Chapter 6

1.2K 52 19
                                        

Jodha berlari meninggalkan mereka. Di dalam kamar mandi dia tumpahkan semuanya. Dia menangis tak bersuara. air mata menjadi saksi bagaimana dia sangat tersakiti hari ini. Tak banyak yang tahu jika dia telah menangis kecuali Salman.

Yah, sepeninggalnya Jodha, salman pun meminta ijin untuk ke toilet. tak disangka dia menunggu Jodha. Tepat ketika pintu itu terbuka Jodha terperanjat. Salman berdiri di depan Jodha dan menariknya di tempat yang tak banyak orang melihatnya. Jodha menghempaskan tangan itu dengan mata merah menahan amarahnya.

" Jodha"

PLAKK

Salman terdiam dan menunduk " Maaf aku.."

PLAKK

" Jodha?"

Jodha hendak mengangkat tangannya lagi tapi salman menahannya. Tak ada kata yang Jodha ucapkan. Dia memandang salman dengan tatapan benci.

" Maafkan aku telah mengkhianati mu"

" Tinggalkan Ruqaiyah. aku tak mau kau melukainya sama seperti kau melukai ku."

Salman terdiam. Dia melepaskan tangan Jodha dan menunduk

" aku tidak bisa meninggalkannya, Dia... Dia mengandung anak ku"

ucapan Salman bak sambaran petir untuk Jodha. Dia terperangah tak percaya

BUKK

Salman terhuyung karena sebuah pukulan di pipi nya. Jodha menoleh ke arah pelaku dan itu tak lain adalah Jalal.

Jalal berjalan mencoba untuk meraih leher Salman tapi jodha mencegahnya.

" Dia ayah dari anak yang dikandung adikmu, Sadarlah" Ucap Jodha mencoba menghentikan Jalal.

Jalal menatapnya " kau tak pantas bersanding dengan adik ku, kau telah merusaknya, KAU MENGHANCURKAKNYA, BRENGSEK! Jalal menghempaskan Salman ke lantai dan pergi meninggalkan mereka.

Sekuat tenaga Jodha menahan tangisnya demi sahabatnya yang kini tengah tersenyum ceria ketika Jodha mengambil ukuran tubuhnya.

" Kau janji buatkan aku gaun yang bagus ya" oceh Ruqaiyah.

Jodha tersenyum " Aku janji akan membuatkan gaun yang cantik untuk mu dan Jas yang gagah untuk calon suami mu" Ucap Jodha sambil melirik Salman yang tengah menatapnya dengan perasaan menyesal.

" Kau sahabat ku satu-satunya yang paling baik" Ruqaiyah memeluk Jodha. Jodha hampir saja mengeluarkan air mata tapi lagi - lagi dia menahannya.

Selepas dari pertemuan itu Jodha seakan tak tau arah tujuan dia. pikirannya kosong sepanjang perjalanan pulang. hingga dia harus turun di stasiun terakhir.

" Hmm aku ini dimana ya?" runtuk Jodha. dia melihat jam Di hp nya dan baru tersadar jika sudah jam 01:00, pantas saja tak ada seorang pun di stasiun itu. Jodha duduk di salah satu ruang tunggu. dia menangkupkan kedua tangannya menutupi wajahnya. Tiba - Tiba Jodha dikejutkan suara hp nya.

" Hallo"

" Kau dimana?" Tanya orang itu. Jodha mengernyitkan alis dan kembali memandang hpnya. tertulis nama BOS disana.

" Ah, aku di stasiun terakhir dan tak ada kereta yang akan balik ke roma sepertinya. jadi mungkin aku menginap di sini" ucap Jodha

" Tunggu aku di pintu depan" Ucap Jalal singkat.

Jodha menuruti perkataan jalal. Dia menunggu di depan pintu stasiun, tak lama Jalal datang dan menyuruhnya masuk. Jalal melajukan mobilnya ketika Jodha sudah duduk dan memasang sabuk pengaman. Jalal melewati jalan menuju ke apartemen Jodha.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 10, 2016 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ONLINETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang