Happy reading all
Seminggu kemudian kondisi Freya semakin membaik.
Ia sudah bisa berjalan perlahan di koridor rumah sakit dan berbicara dengan normal.
Namun ingatannya belum banyak kembali.
Setiap hari Chika membawa album foto keluarga.
Foto masa kecil Freya.
Foto ulang tahun.
Foto saat liburan.
Freya melihat semuanya satu per satu.
Tetapi tidak ada satu pun yang memicu ingatannya.
Sampai suatu sore.
Flora datang membawa sebuah kotak kecil.
"Aku bawain sesuatu."
Freya yang sedang duduk di tempat tidur menatap penasaran.
"Apa itu?"
Flora meletakkan kotak tersebut di pangkuannya.
"Buka aja."
Freya membuka perlahan.
Di dalamnya terdapat gantungan kunci berbentuk bintang berwarna biru.
Begitu melihat benda itu, Freya langsung membeku.
Kepalanya mendadak terasa nyeri.
Sangat nyeri.
"Freya?" panggil Flora khawatir.
Tiba-tiba sebuah suara muncul di kepalanya.
"Kalau kita pisah kelas nanti, gantungan ini tetap kamu simpan ya!"
Suara seorang gadis.
Terdengar sangat jelas.
Freya langsung memegang kepalanya.
"Akh!"
Chika yang kebetulan baru masuk kamar langsung panik.
"Freya!"
Potongan gambar mulai bermunculan.
Lapangan sekolah.
Koridor.
Tawa seseorang.
Dan...
Flora.
"Flora..." bisik Freya.
Mata Flora langsung membesar.
"Apa?"
Air mata tiba-tiba mengalir dari mata Freya.
Ia melihat bayangan dirinya dan Flora sedang duduk bersama di bawah pohon sekolah.
Mengerjakan tugas.
Tertawa.
Bertengkar hal kecil.
Lalu tertawa lagi.
"Flora..." suaranya bergetar.
Flora langsung berdiri.
"Kamu ingat?"
Freya menatapnya lama.
Masih banyak bagian yang kosong.
Masih banyak yang hilang.
Tetapi untuk pertama kalinya sejak sadar, ada satu kenangan yang berhasil kembali.
"Flora..." katanya lagi sambil menangis.
"Kamu sahabat aku..."
Tangis Flora langsung pecah.
"Iya! Iya Freya!"
