabur seperti tertutup kabut tebal.

"Freya? Kamu kenapa sayang?" tanya Chika panik.

Freya menatap wajah wanita di depannya.

Entah kenapa, wajah itu terasa familiar. Sangat familiar. Namun ia tidak bisa mengingat siapa wanita itu.

"Aku..." suara Freya serak. "Aku kenal Mama?"

Chika membeku.

Dokter yang berada di samping tempat tidur langsung memperhatikan perubahan ekspresi Freya.

"Maksud kamu apa, Freya?" tanya Chika perlahan.

Freya menelan ludah.

"Aku... aku tahu Mama itu penting buat aku. Tapi..." gadis itu memegang kepalanya. "Aku nggak ingat."

Jantung Chika seolah berhenti berdetak.

Dokter segera meminta Chika untuk sedikit menjauh agar pemeriksaan bisa dilakukan.

"Freya, coba sebutkan nama lengkapmu."

Freya mengernyit.

Nama lengkapnya?

Ia mencoba mengingat.

Satu menit.

Dua menit.

Tetap kosong.

"Aku... nggak tahu."

Chika langsung menutup mulutnya menahan tangis.

Dokter kembali mengajukan beberapa pertanyaan sederhana.

"Tahun berapa sekarang?"

Freya menggeleng.

"Kamu sekolah di mana?"

Freya kembali menggeleng.

"Ada yang kamu ingat?"

Freya memejamkan mata.

Sebuah gambar muncul sesaat.

Lapangan sekolah.

Suara bel.

Dan seorang gadis yang sedang tertawa.

"Flora..." gumamnya tanpa sadar.
Semua orang langsung menoleh.

"Kamu ingat Flora?" tanya Chika cepat.
Freya terlihat bingung.

"Aku nggak tahu. Nama itu tiba-tiba muncul di kepala."

Tak lama kemudian dokter menyelesaikan pemeriksaan awal.

Beliau mengajak Chika keluar ruangan untuk berbicara.

"Bagaimana kondisi anak saya, dok?" tanya Chika dengan mata sembab.

"Secara fisik kondisinya jauh lebih baik.

Tetapi kemungkinan besar Freya mengalami amnesia sementara akibat benturan keras di kepala."

Chika langsung lemas.

"Amnesia...?"

"Ya. Untuk saat ini sebagian besar ingatannya hilang. Kita tidak tahu kapan ingatan itu akan kembali. Bisa beberapa hari, beberapa minggu, bahkan lebih lama."

Air mata kembali mengalir dari mata Chika.

Namun dokter segera menenangkan.

"Jangan terlalu memaksanya mengingat.

Biarkan otaknya beradaptasi terlebih dahulu."

Chika mengangguk pelan.

Malam itu ia kembali masuk ke ruang rawat.

Freya sedang menatap langit-langit kamar dengan bingung.

"Mama..." panggilnya pelan.

Chika langsung menghampiri.

"Iya sayang?"

"Aku benar-benar nggak ingat apa-apa."

Tidak ada nada dingin ataupun ketakutan dalam suara Freya.

Yang ada hanya kebingungan.

Chika menggenggam tangannya erat.

"Nggak apa-apa. Kita mulai pelan-pelan ya."

Freya mengangguk kecil.

Untuk pertama kalinya sejak sadar, gadis itu tersenyum tipis.

Meski ia tidak mengingat siapa dirinya, entah kenapa kehangatan dari wanita yang dipanggil Mama itu membuatnya merasa aman.

Keesokan harinya kabar bahwa Freya sudah sadar langsung menyebar ke sekolah.

Flora yang baru saja mendengar berita itu langsung berlari ke rumah sakit sepulang sekolah.

Saat tiba di kamar rawat inap, ia membuka pintu dengan wajah penuh harapan.

"Freya!"

Freya yang sedang duduk di tempat tidur menoleh.

Mata mereka bertemu.

Flora langsung menghampiri.

"Ya ampun, akhirnya kamu bangun!"

Namun beberapa detik kemudian senyum Flora perlahan menghilang.

Karena Freya hanya menatapnya dengan bingung.

"Kamu... siapa?"

Hati Flora langsung terasa jatuh.

"Freya..."

"Apa kita kenal?"

Flora terdiam.

Rasanya jauh lebih sakit daripada yang ia bayangkan.

Meskipun sudah diberi tahu oleh Chika sebelumnya, mendengar langsung pertanyaan itu membuat dadanya sesak.

"Aku Flora."

Freya mengulang nama itu pelan.

"Flora..."

Lagi-lagi nama itu terasa familiar.

Namun wajah gadis di depannya tetap tidak bisa ia kenali.

Flora memaksakan senyum.

"Aku teman kamu."

Freya tersenyum kecil.

"Maaf ya. Aku nggak ingat."

"Gapapa Fre."

Walaupun berkata demikian, mata Flora mulai berkaca-kaca.

Untungnya Freya tidak menyadarinya.

Sepanjang sore Flora mencoba menceritakan berbagai hal tentang sekolah.

Tentang kelas mereka.

Tentang guru-guru.

Tentang teman-teman.

Namun Freya hanya mendengarkan seperti orang asing yang sedang mendengar cerita orang lain.

To be continued...

Yang bintang² nya di pencet masuk surga, aamin

Freya nya Flora Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang