Setelah kejadian malam itu, semua orang kembali seperti normal namun dalam pikiran dan hati mereka masih memikirkan jika keputusan mereka di masa lalu begitu bodoh dan tidak memikirkan akan kedepannya. Keputusan yang dibuat terburu-buru karena keegoisan masing-masing, keputusan yang bisa merenggut nyawa dan hidup seseorang.
Beberapa bulan kemudian, Minjeong memilih untuk menjauh dari semua orang untuk bisa mencerna semua hal yang terjadi sebelumnya. Semua kejadian itu terasa seperti mimpi buruk seakan ia tidak bisa mempercayainya. jika keluarga yang di percaya, orang yang terlihat begitu baik , bisa membuat keputusan begitu kejam.
Malam itu membuat Minjeong cukup yakin jika setiap orang memiliki sisi buruknya yang lebih buruk dari seorang pembohong. Keegoisan yang terlihat sepele ternyata bisa berdampak segitu besarnya kepada seseorang sampai mengakhiri hidupnya sendiri.
Minjeong cukup terpukul mendengar kenyataan bahwa keluarga nya menyembunyikan semua hal ini. dirinya juga merasa kasihan dengan Limario, membayangkan jika dirinya adalah Limario yang harus menanggung semua seorang diri tanpa siapapun yang bisa menolongnya ketika dirinya jatuh.
"sebenarnya untuk apa semua ini...."
semua hal itu yang masih terngiang di pikirannya, Minjeong belajar jika perasaan kasih sayang bisa seperti sebuah belati bermata dua. satu sisi begitu membahagiakan namun sisi lain bisa merenggut hidup seseorang. dirinya tidak sepenuhnya membenci keluarga nya namun untuk saat ini lebih baik jika dia menjauh. setidaknya Minjeong bisa menenangkan diri dari semua yang terjadi pada hidupnya.
Tok..Tok...
"Minjeong... ini aku"
ucap seorang wanita dengan nada lembut mengetuk pintu apartemen Minjeong.
Minjeong dengan langkah santai menunju ke arah suara dan membuka perlahan pintu apartemen nya. ketika pintu terbuka dirinya cukup terkejut karena tidak menyangka di hadapannnya saat ini adalah kekasihnya yang sangat dia rindukan.
"karina?darimana kamu tau apartemen ku?" ucap Minjeong dengan wajah penuh pertanyaan sekaligus rasa rindu.
tanpa berkata apapun Karina segera berlari ke pelukan Minjeong dan memeluk Minjeong dengan sangat erat.
"kamu sangat bodoh!!" ucap karina dengan suara terisak sambil memukul dada bidang Minjeong dengan lembut.
"kenapa kamu menghilang selama itu? kenapa harus kamu membawa semua beban itu sendirian?! apa kamu pikir aku selemah itu? aku bisa sekuat dirimu,dasar keras kepala" ucap Karina lagi.
Minjeong hanya terdiam tanpa berkata sekalipun dan hanya mendengarkan semua isakan sekaligus amarah kekasihnya yang bawel itu dalam pelukannya. Minjeong hanya tersenyum setiap kali Karina memarahinya, karena Minjeong tahu jika Karina seperti ini karena begitu menyayanginya.
Perlahan kedua tangan Minjeong pun terangkat dan membalas pelukan Karina dengan erat. Dirinya membenamkan wajahnya di rambut kekasihnya yang harum, seolah untuk pertama kalinya setelah sekian lama dirinya bisa kembali merasakan rasa aman.
"Maaf..."
Ucap Minjeong dengan suara pelan.
Karina yang masih berada di dalam pelukannya langsung terdiam mendengar perkataan tersebut.
"Maaf karena aku pergi tanpa memberitahumu... Maaf karena aku membuatmu khawatir."
Minjeong menarik nafas panjang sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya.
"Aku hanya... tidak tau harus bagaimana."
Karina perlahan melepaskan pelukannya lalu menatap wajah Minjeong. Mata gadis itu masih terlihat sembab karena menangis.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEQUEL FROM LUCKY : Destiny
RomanceDestiny "Bagi Minjeong, hidup adalah tentang menjaga jarak agar hatinya tetap membeku-seperti salju yang tenang. Namun, kehadirannya yang tak terduga, Karina, perlahan mulai mencairkan dinding es yang ia bangun dengan susah payah. Di saat Minjeong m...
