Fall For You (15)

8.3K 605 136
                                        

"ARGHHT! SEHUN-AH!"

Dia kembali mengerutkan dahi, kali ini lebih dalam. Dadanya berkecamuk aneh saat mendengarnya. Dia merasakan sakit yang menusuk dadanya saat kembali mengulang rintihan Luhan yang terasa lengket di memorinya seperti dia menghapal namanya sendiri luar kepala. Lagipula, mengapa Luhan harus menggeram begitu keras dan justru memanggil namanya? Apa Luhan sedang-oh, pikiran mesum itu tidak seharusnya muncul dalam otak Sehun. Luhan sedang mengambek. Mereka saling mengabaikan! Dan tidak mungkin jika tiba-tiba saja Luhan meminta olahraga ranjang.

Dengan pikiran yang berlarian entah ke mana (sebagian besar adalah pikiran cabul), Sehun berjalan cepat menuju lantai atas. Dia memegang daun pintu dan membukanya. Matanya tidak mendapati Luhan di atas ranjang. Kecoak maupun tikus tidak terlihat. Koper Luhan juga masih terbuka, hanya saja isi baju-bajunya sudah terlipat rapi di dalam sana.

"Hun!"

Sehun tersentak dan menengok ke arah kiri, kamar mandi mereka. Matanya membulat kaget melihat Luhan terduduk di ambang pintu sambil memegangi perut bagian bawahnya. Kepala dan bahu istrinya menyandar di bingkai pintu.

Sehun tidak tega melihat wajah Luhan yang begitu memerah. Bisa dia lihat keringat yang membasahi pelipis hingga leher istrinya.

Dia berjalan mendekat. Kepalanya kini mulai terasa pening karena terlalu keras berpikir tentang apa penyebab Luhan mencengkram perutnya sendiri dengan begitu kuat. Sehun kehilangan akal ketika melihat cairan merah yang membasahi celana putih Luhan. Betisnya juga terlumuri oleh cairan pekat tersebut, dan Sehun anggap itu adalah-darah.

"Sakit-sungguh!"

Dia kini berlari ke arah Luhan saat air mata mengalir dari kedua sudut mata rusanya. Dia cemas melihat Luhan menangis, jujur saja. Kakinya berjongkok dan tangannya meraih bahu Luhan, menatap cemas bibir pucat istrinya.

"Sakit? Bagian mana yang sakit?! Ini... darah, 'kan?!"

Luhan menutup matanya sesaat dengan erat. Jemarinya yang mungil bergerak gelisah meremas dan mencengkram perutnya. Ia mengangguk lemah, tanda membenarkan pertanyaan Sehun bahwa cairan pekat berwarna merah itu memang benar darah. Jemarinya yang mulai terkotori darah beralih ke kemeja Sehun dan merematnya ujungnya kuat-kuat.

"Di bagian perutku!"

.

.

Sehun kalang kabut membawa Luhan ke rumah sakit. Dia menahan mualannya. Aroma amis dan menyengat hidung karena darah yang terus mengucur dari... dari mana Sehun juga tidak tahu pasti. Yang ia tahu darah itu terus mengalir pelan di antara kedua paha, selangkangannya, nyaris membuatnya muntah di tengah perjalanan seolah aroma itu ingin mengalahi aroma dari pengharum mobil Lavender mereka.

Acara membolos dari kuliah menjadi tidak mengenakkan seperti ini adalah sebuah pelajaran baginya. Ditambah lagi dengan Luhan yang meringis sepanjang perjalanan membuat telinganya gatal antara cemas dan kesal. Dia membolos juga karena ingin menjaga Luhan terlebih dahulu, sama seperti pesan Dokter Yifan. Tidak lebih.

Mereka sampai di rumah sakit Internasional yang berkedudukan di Seoul lima jam yang lalu. Luhan terpeleset saat hendak keluar dari dalam kamar mandi. Ia merasakan nyeri yang menusuk di dalam perut bagian bawah saat pantatnya membentur lantai dingin di depan kamar mandi. Luhan sendiri yang menceritakannya dengan jelas.

Terpeleset tidak selalu menebar tawa seperti yang sering kau tertawakan, bukan?

Dirinya mengalami pendarahan hebat. Dokter tersebut yang berkata.

Tertawalah jika kau bisa.

Dengan sorotan matanya yang tajam, dia menoleh pada Luhan di sebelah kanan dan matanya memicing semakin tajam.

Fall For YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang